Main Agenda: Harga Emas Ambles 2 Hari Beruntun, Inflasi AS Jadi Biang Kerok!

3 months ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
a426a9f6-75cb-4d5b-8d79-306e04f37ac2-0

Main Agenda: Harga Emas Turun 2 Hari, Inflasi AS Jadi Penyebab Utama

Dailynesia.com – Dalam Main Agenda terbaru, harga emas global terus menurun dalam dua hari berturut-turut, terutama akibat tekanan dari inflasi Amerika Serikat. Faktor ini membuat harapan pemangkasan suku bunga di AS mulai berkurang, sehingga mengurangi daya tarik logam mulia sebagai aset investasi. Menurut data Refinitiv, Rabu (13/5/2026), harga emas ditutup di US$ 4.687,44 per troy ons, turun 0,56%. Penurunan ini memperpanjang tren penurunan harga emas sejak Selasa (12/5/2026), yang juga mengalami penurunan 0,43%. Meski harga emas sempat naik tipis 0,30% pada Kamis (14/5/2026) pagi, harapan kenaikan terus tertahan.

Faktor yang Menggerakkan Penurunan Emas

Kenaikan inflasi produsen AS menjadi penyebab utama penurunan harga emas, menurut laporan April yang menunjukkan angka inflasi mencapai tingkat tertinggi sejak awal 2022. Data ini memperkuat indikasi bahwa tekanan inflasi belum berakhir, sehingga membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga di AS menjadi lebih rendah. Menurut Peter Grant, Vice President dan Senior Metals Strategist di Zaner Metals, inflasi yang stabil membuat pelaku pasar lebih mempercayai kenaikan suku bunga, yang berdampak negatif pada permintaan emas.

“Inflasi masih lengket, sehingga ekspektasi suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Hal ini yang menjadi penyebab penurunan emas dalam dua hari terakhir,” jelas Grant, seperti dilansir Reuters.

Kenaikan suku bunga AS biasanya meningkatkan imbal hasil obligasi dan mata uang dolar, yang menjadi alternatif investasi bagi investor. Dengan inflasi konsumen AS mencapai 3,8% secara tahunan, tren kenaikan harga emas terkoreksi. Hal ini menunjukkan bahwa Main Agenda di pasar keuangan sedang mengalami perubahan arah, terutama karena tekanan inflasi yang tak terduga.

Perkembangan Harga Perak dan Perbandingannya

Di sisi lain, harga perak menunjukkan kenaikan yang signifikan, berbeda dari emas yang terus tertekan. Perak ditutup di US$ 87,98 per troy ons pada Rabu (13/5/2026), naik 1,66%. Penguatan ini melanjutkan reli perak dalam enam hari perdagangan terakhir, yang mencapai kenaikan 20,81%. Analisis SP Angel menyebutkan bahwa kenaikan perak didorong oleh defisit pasokan yang meningkat dan permintaan fisik yang tetap kuat.

Harga perak juga dipengaruhi oleh permintaan industri, terutama di sektor energi dan elektronik. Dengan pertumbuhan produksi panel surya dan perangkat digital, perak tetap menjadi bahan baku penting. Meski harga perak terkoreksi 0,38% pada Kamis (14/5/2026) pagi, tren kenaikan tetap menguat, menunjukkan ketahanan permintaan logam mulia di tengah perubahan Main Agenda.

Teori Tarif Emas di India dan Dampaknya

Penurunan harga emas tidak hanya dipengaruhi oleh inflasi AS, tetapi juga oleh kebijakan India yang menaikkan tarif impor logam mulia. Tarif emas dan perak dinaikkan menjadi 15% dari sebelumnya 6%, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada impor dan menekan tekanan pada cadangan devisa negara. India, sebagai kedua konsumen terbesar emas di dunia, mengambil langkah ini untuk menyesuaikan kebijakan ekonomi nasional.

Langkah ini berpotensi memengaruhi permintaan global, terutama di pasar emerging. Selain itu, perubahan kebijakan India mencerminkan Main Agenda yang semakin kompleks, dengan faktor domestik dan internasional saling memengaruhi. Dengan tarif yang lebih tinggi, pembelian emas dari luar negeri mungkin berkurang, yang berdampak pada volume perdagangan dan harga global.

Analisis Pasar dan Prospek di Masa Depan

Analisis pasar menunjukkan bahwa inflasi AS masih menjadi faktor utama yang menggerakkan Main Agenda keuangan global. Meski kenaikan suku bunga AS bisa memperkuat dolar, inflasi yang stabil juga membuat emas tetap relevan sebagai aset lindung nilai. Namun, pengaruhnya mulai berkurang seiring ekspektasi inflasi yang tidak sepenuhnya konsisten dengan prediksi sebelumnya.

Kebijakan pemerintah India serta dinamika harga perak menjadi indikator tambahan bahwa Main Agenda emas sedang bergeser. Pelaku pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan lain, seperti perubahan siklus bisnis atau faktor geopolitik, sebagai penyebab utama volatilitas harga. Dengan data inflasi AS dan perubahan tarif di India, analis menilai bahwa emas masih akan terpengaruh dalam beberapa minggu mendatang.

MORE FROM THIS CATEGORY