Main Agenda: LPS Siap Bangun Kantor Sendiri, Dua Tahun Lagi Rampung

3 months ago  ·  3 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
ketua-dewan-komisioner-lembaga-penjamin-simpanan-lps-anggito-abimanyu-menyampaikan-pemaparan-saat-konferensi-pers-hasil-rapat-1778148944098_169

Main Agenda: Langkah Strategis LPS dalam Membangun Kantor Sendiri

Dailynesia.com – Dalam sidang dengar pendapat dengan Komisi XI DPR RI Jakarta pada Selasa, 19 Mei 2026, Anggito, ketua dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), memaparkan main agenda terkini, yaitu rencana pembangunan kantor pusat yang akan menjadi milik sepenuhnya lembaga tersebut. Main agenda ini bertujuan untuk memperkuat struktur organisasi dan meningkatkan efisiensi operasional LPS, yang hingga kini masih menggunakan ruangan bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), serta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Dalam paparannya, Anggito menyebutkan bahwa proyek ini sudah mendapat persetujuan dan akan selesai dalam dua tahun ke depan, menandai main agenda yang menjadi prioritas utama LPS dalam masa kepemimpinannya.

Proyek Kantor Pusat LPS: Tahapan dan Kesiapan

Menurut Anggito, main agenda pembangunan kantor sendiri mencakup beberapa tahapan krusial, termasuk pemilihan lokasi yang strategis, finalisasi desain, dan koordinasi dengan pihak terkait. Ia menjelaskan bahwa saat ini, LPS sedang menyelesaikan proses penelitian lokasi, dengan harapan bisa menemukan tempat yang memadai untuk mendukung pertumbuhan lembaga. “Kantor yang sedang digunakan saat ini sudah tidak lagi memadai, terutama untuk menghadapi tuntutan kebutuhan layanan yang semakin kompleks,” tambahnya. Dengan main agenda ini, LPS berupaya menjadi lebih independen dalam menjalankan tugas penjaminan simpanan, yang menjadi fungsi utamanya sebagai lembaga pemerintah non-struktural.

Proyek kantor baru LPS juga menjadi bagian dari main agenda untuk meningkatkan kapasitas pelayanan kepada masyarakat. Anggito menekankan bahwa lokasi kantor akan dipilih berdasarkan pertimbangan aksesibilitas, fasilitas, serta kemampuan untuk menampung aktivitas operasional yang semakin meningkat. “Kami ingin memastikan kantor yang dibangun bisa menjadi pusat kegiatan utama yang mampu menjawab tantangan sektor keuangan di masa depan,” ujarnya. Selain itu, main agenda ini juga diharapkan dapat mendukung konsistensi dalam menjalankan fungsi penjamin simpanan, yang kini menjadi penopang kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan Indonesia.

Kantor Perwakilan LPS: Membuka Wilayah Baru di Jakarta

Selain kantor pusat, main agenda LPS juga mencakup rencana pembangunan kantor perwakilan di Jakarta, sebagai langkah untuk memperkuat koordinasi di daerah-daerah yang berkembang pesat. Anggito menjelaskan bahwa kantor perwakilan ini akan membantu distribusi tugas dan fungsi operasional di wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). “Koordinasi yang ada saat ini masih bergantung pada pusat, sehingga dengan adanya kantor perwakilan, kami bisa lebih responsif dalam mengatasi masalah keuangan yang muncul di daerah-daerah tersebut,” katanya. Ini adalah bagian dari main agenda LPS untuk memperluas jangkauan layanan dan memastikan keseragaman dalam pengelolaan penjaminan simpanan.

Kantor perwakilan LPS saat ini hanya berada di Kota Medan, Makassar, dan Surabaya, menurut Anggito. Main agenda pembukaan kantor baru di Jakarta diharapkan bisa meningkatkan kehadiran LPS di pusat perekonomian nasional, sekaligus memberikan contoh terkini dari upaya transformasi yang sedang dijalankan. “Jumlah BPR yang terus bertambah di berbagai daerah menjadi alasan penting mengapa kami perlu memperluas jaringan kantor,” tambahnya. Selain itu, main agenda ini juga mencakup persiapan fasilitas pendukung seperti pusat data, ruang rapat, dan sistem informasi yang lebih modern untuk menunjang efektivitas tugas LPS.

Dalam beberapa tahun terakhir, main agenda LPS terus berkembang seiring peran pentingnya dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Anggito menyebutkan bahwa kantor sendiri menjadi simbol keberadaan lembaga tersebut sebagai mitra kritis pemerintah dalam pemberdayaan perbankan rakyat. “Dengan kantor yang mandiri, kami bisa lebih fokus dalam menjalankan main agenda penjaminan simpanan, terutama dalam menghadapi ancaman krisis finansial yang mungkin terjadi,” jelasnya. Proyek ini juga menjadi refleksi dari main agenda reformasi sektor keuangan yang diusung pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Komentar Anggito selama sidang dengar pendapat menggarisbawahi pentingnya main agenda pembangunan kantor sebagai bagian dari strategi jangka panjang LPS. “Kami memandang bahwa kantor yang mandiri akan memberikan dampak besar dalam meningkatkan efektivitas, transparansi, dan kepercayaan publik,” ujarnya. Main agenda ini juga diharapkan menjadi referensi bagi lembaga keuangan lainnya dalam membangun infrastruktur yang mendukung keberlanjutan operasional. “Kami berkomitmen untuk menyelesaikan main agenda ini tepat waktu, sehingga bisa segera dimanfaatkan untuk melayani masyarakat sekitar,” tutup Anggito. Dengan perencanaan yang matang, proyek kantor baru dan perwakilan LPS akan menjadi kebanggaan baru dalam kebijakan keuangan Indonesia.

MORE FROM THIS CATEGORY