Peran Kakek Prabowo dalam Membentuk Bank Pertama Indonesia
Dailynesia.com – Menjadi salah satu elemen penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Dalam konteks sejarah perbankan, gagasan mendirikan bank nasional dianggap sebagai solusi untuk mengatasi ketergantungan ekonomi pada sistem kolonial. Dua tokoh utama, Margono Djojohadikusumo dan Soerachman Tjokroadisurjo, berperan dalam membangun lembaga keuangan pertama yang dibentuk setelah Proklamasi Kemerdekaan. Margono, kakek dari Presiden Joko Widodo, menekankan pentingnya bank yang dikelola oleh rakyat sendiri, sementara Soerachman lebih memperhatikan efisiensi penggunaan warisan De Javasche Bank (DJB), lembaga keuangan Belanda.
Awal Pembentukan Bank Negara Indonesia
Pada 17 Agustus 1945, saat perjuangan kemerdekaan memuncak, Margono Djojohadikusumo yang menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Agung, memimpin usulan mendirikan bank sentral sebagai solusi untuk memperkuat perekonomian republik baru. Ia percaya bahwa dengan memiliki bank nasional, Indonesia bisa mengatasi kelemahan sistem keuangan kolonial yang selama ini menguntungkan pihak penjajah. Sementara itu, Soerachman Tjokroadisurjo menawarkan alternatif dengan mengusulkan penggunaan DJB sebagai fondasi untuk bank sentral. Perbedaan ini menciptakan dinamika dalam pengambilan keputusan.
“Belanda ingin menghidupkan kembali DJB sebagai bank sentral berdasarkan izin Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 2 Januari 1946,” tulis penyusun buku *Semarang Sebagai Simpul Ekonomi (2022)*. Pernyataan ini menggambarkan tuntutan pihak kolonial yang berusaha mempertahankan kekuasaan ekonomi di bawah pemerintahan Republik Indonesia.
Kegiatan pengembangan bank nasional dimulai secara serius setelah Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No.2 tahun 1946. Dalam konteks Solving Problems, BNI dibentuk sebagai lembaga yang menggabungkan fungsi bank sentral dan bank umum, berupaya mengatasi dualisme keuangan yang terjadi di tengah persaingan dengan DJB. Tugas utama BNI mencakup pencetakan uang, pengelolaan keuangan pemerintah, serta pemberdayaan sektor ekonomi lokal.
Kehidupan dan Tantangan Bank Negara Indonesia
Dalam masa awal kemerdekaan, BNI menjadi ujung tombak dalam perang ekonomi melawan DJB. Lebih dari 40 tahun setelah pendirian DJB pada 1828, BNI berupaya memperkuat kemandirian dengan mencetak uang dengan nama Oeang Republik Indonesia (ORI) untuk menyaingi uang NICA yang dikeluarkan oleh pihak Belanda. Upaya ini menciptakan dualisme dalam sistem keuangan Indonesia, tetapi juga menjadi langkah awal dalam Solving Problems ketergantungan pada pihak penjajah.
Kehadiran BNI memicu perubahan struktural dalam sektor keuangan, sekaligus menjadi bagian dari upaya Solving Problems dalam membangun sistem ekonomi yang mandiri. Namun, setelah Belanda menang dalam perang kemerdekaan tahun 1949, BNI mengalami tantangan besar dalam menjalankan fungsi bank sentral. Kurangnya dukungan politik dan keterbatasan sumber daya membuat peran BNI terbatas, meski tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan perbankan Indonesia.
Dalam perjalanan sejarah, BNI pernah kehilangan fungsi utamanya setelah pemerintah mengambil alih DJB pada 1953 dan mengubahnya menjadi Bank Indonesia. Perpindahan tugas sebagai bank sentral ke lembaga baru menandai perubahan paradigma, namun BNI tetap berperan dalam Solving Problems melalui kegiatan operasional perbankan umum. Puncak perubahan terjadi pada 1968 ketika status BNI sebagai bank sentral secara resmi dihapus, mengakhiri era dualisme keuangan yang berlangsung sejak 1946.

