Banyak Perusahaan Menyesal Ganti Manusia dengan AI

1 month ago  ·  3 min read
By Anthony Johnson - dailynesia.com
ef212066-dbae-4501-b516-12473c6270c4-0

Banyak Perusahaan Menyesal Ganti Manusia dengan AI

Dailynesia.com – Menjadi sorotan utama dalam diskusi industri saat ini, terutama di tengah pergeseran strategi perusahaan dalam menghadapi kekhawatiran tentang penggunaan kecerdasan buatan (AI). Sejumlah besar perusahaan yang sebelumnya memprioritaskan penggantian manusia dengan sistem otomatis kini merevisi kebijakan mereka, mencerminkan pengakuan bahwa AI belum mampu sepenuhnya menggantikan kecermatan dan adaptasi manusia. Perubahan ini tidak hanya menciptakan pergeseran dalam struktur organisasi, tetapi juga memengaruhi kebijakan sumber daya manusia, dengan banyak perusahaan kembali memperhatikan kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan.

Revisi Kebijakan: Dari Otomatisasi ke Kolaborasi

Sebagai bagian dari New Policy, beberapa perusahaan terkemuka mulai mengevaluasi kembali efektivitas AI dalam mengotomatisasi proses kerja. Contohnya, Ford, yang awalnya menyusun rencana pengurangan karyawan dengan bantuan AI, kini merevisi kebijakan tersebut setelah menemukan kelemahan teknologi dalam menangani masalah kompleks seperti kualitas produk. Perusahaan ini berpaling ke insinyur berpengalaman yang mampu memberikan analisis mendalam dan solusi kreatif.

“AI adalah alat yang luar biasa, tetapi kinerjanya bergantung pada kualitas data pelatihannya,” kata Charles Poon, Wakil Presiden Ford, menurut laporan CNBC Internasional. Perusahaan ini mengakui bahwa otomatisasi belum mampu menggantikan kecermatan manusia dalam menjaga standar kualitas.

Perubahan serupa juga terjadi di Commonwealth Bank of Australia (CBA), yang sebelumnya mengganti 40 pegawai layanan pelanggan dengan bot AI. Namun, sistem tersebut justru memicu peningkatan jumlah panggilan pelanggan karena kesulitan menyelesaikan keluhan yang membutuhkan empati. Dalam konteks New Policy, CBA kini fokus pada penyesuaian model kerja yang lebih seimbang antara teknologi dan kehadiran manusia.

AI Tidak Menyelesaikan Semua Masalah

IBM juga terlibat dalam rencana New Policy ini, dengan mengakui bahwa meski AI mampu menangani 94% permintaan rutin, 6% kasus yang tersisa—terutama terkait dilema etika—masih membutuhkan campur tangan manusia. Akibatnya, perusahaan ini memutuskan untuk melipatgandakan jumlah perekrutan karyawan junior di Amerika Serikat, sebagai langkah untuk memastikan ketersediaan talenta yang mampu memanfaatkan AI secara optimal.

“Jika kami tidak terus berinvestasi pada perekrutan level pemula, apa yang akan terjadi dalam tiga hingga lima tahun ke depan?” ujar Nickle LaMoreaux, Chief Human Resources Officer IBM. Kebijakan ini mengisyaratkan bahwa New Policy tidak hanya tentang penggantian, tetapi juga pembinaan sumber daya manusia yang kompeten dalam era digital.

Berdasarkan laporan Intuition Labs, kebijakan New Policy ini juga terkait dengan upaya perusahaan untuk mengatasi kekurangan dalam pelatihan karyawan. Banyak perusahaan terlalu fokus pada otomatisasi tanpa mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan keterampilan tim mereka. Hasilnya, AI sering kali dianggap sebagai alat yang tidak sepenuhnya efektif jika tidak didukung oleh keahlian manusia.

Kebutuhan Manusia dalam Proses Kebijakan

Data dari Robert Half menunjukkan bahwa 32% manajer perekrutan AS mengakui kesalahan dalam kebijakan pemangkasan pekerjaan akibat AI. Di sisi lain, 39% pemimpin perusahaan menyatakan bahwa penggantian manusia dengan AI harus disertai dengan evaluasi kembali kebutuhan kerja. Ini menegaskan bahwa New Policy kini mencakup penyesuaian pada bagaimana AI diintegrasikan dengan sistem kerja manusia.

“Ketika hasil AI tidak konsisten, tidak akurat, atau sulit diterapkan, perusahaan sering kali perlu kembali menghadirkan pengawasan manusia,” ujar Jessica Zhang, Senior Vice President di ADP. Kebutuhan ini menyoroti bahwa meskipun AI meningkatkan efisiensi, manusia tetap menjadi komponen yang tidak bisa digantikan dalam pengambilan keputusan strategis.

Perusahaan-perusahaan yang merevisi New Policy mereka juga mulai menyadari bahwa kecerdasan buatan adalah alat yang memperkuat, bukan menggantikan, kekuatan manusia. Dengan pendekatan kolaboratif, mereka berharap mencapai keseimbangan antara inovasi teknologi dan keunggulan keterampilan manusia, yang menjadi kunci untuk menjaga daya saing di pasar yang terus berubah.

MORE FROM THIS CATEGORY