Bukan Emas: Harga Barang Tambang Ini Meroket 622%, Jadi Rebutan Dunia

3 hours ago  ·  3 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
supply-chainsouthkorea-tungsten-6_169

Mineral Strategis Jadi Incaran Global di Tengah Lonjakan Harga

Dailynesia.com – Bukan Emas – Pasar komoditas mineral kritis kembali menunjukkan dinamika yang menggembirakan bagi para investor dan pelaku industri. Setelah mengalami periode lesu selama beberapa tahun terakhir, nilai berbagai bahan strategis ini mengalami kenaikan signifikan sepanjang tahun 2025 hingga April 2026. Di antara semua mineral yang tercatat, tungsten menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan mencapai 622 persen, jauh melampaui mineral lainnya. Fenomena ini membuktikan bahwa bukan emas yang menjadi primadona, melainkan mineral-mineral strategis yang mendukung transisi energi global.

Harga tungsten saat ini berkisar antara US$2.500 hingga US$2.800 per metric ton unit untuk konsentrat spot global dengan skema CIF. Jika dikonversikan ke mata uang Rupiah, nilai tersebut setara dengan Rp 45 hingga 50,4 juta per mtu, dengan asumsi kurs US$1 sama dengan Rp 18.000. Kenaikan ini menarik perhatian banyak pihak yang sebelumnya lebih fokus pada emas sebagai aset safe haven.

Permintaan Serentak Mendorong Kenaikan Harga

Menurut laporan Global Critical Minerals Outlook 2026 yang diterbitkan International Energy Agency, lonjakan harga ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan dari berbagai sektor industri. Sektor pertahanan, energi, hingga teknologi tinggi semuanya membutuhkan pasokan mineral ini secara bersamaan. Kondisi diperparah oleh fakta bahwa pasokan mineral terkonsentrasi hanya di beberapa negara tertentu, sehingga pasar menjadi sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan ekspor.

Tungsten merupakan contoh paling jelas dari fenomena ini. Logam tersebut memiliki banyak aplikasi vital, mulai dari mata bor industri, peralatan pemotong, komponen pesawat terbang, semikonduktor, hingga perlengkapan militer. Ketika China memutuskan untuk memperketat ekspor mineral tertentu, pasokan global langsung menyusut dan harga merespons dengan kenaikan tajam. Hal ini menunjukkan bahwa bukan emas yang menjadi fokus utama pasar komoditas saat ini.

Mineral Lain Juga Mengalami Pemulihan

Kenaikan harga tungsten bahkan tercatat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan tantalum yang menempati posisi kedua. Selain tungsten, material untuk baterai juga mengalami pemulihan harga yang signifikan. Cobalt naik sebesar 134 persen setelah Republik Demokratik Kongo memberlakukan pembatasan ekspor. Sementara itu, lithium menguat 108 persen seiring dengan pertumbuhan kebutuhan penyimpanan energi dan kondisi pasokan yang semakin ketat.

IEA mencatat bahwa permintaan baterai global sepanjang tahun 2025 tumbuh lebih dari 35 persen dan berhasil melampaui angka 1,5 terawatt-hour. Angka ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap lithium, cobalt, nikel, mangan, serta bahan baku lainnya yang menjadi fondasi utama kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi. Investor mulai mengalihkan perhatian dari emas ke mineral-mineral ini.

Rare Earth dan Dampak Kebijakan Perdagangan

Kelompok rare earth juga mencatat kenaikan yang cukup tajam. Harga neodymium naik 116 persen, praseodymium 107 persen, dan terbium 37 persen. Ketiga unsur tersebut berperan penting dalam memproduksi magnet permanen berkinerja tinggi yang menjadi komponen utama motor kendaraan listrik, turbin angin, robot industri, hingga berbagai perangkat elektronik.

Lonjakan harga berbagai mineral tersebut mengungkap satu pola yang konsisten. Rantai pasok global semakin bergantung pada negara-negara produsen tertentu. IEA memperkirakan China menguasai sekitar 70 persen produksi olahan sejumlah mineral penting untuk transisi energi pada tahun 2025. Konsentrasi pasokan ini membuat kebijakan perdagangan memiliki dampak besar terhadap harga dunia.

Ketika ekspor dibatasi atau produksi terganggu, industri manufaktur global langsung menghadapi biaya bahan baku yang lebih tinggi. Kondisi ini diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang membentuk pasar mineral kritis dalam beberapa tahun ke depan. Banyak analis yang menyatakan bahwa bukan emas melainkan mineral-mineral ini yang akan mendominasi pasar komoditas.

FAQ: Pertanyaan Umum Tentang Mineral Strategis

Apa saja mineral yang mengalami kenaikan harga tertinggi? Tungsten memimpin dengan kenaikan 622 persen, diikuti oleh tantalum, cobalt (134 persen), dan lithium (108 persen) sepanjang tahun 2025 hingga April 2026.

Mengapa harga mineral naik drastis? Kenaikan harga didorong oleh permintaan serentak dari sektor pertahanan, energi, dan teknologi tinggi, ditambah dengan pembatasan ekspor dari negara-negara produsen utama seperti China dan Republik Demokratik Kongo.

Apakah tren ini akan berlanjut? IEA memperkirakan tren kenaikan harga akan berlanjut karena konsentrasi pasokan yang tinggi dan permintaan yang terus meningkat seiring transisi energi global.

CNBC Indonesia Research

MORE FROM THIS CATEGORY