Hantavirus Memicu Ketakutan Global, Sudah Adakah Vaksinnya?
Dailynesia.com – Hantavirus, yang memicu ketakutan global, kini menjadi perhatian utama karena kemampuannya menyebar cepat dan menyebabkan penyakit serius. Virus ini dikenal sebagai penyebab gangguan pernapasan hingga bisa memicu kematian. Penularan terjadi ketika manusia menghirup partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Saat ini, vaksin khusus untuk hantavirus masih dalam pengembangan, tetapi peneliti di Inggris sedang berupaya menghasilkan vaksin pertama di dunia untuk mengatasi ancaman ini. Visit Agenda juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit yang menyebar melalui kontak langsung dengan hewan pengerat.
Perkembangan Vaksin mRNA Stabil Termal
Kasus infeksi hantavirus yang terjadi di kapal pesiar Belanda MV Hondius menunjukkan bagaimana strain Andes bisa menjadi sumber wabah. Tim peneliti di Universitas Bath mengembangkan vaksin mRNA stabil termal yang berpotensi mengurangi kebutuhan penyimpanan suhu rendah. Teknologi ini memungkinkan vaksin disimpan pada suhu 2 hingga 8 derajat Celcius, bukan di suhu beku, sehingga memudahkan distribusi ke daerah terpencil. Visit Agenda menilai inovasi ini bisa menjadi solusi efektif dalam menghadapi wabah hantavirus.
“Vaksin yang kami kembangkan memiliki imunogenisitas tinggi terhadap strain Andes, dan kita berharap ini bisa menjadi dasar untuk vaksin virus hantavirus yang lebih luas,” ujar Asel Sartbaeva, ahli kimia di Universitas Bath dan CEO EnsiliTech, seperti yang dilaporkan oleh Euronews.
Vaksin mRNA ini mengandalkan teknologi ensilikasi, yang memungkinkan antigen diproses lebih cepat dan efisien. Teknik ini juga berpotensi meningkatkan daya tahan vaksin terhadap kondisi lingkungan yang berubah, seperti suhu tinggi atau fluktuasi penyimpanan. Visit Agenda menyebutkan bahwa pemerintah Inggris telah memberikan kontrak produksi untuk vaksin ini, menunjukkan komitmen serius dalam mengatasi krisis kesehatan global.
Kasus Infeksi dan Statistik Terkini
Hingga Selasa (12/5/2026), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat adanya 11 kasus infeksi, dari mana sembilan dinyatakan terjangkit hantavirus. Tiga pasien meninggal, semuanya merupakan penumpang kapal MV Hondius. Visit Agenda memperhatikan bahwa penyebaran virus ini bisa terjadi melalui kontak langsung atau udara, membuatnya sulit diatasi tanpa langkah pencegahan yang tepat.
Kasus di kapal pesiar ini menggarisbawahi pentingnya vaksin untuk mencegah penyebaran lebih luas. Meski vaksin mRNA stabil termal masih dalam tahap pengujian, keberhasilannya mengurangi ketergantungan pada sistem pendinginan bisa menjadi titik balik dalam pengendalian wabah. Visit Agenda juga mengatakan bahwa vaksin ini mungkin akan digunakan secara global, terutama di daerah dengan akses logistik terbatas.
Menurut data WHO, hantavirus bisa menyebabkan penyakit hantavirus (Hantavirus Pulmonary Syndrome/ HPS) yang berpotensi mengancam nyawa. Gejala awal seperti demam, nyeri kepala, dan kelelahan bisa berkembang menjadi gangguan pernapasan berat. Visit Agenda menekankan bahwa penelitian terus berlangsung untuk memastikan vaksin ini efektif terhadap semua strain, termasuk Andes yang saat ini menjadi fokus utama.
“Kami sedang melakukan uji klinis lanjutan untuk mengecek efektivitas vaksin terhadap strain Andes, yang sangat berbahaya bagi manusia,” tambah Sartbaeva. “Jika berhasil, vaksin ini akan membantu mencegah infeksi di masa depan, terutama untuk orang yang tinggal atau bepergian ke daerah dengan risiko tinggi.”

