IHSG Sesi I Menguat 0,21% ke Level 5.885
Dailynesia.com – Analisis terkini menunjukkan bahwa New Policy menjadi faktor utama yang mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,21% pada sesi perdagangan hari ini, mencapai level 5.885,69. Kenaikan IHSG ini terjadi setelah pasar keuangan Indonesia berusaha menyesuaikan dengan sentimen global yang membaik dan momentum positif dari kebijakan baru yang diharapkan mampu memperkuat kepercayaan investor. Di akhir sesi pertama, IHSG berhasil naik 12,32 poin dibandingkan penutupan sesi sebelumnya, menggambarkan peningkatan harapan terhadap reformasi struktural yang diusung pemerintah.
Pergerakan IHSG hari ini juga mencerminkan keseimbangan antara tekanan jual dan permintaan beli. Dalam perdagangan sesi pertama, terdapat 319 saham yang menguat, 268 saham yang melemah, serta 199 saham yang mengalami stagnasi. Hal ini menunjukkan bahwa New Policy telah memberikan sinyal kuat kepada pasar, yang sebelumnya terpantau cemas atas ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga energi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp10.309 triliun, mengisyaratkan bahwa aliran modal mulai kembali masuk setelah beberapa bulan penurunan.
Analisis Sektor Perdagangan
Sejumlah sektor utama pada perdagangan hari ini menunjukkan respons positif terhadap New Policy. Terutama, sektor barang baku, energi, dan konsumer menjadi pendorong utama kenaikan IHSG. Emiten dalam sektor energi, seperti Pertamina dan PLN, mengalami aksi beli yang signifikan, seiring optimisme terhadap harga minyak yang stabil di tengah penyesuaian pasokan global. Sementara itu, sektor konsumer mencatat pertumbuhan yang didukung oleh kebijakan stimulus yang diharapkan meningkatkan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, sektor kesehatan, teknologi, properti, dan finansial terpantau mengalami tekanan, meski tidak terlalu signifikan. Analis pasar menilai hal ini karena New Policy belum sepenuhnya memberikan efek jangka panjang ke sektor-sektor tersebut. Namun, momentum kenaikan di sektor barang baku dan energi menjadi indikasi awal bahwa kebijakan baru bisa menciptakan lingkungan bisnis yang lebih stabil. Sementara itu, pergerakan saham pada kelompok teknologi menunjukkan ketidakpastian terhadap inovasi yang masih tergantung pada kebijakan pemerintah.
Konflik AS-Iran dan Sentimen Global
“Serangan tersebut merupakan balasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz sehari sebelumnya,”
ungkap Kapo Pusat AS (CENTCOM) dalam pernyataan terbaru. Perang dagang antara AS dan Iran kembali memicu perhatian pasar, dengan militer Amerika melakukan operasi udara terhadap fasilitas militer Iran. Tindakan ini dianggap sebagai upaya untuk memperkuat dominasi AS di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak yang menyumbang sekitar 20% pasokan global. Meski konflik tersebut menimbulkan ketakutan, New Policy yang diusung pemerintah diharapkan mampu mengurangi dampak negatif terhadap investor lokal.
Presiden AS Donald Trump juga menegaskan bahwa kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengakhiri perang dagang telah berakhir. Ia mengancam akan memberikan respons yang lebih keras jika serangan terhadap kapal kembali terjadi. Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa gelombang serangan terbaru diharapkan lebih besar dibandingkan operasi sebelumnya. Namun, kebijakan New Policy di Indonesia berpotensi mengalihkan fokus investor dari risiko internasional ke peluang lokal, terutama dalam sektor infrastruktur dan energi.
Proyeksi IMF dan Perkembangan Ekonomi Global
Dalam laporan terbaru World Economic Outlook (WEO), Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3%, lebih rendah dari 3,5% pada tahun 2025. Penurunan ini mencerminkan dampak dari perang Timur Tengah, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian geopolitik yang mengganggu rantai pasok dan investasi. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi tetap dapat stabil berkat investasi dalam kecerdasan buatan (AI) dan teknologi lainnya, yang diperkirakan menjadi pendorong utama pada New Policy.
Adapun untuk Indonesia, IMF tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,0% pada 2026 dan 5,1% pada 2027. Proyeksi tersebut mengasumsikan harga minyak rata-rata di kisaran US$89 per barel, dengan harga energi saat ini mencapai 25% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang pecah di akhir Februari. New Policy yang diusung pemerintah diharapkan mampu memperkuat daya tarik investasi asing, terutama dalam sektor manufaktur dan perdagangan. Selain itu, kebijakan ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup celah ekonomi yang tercipta akibat tekanan global.

