Minyak Sulit Balik ke US$60, Ashmore Asset Management Soroti Faktor Ini!
Dailynesia.com – Dalam upaya memahami dinamika pasar energi, Ashmore Asset Management menyoroti tantangan yang dihadapi harga minyak dalam kembali ke level US$60. Di tengah seminar yang digelar di Jakarta, Arief Wana, Managing Director PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk, menegaskan bahwa kestabilan harga minyak menjadi kompleks akibat fluktuasi situasi geopolitik global. Fokus utama dalam diskusi ini adalah menilai bagaimana ketidakpastian politik dan ekonomi berdampak pada pergerakan harga minyak, terutama dalam upaya mencapai kembali titik US$60 yang menjadi target pasar.
“Pasar energi saat ini sangat rentan terhadap perubahan geopolitik, sehingga investor harus tetap berhati-hati. Kenaikan harga minyak tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, tetapi juga oleh faktor eksternal yang tak terduga,” kata Arief dalam SMBC Indonesia Economic Forum 2026, Selasa (19/5/2026).
Konflik Global Jadi Penyebab Utama Ketidakstabilan Harga Minyak
Ketidakjelasan geopolitik terutama antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga minyak belakangan ini. Arief menjelaskan bahwa konflik ini mengakibatkan ketegangan di jalur distribusi energi global, sehingga menimbulkan risiko kenaikan harga yang berkelanjutan. Selain itu, krisis pangan dan energi di berbagai wilayah juga memperparah situasi, membuat minyak sulit untuk kembali ke level US$60 dalam waktu dekat.
Dalam situasi seperti ini, Arief menekankan bahwa investor perlu mengikuti perubahan kebijakan dan perang dagang antarnegara besar. “Kita melihat bahwa harga minyak ini sulit untuk kembali ke 50 atau 60 dolar. Hal ini sangat penting untuk memahami bagaimana menghadapi investasi terkait shock minyak,” tambahnya. Ketidakpastian ekonomi, seperti inflasi yang melonjak dan kebijakan moneter ketat, juga menjadi faktor penghambat kembalinya harga minyak ke titik yang diinginkan.
Analisis Simulasi Menunjukkan Perjalanan Harga Minyak yang Panjang
Ashmore Asset Management Indonesia melakukan simulasi terhadap tren harga minyak dalam 45 tahun terakhir, yang menunjukkan bahwa kembalinya harga ke US$60 membutuhkan waktu 6 hingga 7 bulan. Dalam analisis tersebut, perusahaan menemukan bahwa fluktuasi harga minyak selama periode ini tidak hanya terkait dengan kebijakan otoritas energi, tetapi juga oleh perubahan dalam permintaan global dan penyimpanan cadangan.
Menurut Arief, pelaku pasar perlu memahami bahwa perekonomian dunia sedang mengalami transisi besar. “Kita melihat bahwa kecenderungan permintaan energi semakin tidak pasti, sementara pasokan minyak terus meningkat. Hal ini membuat harga minyak sulit untuk stabil dan kembali ke US$60 seperti dulu,” jelasnya. Simulasi ini juga mengungkapkan bahwa penyesuaian harga energi bisa terjadi dalam skenario terbaik, tetapi tergantung pada faktor eksternal seperti perang dagang atau perubahan iklim.
Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, Ashmore Asset Management menyarankan strategi investasi yang lebih fleksibel. Mereka menekankan bahwa investor perlu menyeimbangkan risiko dan keuntungan dengan memperhatikan aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi dolar AS atau saham yang tahan banting. “Dengan memperhatikan fokus keyword ‘minyak sulit balik ke US 60’, investor bisa mengantisipasi pergerakan harga dan mempersiapkan dana mereka dengan lebih baik,” ujarnya.
Analisis ini juga menyoroti dampak langsung terhadap ekonomi Indonesia, yang bergantung pada ekspor minyak. Kenaikan harga minyak memperkuat pendapatan negara, tetapi sebaliknya, ketidakstabilan harga bisa mengganggu sektor industri dan konsumen. “Kita melihat bahwa minyak sulit balik ke US$60, tetapi ini juga memberikan peluang untuk membangun portofolio yang lebih beragam,” kata Arief. Dengan memahami dinamika ini, pemerintah dan investor bisa menyesuaikan kebijakan serta strategi mereka.
Menyusul krisis yang terus berlanjut, Ashmore Asset Management menyarankan bahwa pasar keuangan internasional perlu tetap aktif. “Harga minyak yang sulit balik ke US$60 mendorong investor untuk mencari aset aman alternatif, seperti obligasi atau aset berjangka. Ini bisa menjadi solusi jangka panjang,” tambahnya. Dalam jangka pendek, Arief memproyeksikan bahwa fluktuasi harga minyak akan terus berlangsung, dengan faktor geopolitik sebagai penentu utama.

