Main Agenda: China Ikut Aturan Trump, Dampak Global Mulai Terasa
Dailynesia.com – Dalam upaya mengatasi persaingan global di bidang teknologi, Main Agenda menjadi fokus utama pemerintah Tiongkok yang kini mengadopsi kebijakan serupa dengan pendekatan pemerintahan Trump. Langkah ini diambil secara mendadak dan memicu kekhawatiran di seluruh dunia terhadap dampaknya terhadap rantai pasok global dan pengembangan kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan laporan terkini dari Jakarta, Beijing sedang memperketat kontrol terhadap model-model AI tercanggih mereka, termasuk yang belum dirilis ke publik, sebagai bagian dari strategi untuk melindungi keunggulan teknologi nasional.
Kebijakan Trump yang Menjadi Inspirasi
Kebijakan Main Agenda Tiongkok dianggap sebagai refleksi pendekatan Trump yang terkenal konservatif. Sebelumnya, pemerintahan Trump memerintahkan Anthropic untuk membatasi akses ke model AI teratas mereka, Mythos 5 dan Fable 5, bagi warga negara asing. Meskipun keputusan ini akhirnya dicabut, dampaknya tetap menjadi bahan pertimbangan Beijing. Perusahaan teknologi besar seperti Alibaba, ByteDance, dan Z.ai turut terlibat dalam diskusi untuk merumuskan aturan Main Agenda yang lebih ketat, dengan tujuan memperkuat posisi dominan China di pasar global.
Dampak Global dan Potensi Konflik Teknologi
Dengan mengadopsi Main Agenda, China berharap mengurangi risiko kebocoran teknologi strategis dan meningkatkan kemandirian industri AI. Model-model AI seperti DeepSeek R1 yang telah diluncurkan tahun lalu menunjukkan kemajuan pesat, sehingga membuat pihak asing mulai khawatir tentang kompetisi yang semakin ketat. Jika Main Agenda diterapkan, perusahaan internasional yang mengandalkan model AI Tiongkok mungkin mengalami kenaikan biaya operasional, yang bisa memengaruhi profitabilitas mereka.
“Kemampuan model AI Tiongkok yang terus meningkat dan biaya produksi yang lebih rendah telah membuat mereka menjadi ancaman signifikan bagi industri global,”
Menurut analis kebijakan teknologi, perubahan ini juga mencerminkan kecemasan Beijing terhadap kemungkinan dominasi teknologi buatan Amerika Serikat. Kementerian Perdagangan Tiongkok dan Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) sedang mempertimbangkan kebijakan Main Agenda yang mencakup larangan pendanaan bagi startup AI dalam negeri dan penggunaan keamanan nasional sebagai dasar hukum. Langkah ini memperkuat posisi China sebagai penantang utama dalam ekosistem AI global.
Pada April, Beijing memerintahkan Meta untuk membatalkan akuisisi Manus senilai 2 miliar dolar AS, yang menjadi contoh nyata dari upaya Main Agenda dalam mengontrol alur teknologi. Selain itu, penyelidikan terhadap beberapa startup AI lokal yang memindahkan operasi ke luar negeri, seperti Manus, juga menunjukkan komitmen Tiongkok untuk menjaga kemandirian teknologi. Dampak kebijakan ini tidak hanya terasa di tingkat perusahaan, tetapi juga memengaruhi hubungan diplomatik dan ekonomi antar negara.
Dalam pertemuan terbaru, para pemangku kebijakan Tiongkok menekankan perlunya pengembangan model AI “Mythos” mereka sendiri untuk mengejar kesetaraan dengan produk luar. Zhou Hongyi, pendiri 360 Cyber Security, menyoroti bahwa Main Agenda ini tidak hanya tentang kontrol teknologi, tetapi juga tentang menyiapkan cadangan strategis di tengah ketidakpastian geopolitik. Dengan memperketat aturan Main Agenda, China berupaya memastikan bahwa kemajuan teknologinya tidak tergantung pada pihak luar.
Langkah Main Agenda yang diambil Tiongkok diharapkan bisa menjadi referensi bagi negara-negara lain yang ingin memperkuat perlindungan teknologi nasional. Meski demikian, kebijakan ini juga menimbulkan tantangan dalam menyeimbangkan inovasi dengan regulasi. Dengan memperkenalkan kebijakan Main Agenda yang lebih ketat, China berharap menjaga keunggulan industri AI mereka sambil menjaga keterbukaan perdagangan global.

