Key Strategy: Saham Prajogo Tumbang di 2026 Tanpa Sokongan MSCI dan FTSE
Dailynesia.com – Telah menjadi fokus utama bagi investor dalam pasar modal Indonesia pada 2026, terutama setelah beberapa saham dari Grup Barito, yang dipegang oleh Prajogo Pangestu, mengalami penurunan signifikan. Kebijakan ketat dari penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE memberikan dampak besar terhadap keberadaan saham-saham ini di pasar, dengan beberapa dikeluarkan dari indeks utama. Pada hari Senin (18 Mei 2026), hanya saham Barito Renewables Energy (BREN) yang menunjukkan sedikit peningkatan, sementara saham lainnya terus mengalami penurunan akibat strategi pemutusan keterlibatan dengan indeks tersebut.
Analisis Kinerja Saham di Tengah Perubahan Strategi
Kebuntuan kinerja saham ini tidak hanya terjadi di akhir tahun, tetapi juga berlangsung sepanjang 2026. Kebijakan baru MSCI, yang berfokus pada peningkatan transparansi, menyebabkan enam saham Indonesia, termasuk BREN dan Chandra Asri Pacific (TPIA), dihapus dari MSCI Global Standard Index. FTSE juga mengumumkan rencana penyesuaian yang menargetkan saham-saham dengan kepemilikan tinggi (HSC), dengan perubahan efektif pada 22 Juni 2026. Pada sesi perdagangan, saham TPIA turun hingga 14,88% ke Rp 3.660, sementara CUAN dan CDIA mengalami koreksi sebesar 9,9% dan 8% masing-masing.
“Kebijakan harga nol ini bertujuan untuk memastikan likuiditas yang optimal dalam indeks,” jelas pernyataan resmi FTSE. Strategi ini diterapkan setelah otoritas pasar modal Indonesia memperkuat regulasi transparansi, yang menurut Key Strategy menjadi langkah penting dalam memperbaiki kualitas pasar. Namun, dampaknya terasa jelas di kinerja saham, terutama pada perusahaan-perusahaan yang tidak memenuhi standar transparansi.
Kebijakan tersebut memicu ketidakpastian di kalangan investor, karena saham-saham yang dihapus dari indeks bisa mengalami tekanan harga lebih besar. Cuaca pasar terutama mengalami gelombang penurunan sejak awal tahun, dengan saham seperti Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) dan Barito Pacific (BRPT) mencatatkan penurunan hingga 66,48% dan 37,92% secara kumulatif. Key Strategy menekankan bahwa rencana ini memperkuat persaingan di pasar modal, dengan perusahaan-perusahaan yang lebih kompetitif berpeluang tetap berada di indeks.
Pelaku Pasar dan Respons Investor
Respons investor terhadap Key Strategy ini beragam. Sebagian besar dana pasif (passive fund) mengalami kerugian akibat keputusan MSCI dan FTSE, sementara investor aktif mencari peluang di saham-saham yang masih mempertahankan keberadaannya. Analis pasar menyatakan bahwa langkah ini mencerminkan kritik terhadap likuiditas dan transparansi, khususnya di saham-saham yang dikuasai oleh segelintir individu. Keputusan untuk menghapus saham juga memengaruhi akses pasar global terhadap emiten-emiten lokal.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan yang tidak terkena penghapusan mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan. BREN, misalnya, meski mengalami penurunan hampir 65,88% sepanjang tahun, masih menjadi salah satu saham yang terlihat lebih stabil dibandingkan rekan-rekannya. Key Strategy menyoroti bahwa perusahaan-perusahaan ini perlu meningkatkan kepercayaan investor dengan memperbaiki keberlanjutan operasional dan transparansi keuangan.
Strategi penyesuaian indeks ini juga memicu ulasan terhadap struktur kepemilikan saham di Indonesia. Dengan mengurangi jumlah saham yang masuk ke indeks utama, Key Strategy berharap akan mendorong perusahaan-perusahaan yang lebih layak mendapat perhatian pasar. Selain itu, kebijakan ini diharapkan meningkatkan kualitas indeks, sehingga investor global bisa lebih mudah mengakses pasar modal Indonesia dengan risiko yang terukur. Meski ada perusahaan besar yang terkena dampak, Key Strategy memandang ini sebagai bagian dari proses seleksi yang lebih ketat.

