Strategi Eksportir Udang Dalam Special Plan Jaga Klien AS & Eropa di Perang
Dailynesia.com – Dalam situasi krisis global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, Special Plan menjadi strategi utama yang dijalankan eksportir udang untuk memastikan keberlanjutan ekspor ke pasar utama seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Ewijaya, Presiden Direktur Dharma Samudera Fishing Industries (DSFI), menjelaskan langkah-langkah spesifik yang diambil perusahaan dalam menghadapi tantangan ekonomi dan logistik yang meningkat akibat fluktuasi harga minyak global. Kenaikan biaya bahan bakar minyak (BBM) menciptakan tekanan signifikan pada tarif produk perikanan, tetapi Special Plan berhasil membantu DSFI mengurangi dampaknya melalui optimisasi rantai pasok dan perbaikan efisiensi operasional.
Menjaga Konsistensi Kualitas di Tengah Ketidakpastian
Dalam Special Plan, DSFI tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memprioritaskan pemeliharaan standar kualitas yang tinggi. Ewijaya menekankan bahwa sertifikasi internasional seperti ISO dan HACCP menjadi komponen kunci untuk membangun kepercayaan konsumen di pasar Eropa dan Amerika. “Special Plan memastikan bahwa setiap produk yang kami ekspor tetap memenuhi persyaratan ketat, sehingga tetap menarik bagi pembeli internasional,” jelas Ewijaya. Hal ini penting karena konflik global telah meningkatkan kehati-hatian pelaku bisnis terhadap aspek kualitas dan keandalan pasokan.
“Dengan Special Plan, kami juga memperkuat jaringan distribusi agar tidak tergantung sepenuhnya pada satu jalur logistik. Ini meminimalkan risiko gangguan dan memastikan produk tetap terjangkau meski harga BBM melonjak,” tambah Ewijaya.
Strategi ini diimplementasikan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk penggunaan teknologi modern dalam penyimpanan dan pengiriman. Ewijaya menjelaskan bahwa perusahaan telah menerapkan sistem tracking real-time untuk memantau kondisi barang sejak produksi hingga sampai ke pelanggan. Selain itu, DSFI juga aktif dalam memperkenalkan inovasi seperti kemasan ramah lingkungan dan variasi produk untuk memenuhi kebutuhan konsumen global yang semakin dinamis.
Adaptasi Ekspor ke Pasar Terbuka
Krisis yang terjadi akibat perang di berbagai wilayah dunia mendorong eksportir udang Indonesia, termasuk DSFI, untuk mengadopsi pendekatan lebih strategis dalam Special Plan mereka. Ewijaya menyebutkan bahwa perusahaan memperluas jaringan pemasaran ke pasar terbuka seperti Asia Tenggara dan Afrika sebagai alternatif jika hubungan ekonomi dengan Eropa dan AS mengalami gangguan. “Special Plan juga melibatkan diversifikasi pasar, sehingga ketika satu wilayah mengalami kesulitan, kami masih bisa menjaga volume ekspor,” terangnya.
“Kami melihat bahwa Special Plan memungkinkan kami untuk tetap kompetitif meski ada kenaikan biaya. Dengan strategi ini, DSFI mampu menjaga pangsa pasar meski harus menghadapi persaingan dari produsen lain yang lebih cepat merespons perubahan ekonomi global,” ujar Ewijaya.
Adaptasi ini tidak hanya terbatas pada ekspor, tetapi juga mencakup penguatan hubungan dengan pemerintah daerah dan pihak internasional. Ewijaya menekankan peran pemerintah dalam menjamin stabilitas pasokan bahan baku dan bantuan dalam mempercepat proses sertifikasi. “Kolaborasi dengan pemerintah menjadi bagian dari Special Plan, karena ini adalah langkah kolektif untuk menjaga ketahanan ekonomi perikanan nasional,” tambahnya. Dengan dukungan ini, DSFI mampu mempercepat proses ekspor dan mengurangi risiko ketergantungan pada pasokan luar negeri.
Kenangan kenaikan biaya logistik juga mendorong eksportir untuk memperbaiki sistem distribusi secara lokal. Ewijaya menjelaskan bahwa DSFI menginvestasikan dana dalam pengembangan fasilitas pengolahan udang di daerah penghasil utama, seperti NTT dan Sulawesi. Dengan mengurangi jarak pengiriman, biaya transportasi menjadi lebih terjangkau, sehingga Special Plan bisa menghasilkan nilai tambah untuk produk lokal. Selain itu, perusahaan juga melibatkan masyarakat sekitar dalam proses produksi, yang tidak hanya memperkuat rantai pasok tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal.
Strategi khusus ini mencakup pula perubahan pola ekspor ke pasar yang lebih stabil. Ewijaya mengungkapkan bahwa DSFI telah mengoptimalkan kemitraan dengan importir lokal yang memiliki akses lebih cepat ke negara-negara tujuan. “Special Plan berfokus pada keberlanjutan, jadi kami tidak hanya mencari peluang sekarang, tetapi juga membangun jangka panjang,” katanya. Dengan pendekatan ini, DSFI berharap dapat meningkatkan volume ekspor sebesar 15-20% dalam satu tahun mendatang, seiring dengan peningkatan permintaan pasar Eropa dan AS yang tetap stabil meski ada ketidakpastian global.
Dalam wawancara dengan Andi Shalini di Squawk Box, CNBC Indonesia, Ewijaya juga menyoroti peran pemerintah dalam menyelesaikan masalah logistik. “Special Plan tidak bisa berjalan tanpa dukungan regulasi dan insentif yang tepat, terutama dalam menangani kenaikan harga BBM,” katanya. Perusahaan berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan yang lebih fleksibel untuk menjamin stabilitas pasokan dan menurunkan biaya operasional. Selain itu, Ewijaya menambahkan bahwa perusahaan juga sedang mendorong penggunaan energi terbarukan dalam proses pengolahan udang, yang selaras dengan tujuan ekonomi hijau dalam Special Plan.

