Tech

Telkom Rampungkan Spinoff Infranexia

grapari-telkom-group-cnbc-indonesiafaisal-rahman-1749113200923_169

Telkom Selesaikan Pemisahan Bisnis Infrastruktur ke Infranexia

Dailynesia.com – Telkom telah menuntaskan aksi spin-off bisnis infrastruktur ke Infranexia setelah memperoleh persetujuan pemegang saham independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu, 30 September 2026. Nilai transaksi pemisahan bisnis tersebut mencapai hampir Rp49,9 triliun.

Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, menyatakan persetujuan RUPSLB menjadi tahap penting bagi perusahaan untuk merampungkan pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity. Aset serta aktivitas tersebut selanjutnya berada dalam pengelolaan Infranexia, yang masih menjadi bagian dari Telkom Group.

“Alhamdulillah, hari ini Telkom telah memperoleh persetujuan dari Pemegang Saham independen dalam RUPSLB atas aksi korporasi pemisahan bisnis dan aset wholesale fiberconnectivity ke infranexia,” kata Nanang.

Bagian dari agenda TLKM 30

Pemisahan ini ditempatkan Telkom sebagai implementasi TLKM 30, khususnya pilar ketiga yang berfokus pada unlocking value. Melalui strategi tersebut, perusahaan berupaya membuka nilai dari aset bernilai tinggi, sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan dan peluang pertumbuhannya.

Dalam praktiknya, pemisahan bisnis infrastruktur memungkinkan Telkom membentuk struktur usaha yang lebih terarah. Aktivitas pengelolaan jaringan dan aset infrastruktur dapat dijalankan dengan fokus tersendiri, sementara Telkom Group tetap menjaga peran strategisnya sebagai grup usaha.

Nanang menilai langkah itu dirancang untuk membangun organisasi yang lebih efisien serta mampu menyesuaikan diri dengan perubahan industri. Pemisahan aset bukan sekadar perubahan struktur korporasi, melainkan bagian dari upaya memperjelas fokus bisnis di dalam grup.

“Inisiatif ini merupakan implementasi nyata membangun struktur bisnis Telkom Group yang semakin fokus, efisien dan adaptif bagi perkembangan industri,” tutur Nanang.

Infranexia disebut mengelola lebih dari 90% aset infrastruktur Telkom. Skala aset tersebut membuat perusahaan baru ini memiliki peran penting dalam pengembangan pemanfaatan infrastruktur fiber connectivity di lingkungan Telkom Group.

Peluang optimalisasi dan kemitraan

Dengan aset infrastruktur yang dikelola secara lebih terfokus, Telkom melihat peluang peningkatan utilisasi. Infrastruktur dapat dioptimalkan untuk memperluas praktik berbagi jaringan, mendorong kemitraan strategis, serta membuka akses bagi lebih banyak pelaku industri.

Konsep infrastructure sharing sendiri relevan bagi industri telekomunikasi karena penggunaan aset secara bersama dapat menciptakan pemanfaatan yang lebih efisien. Bagi Telkom, pengelolaan aset melalui Infranexia diharapkan dapat memperkuat kemampuan perusahaan menangkap peluang pertumbuhan dari infrastruktur yang telah dibangun.

Namun, pengelolaan aset tetap berada dalam lingkup Telkom Group. Artinya, spin-off tidak memisahkan Infranexia dari pengawasan grup, melainkan menata ulang pengelolaan bisnis infrastrukturnya agar memiliki fokus operasional dan arah pengembangan yang lebih jelas.

“Langkah ini juga merupakan transisi Telkom dari operating holding menjadi strategic holding dengan model hold-go dan opt-go-nya,” ungkap Nanang.

Perubahan dari operating holding menuju strategic holding menunjukkan penekanan Telkom pada peran pengarah strategi dan pengelolaan portofolio bisnis. Dalam model tersebut, entitas di dalam grup dapat bergerak dengan fokus masing-masing, sambil tetap terhubung dengan sasaran dan tata kelola Telkom Group.

Target kontribusi bagi pertumbuhan grup

Telkom berharap Infranexia dapat menjadi salah satu penggerak sumber pendapatan baru bagi grup. Harapan ini mencakup pertumbuhan yang berkelanjutan, penguatan kinerja perusahaan, serta nilai tambah bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya.

“Menjadi salah satu katalist bagi sumber pendapatan Telkom Group, menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan, sekaligus memberikan kontribusi yang semakin kuat terhadap kinerja serta deliveration bagi pemegang saham dan seluruh pemegang kepentingan,” tambah Nanang.

Bagi pembaca dan pelaku industri, aksi ini menandai penataan ulang bisnis infrastruktur Telkom dalam skala besar. Dengan nilai transaksi hampir Rp49,9 triliun dan pengelolaan lebih dari 90% aset infrastruktur Telkom oleh Infranexia, langkah tersebut menjadi salah satu perubahan struktural penting di dalam grup.

Telkom juga menegaskan bahwa pengelolaan aset strategis akan tetap dilakukan secara hati-hati. Pengawasan dan tata kelola yang ketat dipandang penting untuk memastikan kepentingan nasional, kendali strategis, serta keberlanjutan bisnis tetap terlindungi.

“Jadi seluruh aset strategis akan dikelola berdasarkan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang ketat untuk memastikan genggali strategis, kepentingan nasional serta keberlanjutan bisnis tetap terjaga dengan baik,” kata Nanang.

Setelah persetujuan pemegang saham independen diperoleh, fokus Telkom berada pada penyelesaian proses pemisahan dan pengelolaan Infranexia sebagai bagian dari struktur baru grup. Perusahaan menempatkan entitas ini sebagai sarana untuk mengoptimalkan aset infrastruktur, memperluas peluang kolaborasi, dan mendukung pertumbuhan Telkom Group ke depan.

Frequently Asked Questions

What is Telkom Rampungkan Spinoff Infranexia?

Telkom Rampungkan Spinoff Infranexia is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Telkom Rampungkan Spinoff Infranexia matter?

Telkom Rampungkan Spinoff Infranexia matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *