Warga RI Mulai Ramai-Ramai Bikin Solar Premium dari Sampah Plastik

1 month ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
eb1a15ae-e10c-45ed-b773-661b0e7ecf22-0

Latest Program: Warga RI Mulai Produksi Solar Premium dari Sampah Plastik

Proses Inovatif Mengubah Limbah Plastik Menjadi Energi Bersih

Dailynesia.com – Warga Indonesia, terutama di Yogyakarta, mulai secara aktif mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan yang mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar berkualitas, yaitu Solar Premium. Teknologi ini dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui metode pirolisis Fastpol, yang menjadi salah satu solusi inovatif dalam pengurangan sampah plastik low value. Upaya ini diluncurkan di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Selasa (9/6/2026), dengan harapan bisa menjadi model pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Pemanfaatan Berbagai Jenis Plastik Residu untuk Energi Alternatif

BRIN, bekerja sama dengan berbagai mitra, menargetkan pengolahan berbagai jenis plastik residu, termasuk kemasan multilayer, plastik campuran, dan limbah plastik yang tidak memiliki nilai ekonomi. Proses pirolisis dilakukan dengan suhu antara 250 hingga 350 derajat Celcius dalam lingkungan sedikit atau tanpa oksigen. Hasilnya adalah bahan bakar cair bernama Petasol, yang bisa digunakan untuk mesin diesel. Teknologi ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan alternatif energi yang lebih ramah lingkungan.

Latest Program ini sangat menarik karena memanfaatkan sumber daya yang biasanya dianggap tidak berguna. Heru Susanto, periset BRIN, menjelaskan bahwa setiap kilogram sampah plastik bisa menghasilkan 0,8 hingga 0,9 liter Petasol. “Ini bukan hanya inovasi teknis, tetapi juga strategi pemanfaatan sumber daya lokal yang berkelanjutan,” kata Heru dalam keterangannya, dikutip Sabtu (27/6/2026).

Proses konversi sampah ke bahan bakar membutuhkan waktu tujuh hingga delapan jam. Setelah melalui tahap pemanasan dan pemisahan, Petasol dihasilkan dalam bentuk cair yang jernih dan siap digunakan. Teknologi ini dinilai punya potensi ekonomi besar karena biaya produksinya rendah, sementara hasil yang diperoleh bisa menjadi pengganti bahan bakar tradisional. Selain itu, produksi Petasol membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak bumi dan mengurangi polusi udara akibat pembakaran sampah plastik.

Potensi Teknologi Petasol untuk Industri dan Transportasi

Latest Program ini juga menarik perhatian sektor industri dan transportasi. Edi Hilmawan, Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi BRIN, menyebutkan bahwa Petasol memiliki angka cetane sebesar 51, yang lebih tinggi dari standar solar biasa yang berkisar antara 48 hingga 50. “Kualitas pembakaran Petasol sangat baik, sehingga bisa digunakan untuk kendaraan dan mesin industri tanpa mengurangi performa,” tambah Edi.

Keberhasilan inovasi ini membutuhkan kolaborasi antara pengelolaan sampah dan teknologi. Heru Susanto menekankan bahwa meskipun mesin pirolisis Fastpol telah tervalidasi, pemilahan sampah sejak tingkat rumah tangga tetap menjadi faktor kunci. “Pemilahan sampah yang baik mengurangi risiko kontaminasi, sehingga memastikan hasil konversi tetap berkualitas,” jelasnya. Dengan Latest Program ini, BRIN berharap masyarakat lebih antusias mengelola sampah mereka secara bijak.

Kemitraan Luas untuk Mendukung Implementasi Teknologi

BRIN berkomitmen untuk memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, serta industri. Kemitraan ini tidak hanya mempercepat adopsi teknologi, tetapi juga memberikan pelatihan dan pendampingan bagi warga yang ingin memulai produksi Petasol. “Kita ingin menyebarluaskan teknologi ini secara bertahap, agar bisa diakses oleh masyarakat umum,” ungkap Edi Hilmawan.

Latest Program ini juga diharapkan bisa menjadi bagian dari upaya nasional pengurangan plastik. Dengan mengubah sampah plastik menjadi energi, BRIN memperlihatkan bahwa teknologi bisa menjadi jembatan antara masalah lingkungan dan peluang ekonomi. “Ini adalah langkah awal, tapi kita perlu terus berkembang agar bisa mencapai skala yang lebih besar,” lanjut Edi.

MORE FROM THIS CATEGORY