Cerita Bos BRI yang Sukses Jadi Tokoh Kunci Merger Bank Besar
Dailynesia.com – Dalam acara Entrepreneur Talks di Jogja Financial Festival 2026, Sabtu (23/5/2026), Hery Gunardi, yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, menceritakan perjalanan karirnya. Ia mengakui bahwa pengalaman dalam proses merger perbankan besar telah membentuk identitasnya sebagai tokoh utama di bidang tersebut.
Awal karier Hery dimulai di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) pada tahun 1998-1999. Saat itu, bank tersebut tergabung dalam merger yang membentuk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Proses penggabungan melibatkan empat institusi, yakni Bapindo, Bumi Daya, Eksim, dan Bank BDN. Hery mengungkapkan, ia secara tak terduga dimasukkan ke dalam tim merger yang bekerja langsung membangun sistem dan memperkuat branding baru.
Menjadi Anggota Tim Muda dalam Proses Transformasi
Saat merger berlangsung, Hery menilai dirinya termasuk anggota tim yang paling muda. “Saya adalah orang yang masuk di core teamnya, membantu zaman dulu adalah Pak Roby Johan sama Pak Agus juga,” jelasnya. Ia mengakui tantangan dalam merger itu tidak ringan, terutama karena sejumlah rekan kerja memilih jalur karier lain.
“Nah, kebetulan ya saya dulu dari Bapindo. Tapi mungkin garis tangan, pada saat merger 1998-1999 itu, saya nggak ngerti kenapa atasan saya, direksi saya, menugaskan saya untuk menjadi tim merger,”
Dengan ketekunan, Hery berhasil menguasai proses akuisisi dan merger. Ia menyebutkan, meski banyak teman yang meninggalkan bidang merger, dirinya memutuskan untuk tetap bertahan. “Kalau kapalnya karam ya, nanti karam kita baru kita loncat,” ujarnya. Pendekatan ini membuahkan hasil, sehingga ia naik jabatan menjadi direktur.
Karir Berlanjut dengan Peran di Bank Syariah
Berhasil dalam merger, Hery kembali dipercaya memimpin tim merger di Bank Syariah Indonesia (BSI). Peran tersebut melibatkan tiga bank syariah milik negara, yaitu PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah. Pengalaman ini menjadi fondasi kuat untuk kemudian ditugaskan menjadi Direktur Utama BRI.
Menurut Hery, BRI memerlukan transformasi yang lebih besar dari sekadar merger. “BRI ini butuh bukan merger, tapi butuh transformasi,” terangnya. Ia menjelaskan bahwa bank ini adalah kapal induk besar yang berkontribusi besar bagi negara, termasuk sebagai penyetor dividen terbesar dan pembayar pajak utama di antara BUMN.
“Nah tugas saya adalah gimana membawa BRI menjadi bank yang modern, tetap fokus ke UMKM, tapi bank ini adalah menjadi bank yang bisa memberikan kontribusi yang lebih besar lagi kepada negara, seperti itu,”

