Anak Tokoh Besar RI Pilih Hidup Sederhana, Tak Manfaatkan Nama Ibu
Dailynesia.com – Dalam sejarah bangsa Indonesia, tidak semua generasi dari keluarga berpengaruh memilih memanfaatkan popularitas orang tua. Salah satu contoh adalah Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, satu-satunya anak dari pahlawan nasional R.A. Kartini. Meski lahir dalam lingkungan yang mewah dan memiliki peluang besar untuk meraih kehidupan nyaman, Soesalit justru memilih jalur berbeda. Ia mengambil langkah mandiri tanpa bergantung pada nama besar sang ibu.
Berangkat ke Tentara pada 1943
Soesalit lahir dalam keluarga pejabat, ayahnya pernah menjabat sebagai Bupati Rembang. Namun, ia menolak untuk menggantikan posisi orang tuanya di pemerintahan. Saat usia 17 tahun, dia memutuskan bergabung dengan tentara Jepang dan kemudian menjadi anggota Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Setelah Indonesia merdeka, Soesalit bergabung ke Tentara Keamanan Rakyat Republik Indonesia, yang membuat kariernya mulai menanjak.
“Soesalit sebenarnya berhak menggantikan ayahnya sebagai bupati, tapi ia mantap menolaknya,” tulis Wardiman Djojonegoro dalam buku *Kartini (2024)*.
Pada 1946, Soesalit mencapai puncak prestasi di militer dengan menjabat sebagai Panglima Divisi II Diponegoro. Ia bertugas melindungi ibu kota negara di Yogyakarta dan pernah menjabat posisi sipil, seperti penasihat Menteri Pertahanan di Kabinet Ali Sastro pada 1953. Meski demikian, nama Soesalit tak sebesar ibunya, R.A. Kartini, yang terus menjadi inspirasi bagi banyak generasi.
Megang Prinsip sampai Akhir Hidup
Banyak orang pada masa itu mengenal lagu “Ibu Kita Kartini” yang dinyanyikan secara luas oleh W.R. Soepratman. Namun, Soesalit sengaja tidak memperkenalkan keistimewaan darahnya. Atasan sekaligus teman dekatnya, Jenderal Nasution, pernah menyaksikan sikap itu. “Dia tak pernah membanggakan bahwa ia keturunan Kartini,” kata Nasution, dikutip dari buku *Kartini: Sebuah Biografi (1979)*.
Keteguhan Soesalit membuatnya hidup sederhana meski sudah menjadi veteran. Ia tidak memanfaatkan pengaruh keluarga untuk menikmati kenyamanan hidup. Bahkan, ia rela menjadi bagian dari kehidupan yang melarat. Hingga akhir hayatnya pada 17 Maret 1962, Soesalit tetap berpegang pada prinsip yang ia anut sejak awal: menolak mengungkap identitas keluarga besar. Keputusan ini justru membuatnya dikenang sebagai sosok yang konsisten mempertahankan nilai-nilai kejujuran.

