Dividen BUMN 2024 Capai 100% Target, BPI Danantara Tunggu Pembukuan Rampung
Dailynesia.com – Sebagai salah satu agenda utama Kementerian BUMN tahun ini, realisasi dividen yang telah terkumpul dari perusahaan-perusahaan pelat merah menunjukkan kemajuan signifikan. Hingga November 2024, total pembayaran dividen mencapai Rp85,5 triliun, mengisi 100% dari target yang ditetapkan. Angka ini naik dari Rp81,2 triliun pada tahun sebelumnya, mencerminkan peningkatan kinerja keuangan BUMN. Meski demikian, proses pengumpulan data rekapitulasi masih sedang berlangsung, dan Main Agenda untuk memastikan transparansi serta akurasi informasi terus menjadi fokus utama.
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, yang bertugas mengelola dividen dari perusahaan pelat merah, menyatakan rencananya merilis data rekapitulasi lengkap hingga kinerja keuangan tahun 2025. Namun, Dony Oskaria, Kepala BPI Danantara sekaligus Chief Operating Officer (COO) perusahaan, mengungkapkan bahwa mereka masih menunggu pembukuan keuangan anak usaha selesai. “Belum semua selesai kan. Kan kita lagi impairment-impairment, beresin buku-buku, semua. Nanti mungkin akhir, paling lambat akhir Juni sudah beres semua,” jelasnya saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa, (19/5/2026).
Proses Bersih-bersih untuk Peningkatan Transparansi
Dony menegaskan bahwa tahun ini dianggap sebagai tahun “bersih-bersih” bagi BUMN, yang bertujuan memperbaiki sistem pengelolaan keuangan dan meningkatkan transparansi. “Jadi sabar, semuanya pasti. Kan tahun ini tahun bersih-bersih, kita bersihin semua kan? Kita beresin. Yang pembukuan-pembukuan enggak beres, pembukuan-pembukuan yang enggak betul kita beresin,” tambahnya. Proses ini diperlukan untuk memastikan data dividen yang diberikan tidak hanya mencerminkan hasil operasional, tetapi juga menyesuaikan dengan standar akuntansi yang lebih ketat, sehingga memperkuat kepercayaan investor.
Dalam rangka memperbaiki sistem ini, BPI Danantara sedang melakukan peninjauan menyeluruh terhadap laporan keuangan anak usaha. Hal ini mencakup pengecekan konsistensi data, pemeriksaan akurasi pembukuan, serta pembersihan aset yang tidak optimal. Dony menjelaskan bahwa beberapa perusahaan masih memerlukan waktu tambahan untuk menyelesaikan proses tersebut, terutama yang terkait dengan nilai impairment atau penyesuaian kinerja finansial. “Kita harus memastikan semua data valid sebelum dirilis, karena Main Agenda ini berkaitan langsung dengan kredibilitas BUMN di mata publik dan investor,” terangnya.
Pembagian Dividen: Kinerja Perusahaan Pelat Merah yang Beragam
Dari total dividen yang terkumpul, beberapa perusahaan menunjukkan kontribusi dominan. PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan Rp25,7 triliun, diikuti oleh Bank Mandiri yang menyumbang Rp17,1 triliun dan MIND ID dengan Rp11,2 triliun. Pertamina, Telkom, BNI, PLN, Pupuk Indonesia, Pelindo, serta BTN juga berperan penting dalam mencapai target ini. Dony Oskaria menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki kinerja baik dan stabilitas finansial cenderung menjadi sumber utama pendapatan dividen, sementara yang sedang dalam proses restrukturisasi atau pemulihan membutuhkan waktu lebih lama.
Proses “bersih-bersih” juga memengaruhi keputusan pembagian dividen. Dony menyoroti bahwa beberapa anak usaha sedang melakukan penyesuaian terhadap modal dan pendapatan mereka. “Ini adalah bagian dari Main Agenda kami untuk membuat laporan yang lebih jelas dan menghindari kesan dividen yang tidak seimbang,” ujarnya. Dengan demikian, BPI Danantara berharap dapat menyajikan rekapitulasi yang lebih akurat dan representatif, sekaligus memberikan wawasan mendalam tentang kinerja masing-masing perusahaan.
Kebijakan Main Agenda ini tidak hanya fokus pada keuangan BUMN, tetapi juga pada peningkatan kualitas manajemen dan pengelolaan sumber daya. Dony mengungkapkan bahwa pembersihan buku dan penyesuaian laporan keuangan akan berdampak positif pada keputusan investasi masa depan. “Dengan data yang lebih transparan, investor akan lebih mudah mengevaluasi potensi pertumbuhan BUMN dan berpartisipasi aktif dalam pasar modal,” katanya. Proses ini juga memberikan kesempatan bagi perusahaan-perusahaan yang belum mencapai target untuk melakukan perbaikan strategi dan operasional.

