Temuan Baru Bawa Petaka Bagi China, RI Bisa Kena

2 months ago  ·  2 min read
By David Williams - dailynesia.com
ec4e6c3c-1844-4b40-a0ff-b9e48cc3dd07_169

Temuan Baru Bawa Petaka Bagi China, RI Bisa Kena

Dailynesia.com – Dua perusahaan startup Eropa, Altilium dari Inggris dan Tozero dari Jerman, tengah mengembangkan teknologi baterai daur ulang yang diharapkan bisa mengurangi ketergantungan global pada China. Upaya ini bertujuan untuk memenuhi aturan baru yang berlaku di Eropa mulai Agustus 2030, yang memaksa 6 persen lithium, nikel, serta 16 persen kobalt dalam baterai kendaraan listrik harus berasal dari proses daur ulang. Angka minimal ini akan terus ditingkatkan setiap lima tahun.

Langkah Kompetitif untuk Menggantikan Dominasi China

Kemajuan dari Altilium dan Tozero, menurut laporan Reuters, menjadi ancaman nyata bagi China yang sebelumnya mendominasi bidang daur ulang baterai. CEO Altilium, Christian Marston, menekankan bahwa baterai kecil berbahan katoda daur ulang menunjukkan performa sebanding dengan baterai yang menggunakan material baru. Katoda biasanya terdiri dari lithium, kobalt, nikel, dan mangan.

Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, menjadi salah satu sumber utama bahan baku baterai kendaraan listrik. Marston menjelaskan bahwa material daur ulang mampu mengurangi emisi CO2 hingga 70 persen dan lebih ekonomis 20 persen dibanding bahan baru. “Inovasi teknis ini menjadikan penggunaan material daur ulang aman bagi produsen mobil,” tutur Marston kepada Reuters, Senin (25/5/2026).

Proyek Kolaborasi dan Produksi Grafit

Altilium saat ini bekerja sama dengan Tata Motors dari India untuk menghasilkan sel baterai berbahan daur ulang dari Jaguar i-Pace. Di sisi lain, Tozero, yang didukung oleh Honda, sedang membangun pabrik grafit daur ulang. Proses hidrometalurgi yang dikembangkan ini dijanjikan mampu mencapai emisi nol jika didukung energi terbarukan. Grafit kini berkontribusi hingga 40 persen pada jejak karbon baterai lithium ion.

Rencananya, pabrik Tozero akan mulai beroperasi pada 2027 dengan kapasitas produksi hingga 2.000 ton grafit daur ulang per tahun. Kapasitas tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan baterai 50.000 kendaraan listrik. Keberhasilan proyek ini berpotensi mengubah lanskap industri baterai global, sekaligus memperkuat posisi negara-negara lain dalam rantai pasokan energi listrik.

MORE FROM THIS CATEGORY