Bos LPS Ungkap Jurus Hindari Spekulasi Saat Berinvestasi

3 months ago  ·  2 min read
By James Lopez - dailynesia.com
1d9481b5-6dd1-436e-b088-5a66777ba701-0

Bos LPS Ungkap Jurus Hindari Spekulasi Saat Berinvestasi

Kebutuhan Literasi Keuangan di Tengah Perkembangan Teknologi

Dailynesia.com – Dalam acara Jogjakarta Financial Festival yang diadakan di Jogja Expo Centre (JEC), Jumat (21/5/2026), Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menyoroti pentingnya peningkatan kesadaran keuangan. Menurutnya, kecepatan perubahan teknologi dan meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi membutuhkan pendidikan yang lebih intensif agar optimisme tidak berubah menjadi tindakan spekulatif.

“Ini sinyal positif. Tetapi optimisme tanpa literasi dapat berubah menjadi spekulasi,” ujar Anggito.

Anggito menegaskan bahwa semakin banyak generasi muda, termasuk mahasiswa dan pelajar, terlibat dalam berbagai instrumen investasi seperti saham, obligasi ritel, fintech, kripto, serta aset digital. Ia menyebut pertumbuhan investasi ritel di Indonesia terus meningkat setiap tahun, dengan partisipasi usia muda yang semakin dominan.

Pertumbuhan Investasi Ritel dan Peran Generasi Muda

Dalam pidatonya, Anggito menjelaskan bahwa keberhasilan pertumbuhan investasi tergantung pada pemahaman masyarakat tentang risiko. Ia menekankan perlunya edukasi keuangan berjalan lebih cepat dari kecepatan gairah pasar saat ini.

“Edukasi harus lebih cepat berkembang daripada euforia pasar,” tambah Anggito.

Dia juga mengungkap paradoks yang terjadi di sektor keuangan Indonesia. “Kita sedang memasuki era ketika uang bergerak lebih cepat daripada pemahaman manusia tentang risiko keuangan itu sendiri,” terangnya.

Perkembangan Teknologi dan Tantangan Literasi

Anggito menjelaskan bahwa artificial intelligence (AI) mulai menggantikan berbagai model bisnis tradisional. Transaksi keuangan digital yang semakin pesat memungkinkan proses dalam hitungan detik. Meski produk investasi terus berkembang dan memberikan manfaat, daya tahan literasi keuangan masih tertinggal.

“Namun pada saat yang sama daya tahan literasi belum tumbuh secepat perkembangan industrinya. Inilah paradoks sektor keuangan Indonesia hari ini,” kata Anggito.

MORE FROM THIS CATEGORY