Tak Mau Kalah dari NASA, China Siap Bawa 3 Taikonaut ke Bulan
Dailynesia.com – Dalam upaya menegaskan dominasi dalam eksplorasi luar angkasa, China telah mengumumkan rencana khusus yang disebut Special Plan, yang bertujuan mengirimkan tiga taikonaut ke Bulan pada 2030. Rencana ini menjadi bagian dari ambisi negara tersebut untuk membangun kekuatan teknologi dan kehadiran di luar Bumi, sambil mengantisipasi kompetisi dengan program NASA yang lebih dulu mencapai tujuan serupa. Peluncuran Shenzhou-23 pada 25 Mei 2026 di Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan, Provinsi Gansu, merupakan langkah penting dalam rangkaian Special Plan yang dirancang untuk mempercepat kemajuan program antariksa berawak China.
Progres Misi dan Strategi Khusus
Misi Shenzhou-23 ini dilakukan menggunakan roket Long March-2F Y23, yang merupakan versi terbaru dari teknologi peluncur yang telah teruji dalam sejumlah misi sebelumnya. Sebelumnya, misi Shenzhou-22 diluncurkan lebih awal dari jadwal pada November 2025, dengan tujuan mengevakuasi tiga astronot setelah pesawat Shenzhou-20 mengalami kerusakan akibat puing-puing antariksa yang terperangkap di orbit. Hal ini menunjukkan komitmen Beijing dalam memperkuat sistem peluncuran dan operasi stasiun ruang angkasa Tiangong, yang menjadi fondasi penting untuk mewujudkan Special Plan menuju Bulan.
Di bawah bayang-bayang Special Plan, tiga taikonaut yang diterbangkan dalam Shenzhou-23—Zhu Yangzhu, Zhang Zhiyuan, dan Lai Ka-ying—diberikan pelatihan intensif selama bertahun-tahun untuk memastikan keberhasilan misi. Zhu Yangzhu, komandan misi ini, dikenal sebagai salah satu astronot paling berpengalaman di China, sementara Zhang Zhiyuan dan Lai Ka-ying memiliki latar belakang teknis yang memadai. Dengan menggabungkan keahlian berbagai bidang, tim ini dirancang untuk menjadi pilar utama dalam menguji kemampuan teknologi dan persiapan manusia untuk eksplorasi jangka panjang di Bulan.
Salah satu keberhasilan besar dalam Special Plan adalah rekor durasi tinggal di stasiun ruang angkasa Tiangong yang diusahakan mencapai satu tahun. Jika terwujud, ini akan menjadi peningkatan signifikan dibandingkan pencapaian sebelumnya. Durasi yang lebih lama memungkinkan para taikonaut mengumpulkan data kritis tentang dampak luar angkasa terhadap tubuh manusia, serta menguji keandalan sistem kehidupan di orbit. Special Plan juga mencakup pengembangan fasilitas penelitian dan teknologi komunikasi, yang menjadi prasyarat utama untuk misi luar angkasa jangka panjang.
Kompetisi dengan NASA dan Tujuan Jangka Panjang
Program NASA, khususnya Artemis, telah mengirimkan astronot ke Bulan sejak tahun 1960-an. Dengan Special Plan, China ingin menegaskan bahwa negara tersebut tidak hanya mengejar kemajuan teknologi, tetapi juga membangun identitas keberhasilan sendiri di luar Bumi. Target pendaratan manusia di Bulan pada 2030 adalah bagian dari strategi nasional yang lebih luas, yang melibatkan kolaborasi antar pemerintah, perusahaan swasta, dan lembaga penelitian. Special Plan mencakup pengembangan roket berkapasitas lebih besar, seperti Changzheng-8, dan pembangunan stasiun ruang angkasa berbasis di orbit yang lebih canggih.
Kepala Badan Antariksa Berawak China (CNSA) menegaskan bahwa Special Plan akan mempercepat pengembangan sistem operasional yang mandiri, termasuk penelitian tentang sumber daya luar angkasa, seperti air dan mineral, yang bisa digunakan untuk kehidupan jangka panjang. Dalam upaya ini, misi Shenzhou-23 tidak hanya menjadi uji coba teknis, tetapi juga melatih taikonaut untuk menghadapi tantangan seperti radiasi luar angkasa dan kondisi gravitasi rendah. Special Plan diharapkan menjadi landasan bagi misi kemanusiaan ke Bulan, yang akan mengubah paradigma eksplorasi antariksa global.
Para penonton yang berkumpul di Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan menunjukkan antusiasme tinggi saat roket Long March-2F Y23 memulai perjalanannya ke langit. Anak-anak melambaikan bendera sementara ratusan warga mengikuti peluncuran secara langsung. Sorak sorai yang terdengar di udara menandai kesuksesan Special Plan dalam menginspirasi masyarakat luas. Misi ini juga dianggap sebagai peningkatan nilai ekonomi dan kebanggaan nasional, karena memperlihatkan kemampuan teknologi tinggi China di bidang luar angkasa.
Dalam konteks Special Plan, misi Shenzhou-23 menjadi bagian dari kebijakan luar angkasa yang lebih komprehensif. China berkomitmen untuk mengembangkan sumber daya dan fasilitas penelitian di Bulan, seperti bumi kembali di Bumi, dengan skala produksi yang lebih besar. Dengan dana yang dialokasikan melalui Special Plan, program ini berupaya menegaskan bahwa negara tersebut tidak hanya ingin menyamai NASA, tetapi juga mengambil peran utama dalam eksplorasi luar angkasa berbasis manusia. Teknologi dan strategi yang diuji dalam misi ini akan menjadi pedoman bagi misi-misi ke depan, termasuk pendaratan pertama manusia ke Bulan pada 2030.

