Video: Biaya Kirim Naik 30%, Eksportir Udang Berebut Kapal Kargo Murah

3 months ago  ·  3 min read
By William Moore - dailynesia.com
844d675c-9ca8-4be4-9039-eb57ca1302ad-0

Key Issue: Biaya Kirim Naik 30%, Eksportir Udang Berebut Kapal Kargo Murah

Dailynesia.com –

Key Issue: Fluctuations in Logistics Costs

Key Issue memperlihatkan tantangan serius yang dihadapi industri perikanan, khususnya eksportir udang, akibat kenaikan biaya pengiriman hingga 30% sepanjang tahun ini. Perusahaan seperti PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk (DSFI) mencatatkan laba bersih Rp4,3 miliar pada Kuartal I-2026, namun angka ini tidak cukup untuk mengimbangi tekanan logistik yang melonjak. Konflik geopolitik di Timur Tengah, yang memengaruhi harga minyak, menjadi salah satu penyebab utama peningkatan biaya operasional. Kenaikan biaya kirim memaksa eksportir berlomba mendapatkan kapal kargo dengan tarif lebih murah, terutama untuk mempertahankan daya saing di pasar internasional.

Key Issue: Impact on Exporters and Industry Strategy

Kenaikan biaya logistik menciptakan tekanan signifikan pada margin keuntungan eksportir udang. Presiden Direktur DSFI, Ewijaya, menjelaskan bahwa perusahaan sedang berusaha memaksimalkan kapasitas pengiriman per kontainer untuk menekan biaya operasional. “Key Issue utama saat ini adalah menemukan solusi efisien dalam distribusi,” ujarnya. Meski permintaan di pasar ekspor tetap kuat, perusahaan harus mengoptimalkan strategi distribusi untuk mengimbangi kenaikan biaya yang terus meningkat.

“Key Issue yang paling mendesak adalah ketersediaan kapal kargo dengan harga kompetitif. Kami terus berupaya mencari alternatif pengangkutan yang ekonomis,” tambah Ewijaya.

Perusahaan perikanan juga menghadapi persaingan ketat dari mitra bisnis lainnya yang ingin memanfaatkan kapal kargo dengan tarif lebih rendah. Dengan angka kenaikan biaya logistik mencapai 30%, eksportir diharuskan menghitung ulang strategi mereka untuk memastikan profitabilitas tetap terjaga. Tantangan ini semakin terasa seiring persaingan global yang semakin ketat, terutama di pasar Asia Timur dan Eropa.

Key Issue lainnya adalah pengaruh perang terhadap harga bahan bakar yang berdampak langsung pada biaya produksi. Nelayan yang mengandalkan bahan bakar minyak untuk operasional perahu mereka harus menghadapi kenaikan tarif bahan bakar hingga 20% sejak awal tahun. Hal ini memaksa perusahaan mengoptimalkan penggunaan bahan baku dan mengurangi biaya operasional sejak tahap produksi hingga distribusi. Untuk mempertahankan kompetitivitas, banyak eksportir mulai berkolaborasi dengan penyedia logistik lokal agar biaya pengiriman bisa dikurangi.

Key Issue yang terus berkembang juga mencakup perubahan permintaan pasar. Meski ekspor udang tetap diminati, kondisi ekonomi global yang tidak pasti membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Banyak eksportir memprioritaskan pengiriman ke negara-negara yang memiliki stabilitas politik dan ketersediaan pasar yang lebih terjamin. Selain itu, Key Issue terkait dengan efisiensi rantai pasok menjadi fokus utama dalam mencari solusi untuk mengurangi biaya logistik.

Key Issue ini juga memicu rencana pemerintah untuk memberikan insentif ekspor dan menstabilkan harga bahan bakar. Menteri Perdagangan mengungkapkan bahwa pihaknya sedang mengevaluasi kebijakan tarif dan subsidi untuk membantu industri perikanan menghadapi kenaikan biaya. Meski begitu, eksportir masih membutuhkan kepastian lebih jauh dalam beberapa bulan ke depan. “Key Issue ini akan berdampak jangka panjang jika tidak diatasi secara cepat,” kata salah satu analis pasar.

Dengan kenaikan biaya pengiriman mencapai 30%, Key Issue memperkuat peran logistik dalam keberhasilan ekspor udang. Perusahaan-perusahaan besar seperti DSFI tetap berupaya mempertahankan volume ekspor, meski harus menghadapi kesulitan dalam mengatur anggaran. Tantangan ini mengajarkan pentingnya diversifikasi saluran distribusi dan memperkuat hubungan dengan pihak ketiga yang bisa membantu mengurangi biaya operasional. Dengan strategi yang tepat, Key Issue ini bisa menjadi peluang untuk memperkuat posisi ekspor udang di pasar internasional.

MORE FROM THIS CATEGORY