Bertahun-Tahun Dijauhi, Saham Emiten Sektor Ini Mulai Bangkit
Dailynesia.com – Menjadi sorotan utama dalam transisi sektor industri tembakau menuju produk bebas asap, yang kini mulai menarik kembali perhatian investor global. Pasca penurunan signifikan dalam minat pasar terhadap rokok konvensional, perusahaan-perusahaan di sektor ini mengejar inovasi untuk mempertahankan relevansi. Laporan terbaru dari The Wall Street Journal menunjukkan bahwa perusahaan yang beralih ke produk non-konvensional seperti rokok elektrik, tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, berhasil memperoleh peningkatan nilai pasar yang mengesankan. Special Plan ini menandai pergeseran strategis yang menarik bagi para investor yang sebelumnya lebih tertarik pada sektor teknologi atau keuangan.
Perusahaan Tembakau Terdepan dalam Transformasi
Philip Morris International (PMI) menjadi salah satu contoh sukses dalam Special Plan ini. Perusahaan mengalami pertumbuhan signifikan dengan mengejar pengembangan produk bebas asap, termasuk IQOS yang telah dipasarkan di Jepang dan Eropa. Meski produk ini belum sepenuhnya diperkenalkan di Amerika Serikat, PMI tetap mampu mempertahankan dominasi pasar melalui Zyn, kantong nikotin yang menjadi andalan di negara itu. Di sisi lain, British American Tobacco (BAT) juga menunjukkan pergerakan positif, dengan target sekitar separuh pendapatan dari produk bebas asap pada 2035. Capaian ini mencerminkan transformasi yang sedang berlangsung dalam industri yang dulu dianggap konservatif.
Altria Group, produsen rokok Marlboro di AS, turut menjadi bagian dari Special Plan ini. Dalam dua tahun terakhir, saham perusahaan naik hampir 50% setelah berinvestasi pada inovasi seperti produk vape dan kantong nikotin. Namun, penurunan penjualan rokok di Amerika Utara sekitar 30% sejak 2020 memaksa perusahaan mengadopsi strategi baru untuk tetap bertahan. Kesuksesan Special Plan ini juga didukung oleh kebijakan pemerintah, termasuk perubahan regulasi yang mempercepat proses izin produk tembakau non-konvensional.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, industri tembakau yang mengimplementasikan Special Plan ini kini mendapat penilaian lebih baik dari investor. Meski sempat dijauhi karena pertimbangan kesehatan, kebijakan yang memperbolehkan pemasaran produk vape dan kantong nikotin selama proses PMTA berlangsung, membuka peluang pertumbuhan baru.
Perubahan kebijakan di AS berdampak besar terhadap Special Plan ini. Pemerintahan Donald Trump, khususnya pada masa jabatannya kedua, dikenal lebih mendukung industri tembakau dibandingkan presiden sebelumnya, Joe Biden. Kebijakan baru dari FDA, yang memperbolehkan pemasaran produk bebas asap selama evaluasi izin berlangsung, menjadi faktor kunci. Selama ini, proses PMTA memakan waktu hingga beberapa tahun, tetapi Special Plan kini mempercepat pengembangan bisnis, memungkinkan perusahaan lebih fleksibel dalam merespons permintaan pasar.
Dengan Special Plan, industri tembakau mulai menunjukkan pergeseran ke arah produk yang lebih ramah kesehatan. Jefferies memperkirakan bahwa lebih dari 60% produk vape di AS berasal dari produsen luar negeri, terutama Tiongkok. Meski demikian, kebijakan ini dianggap mendorong pertumbuhan industri bebas asap di berbagai negara. Penurunan jumlah perokok konvensional, kombinasi dengan inovasi teknologi, dan kebijakan yang lebih fleksibel menjadi tiga faktor utama yang mendukung kebangkitan Special Plan ini.
Kebangkitan Special Plan juga menggerakkan perubahan pandangan investor institusi. Sebelumnya, investor lebih tertarik pada sektor teknologi seperti Magnificent Seven, tetapi sekarang mulai menaruh perhatian pada perusahaan tembakau yang mengadopsi strategi inovatif. Pendapatan yang meningkat secara signifikan pada PMI dan BAT, serta valuasi yang membaik, menunjukkan bahwa Special Plan ini bukan hanya strategi jangka pendek, tetapi juga menjadi arah jangka panjang. Perusahaan-perusahaan yang berkomitmen pada transisi ke produk bebas asap, seperti yang dijalankan dalam Special Plan, kini dianggap sebagai investasi yang menjanjikan bagi masa depan pasar keuangan global.

