Gen Z Kejar Quick Money, OJK Wanti-wanti Bahaya Judol & Pinjol
Dailynesia.com – Dalam bursa keuangan yang semakin dinamis, Main Agenda menjadi isu utama yang sering dibahas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan peringatan penting tentang cara Gen Z mengelola keuangan, terutama dalam menghadapi tawaran quick money. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, atau akrab disapa Kiki, mengatakan bahwa generasi muda Indonesia kini terlibat dalam kebiasaan konsumsi yang cepat dan boros, seperti judi online dan pinjaman online (pinjol). Ia menekankan bahwa Main Agenda ini mengandung risiko yang perlu diperhatikan oleh masyarakat.
Anak Muda dan Fenomena Quick Money
Ketika berkunjung ke Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026), Friderica mengungkapkan bahwa banyak pemuda terpikat oleh konsep quick money. Fenomena ini didukung oleh tren sosial yang membuat Gen Z ingin mengejar kesuksesan secara instan, terlepas dari kondisi keuangan yang sebenarnya. “Main Agenda mereka adalah memiliki uang tunai segera, meski harus mengorbankan kestabilan finansial jangka panjang,” tambahnya.
“FOMO, FOPO, dan YOLO memang bukan hal baru, tapi pengaruhnya terhadap perilaku ekonomi Gen Z sangat nyata. Banyak yang merasa tidak tenang jika tidak bisa membeli barang terbaru atau mengikuti kegiatan sosial yang sedang viral. Mereka cenderung mengambil langkah berisiko tanpa mempertimbangkan kemampuan keuangan,” ujar Friderica.
OJK juga menyoroti bahwa kebiasaan ini sering terjadi karena penggunaan media sosial yang intens. Gen Z terbiasa melihat orang lain berkecukupan dan langsung ingin mengikuti. Friderica mengingatkan bahwa main agenda quick money bisa mengarah pada kebiasaan judol (judi online) yang berpotensi menguras tabungan mereka dalam waktu singkat.
Pengaruh Digitalisasi pada Gaya Hidup Gen Z
Digitalisasi berperan besar dalam membentuk cara Gen Z mengatur uang. Aplikasi pinjaman online yang mudah diakses membuat mereka bisa mendapatkan dana dalam hitungan menit, meski biaya bunga bisa sangat tinggi. Friderica menjelaskan bahwa Main Agenda ini sebenarnya memudahkan transaksi, tetapi juga meningkatkan akses ke risiko finansial.
“Main Agenda digitalisasi membuat anak muda lebih terbiasa mengandalkan teknologi. Namun, mereka sering lupa bahwa setiap transaksi online memiliki dampak jangka panjang. Jika tidak disiplin, kebiasaan mengambil pinjaman bisa berubah menjadi kebiasaan boros,” tegasnya.
Menurut Friderica, keinginan untuk mencapai financial independence retire early (FIRE) juga mendorong Gen Z mengambil keputusan keuangan yang tidak terencana. Ia menekankan bahwa kesadaran literasi keuangan menjadi kunci untuk menghindari kesalahan dalam mengejar quick money.
Gen Z sebagai Penggerak Pasar Keuangan
Friderica menambahkan bahwa Gen Z kini menjadi kekuatan utama dalam pasar keuangan Indonesia. Dengan digitalisasi, mereka lebih cepat merespons tren investasi dan keuangan. “Main Agenda ini menciptakan perubahan signifikan dalam cara masyarakat mengakses dan mengelola dana,” jelasnya.
“Di era sebelumnya, sukses di pasar modal memerlukan waktu dan pengetahuan. Kini, Gen Z bisa mengakses informasi secara langsung melalui platform digital, sehingga keberanian mereka dalam berinvestasi meningkat. Namun, kesadaran akan risiko tetap diperlukan agar Main Agenda ini tidak mengarah pada kesalahan besar,” katanya.
Data dari OJK menunjukkan bahwa sekitar 54% dari 27 juta investor pasar modal di Indonesia adalah generasi muda. Fenomena ini mengisyaratkan bahwa Gen Z memegang peran penting dalam perkembangan sektor keuangan. Namun, Friderica mengingatkan bahwa kecenderungan mereka untuk mengambil keputusan finansial impulsif perlu diimbangi dengan pendidikan yang memadai.
Kebutuhan Literasi Keuangan untuk Semua Kalangan
Friderica menekankan bahwa literasi keuangan bukan hanya penting bagi mereka yang bekerja di bidang ekonomi. Main Agenda ini menuntut kesadaran masyarakat secara umum, termasuk pekerjaan non-keuangan seperti tentara, seniman, atau guru. “Mengelola keuangan dengan baik adalah keterampilan yang dibutuhkan di semua profesi,” jelasnya.
“Anak-anak muda sering tergoda oleh main agenda cepat kaya, tetapi mereka perlu memahami bahwa semua jalan kekayaan memiliki risiko. Keterampilan mengelola uang harus diajarkan sejak dini, agar mereka bisa menghindari kebiasaan judol dan pinjol yang berisiko tinggi,” tegas Friderica.
Dalam upayanya untuk meningkatkan literasi keuangan, OJK menggencarkan kampanye edukasi di berbagai lapisan masyarakat. Friderica berharap dengan meningkatkan kesadaran akan risiko finansial, Gen Z bisa menjalani Main Agenda keuangan yang lebih bijak dan bertanggung jawab.

