Peringatan Buat Warga Bandung – BRIN Ungkap Fakta Mengerikan

2 months ago  ·  2 min read
By David Williams - dailynesia.com
gedung-sate-bandung-1766903092625_169

Peringatan Buat Warga Bandung, BRIN Ungkap Fakta Mengerikan

Dailynesia.com – Kualitas udara Kota Bandung terus menurun, menurut temuan penelitian yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Data menunjukkan kadar partikel PM2.5 di wilayah tersebut melebihi batas ambang tahunan yang ditetapkan pemerintah, yaitu 15 µg/m³. Penelitian ini dilakukan oleh tim Metode Analitik Nuklir (MAN) dari Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir (PRTABN) Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN).

Metodologi Penelitian

Pemantauan kualitas udara dilakukan di kawasan Tamansari Bandung selama periode Juni 2022 hingga Mei 2023. Alat yang digunakan adalah sensor PurpleAir (PA-II), yang dibandingkan dengan sistem pemantauan standar berbasis filter, Super Speciation Air Sampling System (SuperSASS). Hasilnya, rata-rata konsentrasi PM2.5 mencapai 31,51 µg/m³ berdasarkan SuperSASS, sementara PurpleAir menunjukkan angka 39,04 µg/m³.

Polusi Udara Puncak

Temuan lain menunjukkan bahwa tingkat konsentrasi PM2.5 mencapai puncaknya pada jam-jam sibuk masyarakat. Periode paling tinggi terjadi antara pukul 06.00 hingga 08.00 pagi, serta kembali naik pada 18.00-23.00 malam hari. “Emisi kendaraan meningkat saat jam sibuk, ditambah kondisi udara yang lebih stabil membuat polutan lebih sulit menguap,” kata Peneliti Ahli Muda PRTABN, Feni Fernita Nurhaini, seperti yang dilaporkan dalam laman resmi BRIN, Selasa (26/5/2026).

“PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang bisa masuk ke paru-paru bahkan aliran darah. Paparan jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, gangguan jantung, hingga kematian dini,” jelas Feni.

Peran Musim dalam Polusi

Peneliti juga menemukan bahwa musim memengaruhi tingkat polusi. Konsentrasi PM2.5 meningkat di musim kemarau, sementara menurun pada musim hujan karena partikel diangkut oleh air. Mereka mencatat data tertinggi pada Juli-Agustus 2022, dan terendah saat curah hujan tinggi, yaitu Januari hingga Februari 2023.

Feni menambahkan bahwa kualitas udara perkotaan harus dipantau secara konsisten, terutama di area dengan kepadatan aktivitas masyarakat. “Dengan kondisi ini, risiko kesehatan semakin tinggi,” katanya.

MORE FROM THIS CATEGORY