Saking Panasnya, Unta di Afrika Tak Tahan Sampai Ada yang Mati

13 hours ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
unta-di-padang-pasir-dok-pixabay_169

Unta-Unta Afrika Terjepit oleh Gelombang Panas Ekstrem

Dailynesia.com – Fenomena kenaikan suhu yang melampaui batas normal kini mulai mengancam kehidupan unta di benua Afrika. Hewan yang biasanya dikenal memiliki ketahanan luar biasa terhadap cuaca panas ini ternyata ikut merasakan penderitaan. Laporan dari berbagai wilayah menunjukkan kondisi yang semakin memprihatinkan bagi kawanan unta dan para pengembala mereka. Saking Panasnya Unta di Afrika menjadi perhatian serius para ahli karena dampaknya yang luas terhadap ekosistem dan mata pencaharian masyarakat lokal.

Korban di Ethiopia dan Somalia

Ali Umer, seorang pengembala unta di Semera, wilayah Afar, Ethiopia, mengungkapkan betapa beratnya dampak panas ekstrem. Dari 500 unta yang ia pelihara, delapan ekor anak unta telah meninggal dunia hanya dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Kondisi fisik unta-unta tersebut sangat memprihatinkan. Saking Panasnya Unta di Afrika terlihat jelas dari gejala-gejala yang dialami, mulai dari dehidrasi hingga luka bakar pada kaki.

“Kaki mereka melepuh, mata berair, dan pasir panas membakar kulit serta merusak bulu saat mereka duduk,” kata Umer seperti yang dikutip dari BBC pada Selasa (4/8/2026).

Situasi di negara tetangga, Somalia, bahkan terasa lebih parah. Berdasarkan sebuah penelitian yang dirilis pada bulan Juni, kekeringan yang diperparah oleh krisis iklim telah menyebabkan kematian unta di 46% rumah tangga yang memiliki ternak unta. Banyak dokter hewan melaporkan peningkatan jumlah unta sakit yang mereka rawat belakangan ini. Angka ini menunjukkan bahwa Saking Panasnya Unta di Afrika bukan sekadar fenomena musiman, melainkan tren jangka panjang yang memerlukan perhatian serius.

Data Veteriner dan Statistik Kematian

Hassan Nuya Guyo, petugas veteriner di Kenya, menjelaskan bahwa angka kematian unta di wilayahnya mengalami lonjakan lebih dari 15% dalam dua tahun terakhir. Fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh panas, tetapi juga kekeringan yang berkepanjangan. Saking Panasnya Unta di Afrika berdampak pada berbagai aspek kesehatan hewan, termasuk sistem kekebalan tubuh yang melemah.

“Kami melihat peningkatan signifikan pada kasus hipertermia pada unta membuat mereka terkena sejumlah infeksi,” ujarnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa stres termal pada unta telah memicu masalah kesehatan sekunder yang serius. Para ahli menyarankan agar para pengembala memberikan perlindungan tambahan bagi unta mereka selama gelombang panas berlangsung.

Perubahan Iklim dan Tren Pemanasan

Afar dikenal sebagai salah satu kawasan paling panas dan kering di seluruh dunia. Banyak masyarakat pengembara di sana yang membawa unta-untanya untuk mengangkut garam saat melintasi gurun. Namun, perubahan iklim kini mengubah pola kehidupan mereka secara drastis. Saking Panasnya Unta di Afrika juga mempengaruhi ketersediaan air dan pakan bagi ternak.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2025 mengenai persepsi para pengembala unta di Ethiopia Selatan juga mengonfirmasi bahwa suhu tinggi serta variabilitas iklim memberikan dampak negatif terhadap kesehatan kawanan. Selain itu, suhu yang lebih tinggi menyebabkan air semakin cepat menghilang, vegetasi berkurang, dan area berteduh menjadi semakin terbatas. Para peneliti menyarankan strategi adaptasi jangka panjang untuk membantu masyarakat lokal menghadapi tantangan ini.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), gelombang panas dengan tren kenaikan telah terjadi sejak tahun 1981. Pada tahun 2024, kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah mencatat suhu yang melampaui 50 derajat Celcius. WMO juga menegaskan bahwa Afrika Utara mengalami proses pemanasan tercepat dibandingkan enam subwilayah lainnya, dengan laju kenaikan sebesar 0,43 derajat Celcius per dekade selama periode 1991 hingga 2025.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Unta Afrika dan Panas Ekstrem

Berapa suhu maksimum yang bisa ditahan unta? Unta umumnya dapat bertahan hingga 45-50 derajat Celcius, namun suhu ekstrem di atas 50 derajat Celcius mulai menyebabkan kematian, terutama pada anak unta.

Apa saja gejala unta yang terkena panas ekstrem? Gejala meliputi kaki melepuh, mata berair, dehidrasi parah, dan luka bakar pada kulit akibat pasir panas.

Bagaimana cara membantu unta selama gelombang panas? Memberikan air bersih secara teratur, menyediakan tempat berteduh, dan mengurangi aktivitas fisik unta selama siang hari.

Apakah fenomena ini terjadi setiap tahun? Tidak, frekuensi dan intensitas gelombang panas meningkat secara signifikan dalam dekade terakhir, menunjukkan tren jangka panjang akibat perubahan iklim.

MORE FROM THIS CATEGORY