Riset Menunjukkan Gen Z Paling Siap Pakai AI, Tapi…

3 months ago  ·  4 min read
By David Williams - dailynesia.com
e197da55-3eb4-430c-a622-09d441bf518f-0

Riset Menunjukkan Gen Z Paling Siap Pakai AI, Tapi…

Kemampuan AI dan Problem-Solving di Kalangan Pekerja Muda

Dailynesia.com – Riset terbaru yang dilakukan oleh Deloitte, dalam survei “Deloitte 2026 Gen Z and Millennial Survey,” mengungkap bahwa Generasi Z (Gen Z) dan milenial di Indonesia menunjukkan kesiapan yang lebih baik dalam mengadopsi kecerdasan buatan dibandingkan generasi lain. Survei ini melibatkan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara, termasuk lebih dari 500 peserta dari Indonesia. Hasil menunjukkan bahwa 87% Gen Z dan 88% milenial sudah mengintegrasikan AI ke dalam aktivitas kerja mereka, angka yang jauh lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 74%. Hal ini menunjukkan bahwa problem-solving melalui teknologi AI menjadi bagian integral dari kehidupan profesional mereka.

Gen Z dan milenial tidak hanya menggunakan AI untuk tugas teknis, tetapi juga menggali potensi teknologi tersebut untuk meningkatkan efisiensi dan kemampuan problem-solving. Misalnya, mereka sering memanfaatkan alat AI dalam menemukan solusi untuk tugas administratif, mengoptimalkan pengambilan keputusan, hingga mengelola tekanan kerja. Namun, ada tantangan terkait pelatihan yang diberikan perusahaan. Sebanyak 83% Gen Z mengatakan bahwa kurangnya pelatihan teknis menghambat kemampuan mereka dalam mengaplikasikan AI secara maksimal.

“Pekerja muda Indonesia memiliki perhatian lebih besar terhadap AI dibandingkan generasi sebelumnya, terutama dalam menghadapi tantangan problem-solving di era digital,” ujar Andika Yalasena, Organization & Transformation Director Deloitte Indonesia dalam keterangan resmi.

Kemampuan problem-solving yang tinggi pada Gen Z menunjukkan bahwa mereka lebih siap menerima perubahan dan inovasi. Deloitte menekankan bahwa antusiasme ini bisa menjadi keunggulan kompetitif bagi Indonesia di masa depan, terutama jika perusahaan memperkuat pendekatan pelatihan berbasis AI. “Kehadiran teknologi ini mempercepat kemampuan problem-solving generasi muda, tetapi juga memerlukan strategi pengembangan yang konsisten,” tambahnya.

Nilai Karier dan Keseimbangan Hidup

Riset ini juga mengungkap bahwa problem-solving dalam konteks karier menjadi faktor penting bagi Gen Z dan milenial. Sebanyak 99% Gen Z serta 100% milenial mengatakan bahwa pekerjaan yang bermakna sangat berpengaruh terhadap kepuasan mereka. Bahkan, 44% Gen Z dan 38% milenial pernah menolak tugas yang dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai pribadi. Kebutuhan untuk menyelesaikan masalah sehari-hari terkadang mendorong mereka mengambil langkah yang lebih kreatif dan berorientasi solusi.

Di sisi lain, Gen Z dan milenial lebih memprioritaskan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. 85% Gen Z dan 81% milenial mengungkapkan minat untuk menduduki posisi kepemimpinan, tetapi hanya 3% dan 2% yang menganggap kepemimpinan sebagai tujuan karier utama. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak ingin menduduki peran kepemimpinan secara terburu-buru, melainkan menunggu kesempatan yang tepat untuk mengaplikasikan kemampuan problem-solving secara optimal.

Kekhawatiran Sosial dan Ekonomi

Meskipun Gen Z dan milenial menunjukkan adaptasi yang cepat terhadap AI, mereka tetap memiliki kekhawatiran terkait isu sosial dan ekonomi. Korupsi dianggap sebagai ancaman utama oleh kedua kelompok ini, dengan 34% Gen Z dan 41% milenial menyebutnya sebagai masalah utama yang harus diselesaikan. Perubahan iklim dan isu lingkungan juga menjadi perhatian, terutama di kalangan milenial yang lebih peduli pada dampak jangka panjang.

Dalam konteks ekonomi, tekanan harga dan inflasi berdampak signifikan terhadap pengambilan keputusan karier. 54% Gen Z dan 43% milenial mengatakan bahwa mereka terpaksa menunda rencana besar, seperti menikah atau memulai usaha, karena kondisi keuangan yang tidak stabil. Masalah keterjangkauan hunian juga menjadi salah satu faktor kritis, dengan 74% Gen Z dan 64% milenial menganggapnya sebagai hambatan utama dalam menyelesaikan tantangan ekonomi sehari-hari.

Potensi dan Tantangan di Masa Depan

Deloitte menyoroti bahwa Gen Z dan milenial di Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin transformasi digital. Mereka lebih terbuka terhadap teknologi, sehingga kemampuan problem-solving berbasis AI dapat menjadi alat utama dalam menghadapi perubahan. Namun, ada tantangan terkait kurangnya infrastruktur dan akses ke sumber daya pendukung.

Untuk memastikan kemampuan problem-solving mereka berkembang optimal, Deloitte menyarankan perusahaan memberikan pelatihan yang menyeluruh. “Tantangan terbesar adalah ketidakseimbangan antara kemampuan teknis dan kebutuhan karier mereka,” kata Andika Yalasena. Ia menekankan bahwa investasi dalam pendidikan dan pelatihan AI bisa menjadi kunci untuk menjaga kompetitivitas generasi muda di pasar kerja global.

Perbandingan Global dan Kesimpulan

Kemampuan problem-solving Gen Z dan milenial di Indonesia menempatkan mereka di atas rata-rata global. Jika dilihat dari hasil survei, 87% Gen Z dan 88% milenial sudah mampu menggunakan AI dalam menyelesaikan tugas pekerjaan, sedangkan tingkat global hanya mencapai 74%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat untuk memperkuat keterampilan digital.

Dari seluruh hasil riset, jelas bahwa Gen Z dan milenial tidak hanya tertarik dengan teknologi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan ekonomi dalam menyelesaikan masalah. Mereka ingin menggabungkan kemampuan problem-solving dengan nilai-nilai keberlanjutan, sehingga mampu menyeimbangkan antara inovasi dan tanggung jawab sosial. “Kita perlu memastikan bahwa perusahaan tidak hanya menghargai kemampuan teknis, tetapi juga komitmen mereka dalam memecahkan masalah yang lebih luas,” tutup Andika Yalasena.

MORE FROM THIS CATEGORY