Badan Siber dan Sandi Negara Tiba-Tiba Singgung Presiden Venezuela

3 months ago  ·  3 min read
By Christopher Moore - dailynesia.com
44f089c7-2c4f-417c-9b3b-a3ea5de07763-0

Topics Covered: Badan Siber dan Sandi Negara Tiba-Tiba Singgung Presiden Venezuela

Dailynesia.com – Dalam sebuah diskusi mengenai ancaman perang siber dan operasi hybrid war, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memperkenalkan topik utama yang menarik perhatian publik. Pertemuan tersebut menjadi ajang untuk menjelaskan berbagai strategi dan teknik yang digunakan dalam menyerang pemimpin negara, termasuk Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Topik covered ini mencakup analisis penggunaan teknologi digital, peretasan sistem, serta penggunaan intelijen untuk memengaruhi persepsi publik.

Peristiwa Penyergapan Presiden Venezuela

Dalam wawancara di Forum Nasional: Indonesia Digital Leap, Akselerasi Ekosistem Data Center, AI, dan Keamanan Siber untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Jakarta, Rabu (20/5/2026), Rachmad Wibowo, Wakil Kepala BSSN, menyebutkan bahwa pada 3 Januari, setelah perayaan malam tahun baru, terjadi serangan terhadap Presiden Venezuela dan istrinya, Silvia Flores. Serangan ini menurutnya dilakukan dengan tudingan penyebaran narkotika sebagai alasan, meskipun BSSN tidak langsung menilai kebenaran klaim tersebut.

“Tidak lebih dua bulan setelah itu, Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan yang sangat akurat di Teheran, yang mengakibatkan kematian Ayatullah Ali Khamenei, pimpinan tertinggi Iran,” tambah Rachmad. Ini menunjukkan bagaimana teknik penyergapan dan surveilans digital digunakan sebagai bagian dari strategi hybrid war yang kompleks.

Analisis Operasi Hybrid War

Rachmad menekankan bahwa BSSN fokus pada pola operasi dalam mengevaluasi peristiwa tersebut. Dalam konteks perang siber, operasi di Caracas dan Teheran dianggap sebagai contoh penerapan teknologi canggih untuk mengendalikan alur informasi dan memengaruhi keputusan politik. “Kita memperhatikan bagaimana operasi di Caracas dan Teheran dijalankan dengan presisi melalui penguasaan sistem elektronik dan intelijen digital,” jelas Rachmad. Dengan topik covered ini, BSSN berupaya memperjelas mekanisme serangan yang terus berkembang di era digital.

Menurut Rachmad, serangan terhadap Maduro dilakukan dengan memanfaatkan teknologi penyadapan dan pencakupan sistem elektronik. “Informasi yang muncul menunjukkan mereka secara terbuka mengakui melakukan surveillance dan reconnaissance terhadap infrastruktur elektronik,” ujarnya. Teknik ini menurutnya memungkinkan pengumpulan data secara terus-menerus, hingga beberapa bulan sebelum operasi utama dijalankan.

Operasi inti sendiri berlangsung singkat, kurang dari tiga jam. “Kegiatan utama hanya terjadi dua jam 20 menit, sementara pengumpulan data memakan waktu yang lebih lama,” lanjut Rachmad. Hal ini mencerminkan strategi yang dipersiapkan matang, termasuk penggunaan AI untuk menyerang persepsi publik dan menciptakan chaos. Dengan topik covered ini, BSSN menyoroti pentingnya sistem keamanan siber yang kuat dalam menghadapi ancaman global.

Di sisi lain, Rachmad juga mengungkapkan bahwa masuknya ratusan pesawat Amerika ke Caracas tanpa diketahui oleh militer Venezuela menjadi bagian dari strategi hybrid war. “Ini adalah operasi pre-positioning yang memadukan AI untuk menyerang persepsi publik,” katanya. Selain itu, teknik electronic warfare yang digunakan untuk mengganggu radar dan pertahanan udara musuh juga menjadi poin penting dalam topik covered yang diangkat.

Analisis BSSN menunjukkan bahwa keberhasilan operasi tersebut didasari oleh kombinasi perang siber dan perang informasi. “Kita menilai bahwa perang siber dan perang hybrid war tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga kecanggihan teknologi dan penguasaan data,” ujarnya. Dengan topik covered ini, BSSN memberi peringatan bahwa negara-negara besar semakin memperluas kekuasaan mereka melalui operasi digital yang terencana.

MORE FROM THIS CATEGORY