Terungkap Ilmuwan Buat Ribuan Gempa di Bawah Gunung Alpen – Ada Apa?

3 months ago  ·  2 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
pegunungan-alpen-1778494654383_169

Ilmuwan Sukses Pemicu Ribuan Gempa Kecil di Bawah Pegunungan Alpen

Dailynesia.com – Sekelompok peneliti berhasil menciptakan ribuan gempa kecil secara terkontrol di bawah Pegunungan Alpen, Swiss. Proyek ini dianggap sebagai inovasi penting dalam memahami mekanisme gempa sekaligus mengurangi risiko bencana seismik di masa depan.

Eksperimen dilakukan di BedrettoLab, laboratorium bawah tanah milik Institut Teknologi Federal Zurich (ETH Zurich). Tim peneliti memanfaatkan terowongan ventilasi sepanjang 5,2 kilometer untuk memicu aktivitas seismik. “Kami mendeteksi seismisitas,” kata Profesor Geologi ETH Zurich, Domenico Giardini, seperti dikutip AFP, Senin (11/5/2026). “Tujuan kami adalah mempelajari pergerakan patahan di kedalaman bumi,” tambahnya.

Proyek FEAR-2: Memicu Gempa dengan Teknik Injeksi Air

Pada akhir April 2026, tim ilmuwan Eropa melakukan penelitian bertajuk Fault Activation and Earthquake Rupture (FEAR-2). Mereka menyuntikkan sekitar 750 meter kubik air ke dalam lubang bor di dinding batuan. Tujuannya adalah memicu gempa kecil secara langsung di patahan yang sudah ada.

“Kami tidak menciptakan patahan baru. Kami hanya memfasilitasi pergerakannya,” jelas Giardini.

Metode ini berbeda dari penelitian gempa tradisional yang hanya mengandalkan sensor dan menunggu aktivitas alami. BedrettoLab justru sengaja “menggerakkan” patahan untuk mempelajari responsnya secara langsung. Seluruh proses dikendalikan dari jarak jauh demi keamanan.

Eksperimen berhasil memicu sekitar 8.000 aktivitas seismik kecil. Getaran terjadi bukan hanya di patahan utama, tetapi juga di patahan lain yang berada tegak lurus. Magnitudo gempa berkisar antara minus 5 hingga minus 0,14 Skala Richter. Meski belum mencapai target magnitudo 1, Giardini menilai ini sebagai keberhasilan besar.

“Kami tidak mencapai magnitudo yang telah ditetapkan, tetapi berhasil mendekatinya secara signifikan,” katanya. “Eksperimen serupa belum pernah dilakukan dalam skala dan kedalaman sebesar ini.”

Hasil penelitian ini tidak terasa di permukaan. Giardini memastikan bahwa aktivitas gempa hanya menambah sekitar 1% dari risiko alami yang sudah ada di daerah tersebut. Proyek ini diharapkan bisa mencegah gempa besar akibat aktivitas manusia, seperti pengeboran atau fracking.

“Jika kita menguasai cara menghasilkan gempa dengan ukuran tertentu, kita juga tahu cara menghindarinya. Kita perlu belajar melakukan ini dengan lebih aman,” ujarnya.

Contoh nyata dampak aktivitas industri bawah tanah adalah gempa 5,4 Skala Richter di Pohang, Korea Selatan, pada 2017, yang dipicu oleh injeksi air dalam proyek panas bumi. Dengan memahami mekanisme tersebut, ilmuwan bisa mengembangkan strategi pencegahan gempa besar di masa depan.

MORE FROM THIS CATEGORY