Trump Bersih-Bersih Partai Republik, Pembangkang Bakal Ditendang
Dailynesia.com – Di tengah tantangan inflasi, kenaikan biaya bahan bakar, serta perang, Donald Trump dinilai belum memperlihatkan rencana jelas untuk menghadapi pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) pada November mendatang. Sejumlah strategis Partai Republik menyebut Trump lebih berfokus pada pembersihan internal dibanding menyerang Partai Demokrat. Presiden terpilih ini terlihat lebih sibuk membalas politisi Republik yang pernah menentangnya, termasuk senator dan anggota kongres dari wilayah konservatif yang dianggap aman bagi partai.
Strategi Trump: Fokus pada Pembersihan Internal
Melansir dari
The Economist
, pengamat politik di Washington menilai Gedung Putih kini lebih menekankan dua agenda utama: mendorong perubahan peta distrik pemilu agar berpihak pada Partai Republik, serta menggulingkan petahana yang dianggap tidak setia. Meski rencana pertama berpotensi memperkuat posisi partai, strategi kedua justru dinilai mampu menguras sumber daya dan energi internal dalam jangka panjang.
Kasus Cassidy: Diserang karena Dukung Pemakzulan Trump
Bill Cassidy dari Louisiana menjadi sasaran utama Trump setelah mendukung pemakzulan presiden setelah kerusuhan Gedung Capitol 6 Januari 2021. Politisi ini menyebut penyerbuan Capitol sebagai tindakan makar dan menilai Trump terlibat memicu massa. Meski berusaha memperbaiki hubungan dengan Trump setelah kembali terpilih, Cassidy tetap menjadi target karena langkahnya untuk memperkenalkan Robert F. Kennedy Jr. ke kabinet belum cukup memadai. Kini, ia menghadapi persaingan ketat dalam pemilihan pendahuluan dengan anggota Kongres Julia Letlow yang lebih loyal kepada Trump.
Cassidy Ubah Strategi demi Bertahan dari Tekanan Trump
Untuk menghadapi tekanan, Cassidy menyesuaikan kampanyenya dengan menempatkan fokus pada masa depan Louisiana, bukan konflik politik masa lalu. Ia mengubah slogan menjadi “Louisiana First” dan menegaskan dukungan penuh terhadap agenda Trump. Namun, perubahan aturan pemilu di wilayah tersebut justru memperkuat posisi konservatif garis keras, membuat Cassidy kesulitan mendapatkan dukungan.
Massie Jadi Target karena Kritik Trump
Thomas Massie dari Kentucky juga menjadi target Trump setelah kritiknya terhadap kebijakan presiden. Politisi konservatif independen ini dikenal sering berselisih dengan elite Partai Republik, termasuk menolak rancangan anggaran besar dan mengusulkan pembatasan kewenangan presiden dalam serangan terhadap Iran. Trump mendukung mantan kandidat senator Ed Gallrein sebagai penantang Massie, bahkan berkampanye langsung di Kentucky dengan menyebut Massie sebagai “bencana total” bagi partai.
Trump Gelontorkan Dana Besar untuk Menjatuhkan Massie
Pertarungan antara Massie dan Gallrein menjadi salah satu pemilihan pendahuluan DPR AS terbesar dalam sejarah. Donor besar Trump disebut telah menghabiskan lebih dari US$14 juta untuk iklan kampanye yang menggambarkan Massie sebagai pengkhianat. Meski Massie berusaha membangun citra anti-establishment, tekanan dari Trump terus menggerogoti dukungan politiknya.

