Ditolak China Mentah-Mentah, AS Tak Malu Ngarep Rp 3.500 Triliun

2 months ago  ·  3 min read
By David Williams - dailynesia.com
presiden-china-xi-jinping-memperlihatkan-suasana-kompleks-bersejarah-zhongnanhai-kepada-presiden-amerika-serikat-donald-trump-1778835074338_169

Latest Program: AS Tantang Tiongkok Dalam Rp 3.5 Triliun

Pernyataan di Taipei

Dailynesia.com – Jakarta, CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan bahwa China tetap menjadi bagian dari proyeksi pasar CPU senilai US$200 miliar atau sekitar Rp 3,5 triliun yang ditargetkan perusahaan. Pernyataan itu disampaikan saat ia tiba di Taipei, Sabtu (23/5/2026), menjelang acara teknologi Computex bulan depan. Huang menegaskan bahwa perusahaan masih menganggap Tiongkok sebagai pasar strategis jangka panjang, meski hubungan teknologi antara AS dan Tiongkok belum pulih sepenuhnya. Dalam wawancara, ia menjelaskan bahwa strategi perusahaan mencakup penyesuaian kebijakan ekspor untuk memperkuat kehadiran di pasar Asia Tenggara.

Latest Program menunjukkan bahwa Nvidia tidak hanya fokus pada ekspor chip GPU, tetapi juga menargetkan pertumbuhan signifikan di sektor CPU. Huang menyoroti bahwa proyeksi ini mencerminkan kepercayaan perusahaan terhadap potensi Tiongkok sebagai salah satu basis pengguna teknologi AI yang terus berkembang. Meski sempat mengalami tekanan dari kebijakan AS, ia optimis bahwa Tiongkok akan menjadi partner utama dalam era digital yang semakin cepat.

Perluasan Bisnis ke CPU

Latest Program mencakup rencana ekspansi Nvidia ke pasar CPU yang semakin menjanjikan. Perusahaan ini mulai menggeser fokus bisnisnya dari dominasi chip grafis (GPU) ke teknologi prosesor yang bisa beroperasi secara mandiri, terutama dalam aplikasi AI. Dalam paparan kinerja perusahaan pekan ini, Huang menyebut prosesor Vera, yang dirilis dalam rangka mengakui kebutuhan pasar, membuka akses ke segmentasi senilai US$200 miliar. Ia menambahkan bahwa lini produk terbaru ini akan mendukung pertumbuhan perusahaan, sambil memperkuat dominasi chip AI andalan mereka.

Latest Program juga menyoroti bagaimana Nvidia berusaha memperluas jangkauan bisnisnya ke luar AS. Kebijakan ekspor yang terbatas dari pemerintah AS telah memaksa perusahaan untuk lebih fokus pada pasar Asia Tenggara, termasuk Tiongkok. Huang menegaskan bahwa perusahaan tengah menyiapkan strategi untuk menjaga konsistensi dalam penyediaan teknologi ke pasar-pasar yang terus berkembang, meski harus menghadapi tantangan politik.

Tantangan di Pasar China

Di sisi lain, akses Nvidia ke pasar Tiongkok masih menghadapi hambatan. Perusahaan telah memperoleh lisensi dari pemerintah AS untuk mengekspor chip AI H200, tetapi hingga kini belum mendapatkan persetujuan dari otoritas Tiongkok yang sedang mendorong pengembangan industri chip lokal. Huang menyatakan bahwa kondisi ini semakin memperkuat posisi perusahaan raksasa Tiongkok, Huawei, dalam pasar chip AI. Meski begitu, ia tetap optimis bahwa Nvidia bisa menyesuaikan diri dan memperoleh pangsa pasar yang lebih luas.

Latest Program menekankan bahwa kebijakan AS terhadap Tiongkok memengaruhi strategi global perusahaan. Huang menjelaskan bahwa keputusan untuk memperluas ke sektor CPU adalah respons atas keterbatasan akses ke Tiongkok. Ia menambahkan bahwa perusahaan sedang membangun kerja sama dengan pihak ketiga untuk memastikan keberlanjutan bisnis di tengah tekanan geopolitik. “Kami berkomitmen pada inovasi, dan kebijakan pemerintah tidak akan menghentikan upaya kami,” ujarnya.

Pengembangan Teknologi AI

Dalam rangka menopang proyeksi pasar CPU, Nvidia juga fokus pada pengembangan teknologi AI. Latest Program menyoroti bahwa prosesor Vera dirancang untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur cloud dan data center yang semakin memadat. Teknologi ini diharapkan bisa menjadi bagian dari ekosistem AI global, terlepas dari ketergantungan pada chip AS. Huang menegaskan bahwa penjualan chip AI andalan mereka telah melebihi proyeksi US$1 triliun, meski pasar Tiongkok sempat mengalami gangguan.

Latest Program juga membahas bagaimana pertumbuhan teknologi AI di Tiongkok berdampak pada persaingan global. Perusahaan-perusahaan teknologi AS seperti Nvidia terus berusaha menyesuaikan diri dengan regulasi baru, sementara Tiongkok mengembangkan industri chip lokalnya. Huang mengakui bahwa China telah menjadi pelaku utama dalam inovasi teknologi, tetapi optimis bahwa ekspor dari AS tetap penting untuk kemajuan industri.

Strategi Global dan Ekspektasi

Latest Program menunjukkan bahwa Nvidia mengadopsi strategi global yang lebih terbuka. Meski sempat mengalami tekanan dari Tiongkok, perusahaan tetap menegaskan komitmen terhadap kerja sama internasional. Huang menjelaskan bahwa perusahaan sedang menyiapkan langkah-langkah untuk memperkuat kehadiran di pasar Asia Tenggara, termasuk Tiongkok, dengan pendekatan yang lebih fleksibel. “Kami berharap bisa membangun kemitraan yang lebih baik dengan pihak lokal,” katanya.

Latest Program juga mencakup ekspektasi pihak berwenang terhadap pertumbuhan industri teknologi di Tiongkok. Pemerintah AS menginginkan Tiongkok tetap bergantung pada teknologi yang diimpor, sementara Tiongkok mengejar kebebasan teknologi nasional. Huang menilai bahwa perusahaan-perusahaan AS tetap dihargai dalam pasar Tiongkok, meski harus menghadapi perubahan kebijakan yang dinamis. “Kami siap beradaptasi,” katanya dengan nada yakin.

MORE FROM THIS CATEGORY