Pria Singapura Dihukum Penjara karena Fetish Lihat Orang Diare

2 months ago  ·  3 min read
By Daniel Rodriguez - dailynesia.com
739611e6-b949-4017-943d-0c57591b34d8-0

Pria Singapura Dihukum Penjara karena Fetish Menonton Orang Diare

Dailynesia.com – Dalam kasus yang mencuri perhatian publik, seorang pria Singapura berusia 36 tahun divonis hukuman penjara selama enam tahun karena memiliki fetish atau ketagihan terhadap video orang, terutama remaja pria, mengalami gejala pencernaan seperti diare. Ia dikenal sebagai Chew Jun Yang, alias Sean, yang menggunakan berbagai cara untuk menipu korban agar berpartisipasi dalam proyek yang sebenarnya merupakan upaya mengambil video pelecehan. Kasus ini memperlihatkan bagaimana fetish bisa berubah menjadi tindakan kejahatan seksual yang menggangu kesehatan mental dan moral.

Kasus ini berlangsung dari 2018 hingga 2023, ketika Sean secara aktif menghubungi minimal 30 korban. Metode yang digunakannya cukup sederhana: ia menyamar sebagai siswa yang sedang melakukan survei untuk meneliti reaksi tubuh terhadap protein tertentu. Dengan mendekati korban secara personal, Sean berhasil memperoleh data pribadi seperti nama, jenis kelamin, usia, ras, tinggi badan, berat badan, sekolah, dan kegiatan ekstrakurikuler. Tidak hanya itu, ia juga meminta korban mengirimkan foto diri mereka dan menceritakan pengalaman keracunan makanan atau gejala pencernaan. Selain itu, Sean berusaha mengetahui cara korban merasa ketika sedang menderita sakit perut, bahkan memberi perintah untuk memakan bahan tertentu yang memicu diare.

Detail Kasus dan Metode Pelaku

Dalam beberapa kesempatan, Sean menargetkan korban yang berusia 13 hingga 15 tahun. Ia membangun hubungan dekat dengan korban menggunakan alasan yang tampak jujur, seperti mengatakan bahwa proyek tersebut untuk diteliti oleh lembaga penelitian ternama. Namun, sebenarnya ia hanya ingin merekam video korban saat sedang mengalami gejala pencernaan untuk menyenangkan ketagihannya. Beberapa korban merasa tidak nyaman karena bagian tubuh mereka terlihat dalam beberapa rekaman, namun tetap melanjutkan kerja sama karena tergoda oleh janji yang diberikan oleh Sean.

Menurut laporan Institute of Mental Health (IMH) pada Juli 2025, Chew telah mengidap gangguan fetishistik sejak usia 17 atau 18 tahun. Pemahaman ini membuatnya tertarik pada video anak laki-laki usia 13 hingga 15 tahun yang sedang mengalami gejala pencernaan. Fetish diare menjadi bagian dari kegemarannya, dimana ia merasa terangsang saat melihat tubuh korban yang terlihat lemah akibat kondisi tersebut.

Saat memasuki bulan April 2020, polisi menyita ponsel Sean setelah menemukan bukti video pelecehan yang melibatkan dua siswa. Meskipun ia dibebaskan dengan jaminan, Sean tetap melanjutkan aktivitasnya. Di September 2023, ia ditangkap dan ditemukan memiliki 19 rekaman video remaja pria saat sedang buang air besar. Jaksa menuntut hukuman antara enam tahun empat bulan hingga tujuh tahun satu bulan, dengan alasan bahwa tindakannya telah menimbulkan gangguan psikologis pada korban.

Analisis Kondisi Mental Pelaku

Kasus Sean menjadi contoh nyata bagaimana kondisi mental bisa memicu tindakan kejahatan. Psikolog menyatakan bahwa fetish merupakan bentuk penikaman visual yang memicu respons seksual terhadap objek tertentu. Dalam kasus ini, fetish diare berkembang menjadi kebiasaan tidak sehat yang berujung pada penipuan dan pemerkosaan visual terhadap remaja pria. Pengakuan bahwa Sean sadar akan tindakannya, seperti diungkapkan dalam persidangan, memperkuat bahwa ia tidak hanya mengalami gangguan mental tetapi juga secara sadar memanfaatkannya untuk melakukan kejahatan.

Proses penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa Sean tidak hanya memanfaatkan fetish diare sebagai alasan untuk menonton video, tetapi juga mengembangkannya menjadi cara untuk mengumpulkan bukti-bukti. Ia menggunakan teknik menggoda dan menyamar sebagai teman SD untuk memperkuat hubungan kepercayaan dengan korban. Keterlibatan fisik dalam proses pencatatan video menambah intensitas kejahatan ini, karena Sean tidak hanya menonton tetapi juga memperoleh akses eksklusif pada bagian tubuh korban yang terlihat lemah.

Para ahli menyatakan bahwa fetish diare bisa menjadi gejala awal dari gangguan mental yang lebih serius, seperti obsesi atau kecanduan. Dalam kasus Sean, kondisi ini memicu tindakan seksual yang tidak terkendali. Hukuman yang diberikan oleh pengadilan menunjukkan bahwa tindakan ini dianggap cukup serius, dengan penjara selama enam tahun sebagai hukuman akhir. Ini juga menunjukkan upaya pemerintah Singapura untuk memberikan hukuman yang memadai terhadap pelaku kejahatan yang memanfaatkan kondisi mental sebagai alasan.

Kasus ini menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat tentang batasan fetish dan tindakan kejahatan. Apakah fetish yang tidak mengganggu orang lain bisa dianggap sebagai kesalahan, atau apakah kebiasaan ini harus dihukum jika menimbulkan keterlibatan fisik atau emosional? Dengan tindakannya, Sean tidak hanya menikmati video tetapi juga mengambil partisipasi aktif dari korban, sehingga kejahatan ini menjadi lebih serius dari sekadar penontonan.

MORE FROM THIS CATEGORY