Bank Besar Mulai Kencang PHK Massal, Ini Biang Keroknya

2 months ago  ·  4 min read
By Sandra Taylor - dailynesia.com
dok-standard-chartered-1764752567714_169

Transformasi AI Memicu PHK Massal di Bank-Bank Global, Ini Penyebab Utamanya

Dailynesia.com – Jakarta menjadi pusat perhatian industri perbankan akibat pergeseran teknologi berbasis kecerdasan buatan yang mengubah cara kerja sektor keuangan. Pergeseran ini tidak hanya mengubah struktur organisasi, tetapi juga mengarah pada pengurangan besar-besaran tenaga kerja. Standard Chartered, bank asal Inggris, tercatat sebagai salah satu lembaga keuangan global yang mempercepat proses ini. Dalam beberapa tahun ke depan, bank tersebut akan mengurangi ribuan posisi, terutama di area fungsi korporasi, sebagai bagian dari pengadopsian artificial intelligence (AI) secara masif.

Menurut laporan industri, rencana efisiensi Standard Chartered mencakup pemangkasan sekitar 15% pegawai di divisi terkait. Angka ini diestimasi setara dengan lebih dari 7.000 karyawan yang termasuk dalam kategori ‘SDM rendah’ dalam empat tahun mendatang. Total tenaga kerja yang ada di bank ini mencapai hampir 82.000 orang, sehingga jumlah pengurangan bisa mencapai ratusan ribu posisi. CEO Standard Chartered, Bill Winters, mengklaim bahwa langkah ini tidak sekadar menghemat biaya, tetapi juga terkait dengan penggantian sumber daya manusia dengan investasi teknologi dan modal finansial yang lebih efisien.

“Ini bukan sekadar pemangkasan biaya. Dalam beberapa kasus, kami mengganti tenaga kerja bernilai rendah dengan dana keuangan dan investasi yang lebih produktif,” kata Winters dalam wawancara dengan Reuters, Kamis (28/5/2026).

Transformasi digital ini tidak hanya menimpa Standard Chartered, tetapi juga berlaku secara global. Perusahaan-perusahaan keuangan besar lainnya, seperti Mizuho Financial Group dari Jepang, telah mengumumkan rencana serupa. Mizuho menargetkan pengurangan hingga 5.000 pekerjaan dalam satu dekade, menunjukkan bahwa adopsi AI menjadi tren yang tidak terhindarkan. Dalam konteks ini, Standard Chartered melangkah lebih jauh dengan menyusun strategi yang melibatkan otomatisasi dan penerapan model AI terbaru sebagai fasilitator utama perubahan sistem inti perbankan.

Pengurangan tenaga kerja akan dimulai dari sektor back-office, yang meliputi area seperti pengelolaan data, administrasi, dan layanan keuangan dasar. Posisi yang paling terdampak ditemukan di kota-kota strategis seperti Chennai, Bengaluru, Kuala Lumpur, dan Warsawa. Winters menegaskan bahwa penggunaan AI tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memungkinkan bank untuk fokus pada layanan yang lebih bernilai tambah. Meski demikian, karyawan yang ingin meningkatkan keterampilan tetap diberi kesempatan untuk pelatihan ulang atau reposisi ke posisi yang lebih menjanjikan.

Dalam perjalanan transformasi ini, Standard Chartered juga mempercepat target penghimpunan dana baru bersih sebesar US$200 miliar menjadi 2028, lebih cepat dari rencana sebelumnya yang ditetapkan untuk 2029. Target pertumbuhan ini melibatkan peningkatan return on tangible equity (ROTE) hingga di atas 15% pada 2028, kemudian naik ke 18% pada 2030. Fokus bisnis akan dialihkan ke segmen yang menawarkan margin lebih tinggi, seperti nasabah ritel kaya dan institusi keuangan internasional.

Di sisi lain, bank-bank global kini berlomba mengintegrasikan model AI terkini sekaligus menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks. Perusahaan-perusahaan di bidang keuangan mengalami tekanan untuk meningkatkan efisiensi operasional, termasuk mengurangi biaya operasional melalui otomatisasi. Namun, sejumlah tantangan tetap mengemuka, seperti kekhawatiran mengenai kehilangan karyawan dan efeknya terhadap kinerja jangka panjang.

Standar Chartered, meski bergerak menuju transformasi besar, tetap menetapkan target pertumbuhan yang ambisius. Bank ini berkomitmen untuk mencapai ROTE yang signifikan dalam dua dekade ke depan, meski harus menghadapi risiko geopolitik yang semakin mengancam. Khususnya, konflik di Timur Tengah menjadi perhatian utama, mengingat bank tersebut memiliki fokus operasional di Asia Pasifik dan Afrika. Untuk mengantisipasi potensi kerugian, Standard Chartered telah menyisihkan provisi kehati-hati sebesar US$190 juta pada kuartal pertama tahun ini.

Bilangan tersebut mencerminkan kehati-hatian bank dalam menghadapi ketidakpastian global. Winters menegaskan bahwa Standard Chartered tetap optimis, meski mengakui tantangan dari faktor eksternal seperti perang dan perubahan kebijakan. “Kami sangat tangguh, bahkan dalam situasi yang penuh ketidakpastian,” ujar dia saat mengulas dampak risiko terhadap pencapaian target bisnis.

Transformasi AI di perbankan bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal adaptasi. Perusahaan-perusahaan yang mampu merangkul teknologi canggih akan memperkuat posisi mereka dalam persaingan global. Namun, bagi karyawan yang tidak mampu beradaptasi, perubahan ini bisa menjadi peluang atau ancaman tergantung pada persiapan mereka. Standard Chartered menjadi contoh nyata bagaimana teknologi mulai mengubah paradigma bisnis, sekaligus membuka ruang bagi inovasi yang lebih besar.

Proses ini juga menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan dalam industri keuangan. Dengan menggantikan tenaga kerja dengan otomatisasi, bank-bank bisa menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan kecepatan layanan. Namun, keberhasilan transformasi tergantung pada kemampuan perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi dan kebutuhan sumber daya manusia yang adaptif. Tantangan terbesar terletak pada upaya untuk memastikan bahwa kehilangan pekerja tidak mengganggu kepercayaan pelanggan atau kualitas layanan yang diberikan.

Dalam rangka mewujudkan visi ini, Standard Chartered memperkuat komitmen pada inovasi digital. Upaya mereka untuk mengejar keunggulan kompetitif melalui AI diharapkan bisa membawa perubahan struktural yang lebih besar. Meski pengurangan pekerjaan menjadi isu utama, perusahaan tetap berupaya untuk menjaga kemampuan operasional dan memperluas jaringan bisnis di wilayah kritis.

MORE FROM THIS CATEGORY