Geger Harta Karun 30.000 Ton Emas di Banten ‘Dirampok’ Asing

3 months ago  ·  2 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
576db8aa-8c24-4340-bcdf-c09d867fd394-0

Geger Harta Karun 30.000 Ton Emas di Banten ‘Dirampok’ Asing

Dailynesia.com – Emas tetap dianggap sebagai instrumen investasi yang diminati oleh masyarakat dunia. Namun, ada cerita tak terduga dari sejarah Indonesia yang pernah mencengangkan publik internasional. Di tengah kota, sejumlah besar emas ditemukan di wilayah Banten, khususnya Cikotok. Wilayah ini hanya berjarak sekitar 200 km dari Jakarta, yang dahulu dikenal sebagai Batavia.

Jejak ‘Gunung Emas’ di Selatan Batavia

Dugaan kekayaan emas di Cikotok telah didengar pemerintah kolonial Belanda sejak lama. Pencarian serius akhirnya menghasilkan bukti pada saat seorang ahli geologi bernama Oppenoorth melakukan eksplorasi mendalam. Meski menghadapi medan hutan belantara dan tantangan ekstrem, usaha ini membuka penemuan luar biasa.

Pada bulan Maret 1928, harian Sumatra-bode membagikan berita menggembirakan tentang penemuan emas di Cikotok. “Hingga saat ini ditemukan emas sebesar 30.000 ton dari Cikotok,” tulis laporan tersebut, sebagaimana dikutip dari arsip sejarah.

Eksploitasi Masif Pihak Asing

Temuan tersebut langsung memicu tindakan cepat pihak kolonial. Hak operasional diberikan kepada perusahaan asing, NV Mijnbouw Maatchappij Zuid Bantam, untuk mengeksploitasi sumber daya tersebut secara masif. Jaringan pengangkutan tambang dibuka dari beberapa titik, termasuk Rangkasbitung dan Pelabuhan Ratu.

Menurut de Indische Courant (25 Juli 1939), pemerintah kolonial bahkan membangun pabrik berkapasitas 20 ton per hari. Namun, kecepatan penambangan jauh melebihi kemampuan pabrik. Pekerja sering menemukan emas dalam berbagai ukuran, dengan berat tertinggi mencapai 126 gram.

Di tahun 1933, produksi emas dari Cikotok mencapai angka yang signifikan. Diklaim bahwa selama eksplorasi, total emas yang terungkap mencapai lebih dari 61.000 ton, dengan nilai mencapai 3,68 miliar gulden, sebagaimana ditulis de Locomotief (29 Maret 1933).

Banyaknya emas hanya memberi keuntungan kepada pihak penjajah. Mereka semakin kaya, sementara penduduk lokal tak mendapat manfaat. Meski janji kesejahteraan pernah diberikan, hasilnya tak terasa pada masyarakat setempat.

Setelah periode kolonial, tambang emas Cikotok diambil alih oleh NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan. Kemudian, pada 1974, pemerintah Indonesia melalui PT Aneka Tambang mengelola tambang tersebut. Namun, pada 2005, cadangan emas di sana mulai habis.

Walau kekayaan emas Cikotok berakhir, pengaruhnya tetap terasa. Tambang-tambang besar lainnya, seperti Freeport di Papua, menjadi pengganti kekayaan yang pernah diambil dari wilayah Banten.

MORE FROM THIS CATEGORY