Mantan Bos CIA Buka-Bukaan Petaka Besar Perang Iran Baru Permulaan
Dailynesia.com – Dari Jakarta, mantan direktur intelijen AS, David Petraeus, mengungkap tren kekuasaan global saat ini. Ia menyoroti bagaimana konflik di Iran dan Ukraina menunjukkan perubahan mendasar dalam cara perang diperangkatkan. Menurut Petraeus, penggunaan sistem tanpa awak menjadi ancaman besar di masa depan, sekaligus membuka peluang transformasi strategis dalam dekade mendatang. Dalam sebuah wawancara dengan CNBC International, Jumat (29/5/2026), ia menjelaskan bahwa Key Issue ini tidak hanya mengubah dinamika pertahanan, tetapi juga mengubah paradigma kekuasaan antar negara.
Transformasi Senjata Otomatis dalam Konflik Modern
Pada Konferensi Investasi UBS Asia, Petraeus memaparkan bahwa dominasi drone di zona perang menggambarkan kenaikan risiko dari senjata otomatis. Key Issue ini menunjukkan bahwa pertahanan modern harus beradaptasi dengan sistem yang bisa beroperasi tanpa pengendalian manusia. “Semua akan bergantung pada perangkat tanpa awak dan upaya menangkalnya,” ujarnya dalam wawancara. “Meski sempurna, pertahanan kita bisa lebih baik dari yang selama ini kita alami.”
“Masalah nyata muncul bahkan dari jumlah drone yang sedikit,” tambah Petraeus. “Contohnya, produksi gas alam cair Qatar terganggu akibat konflik berbasis sistem otomatis.”
Perang di Timur Tengah semakin mengandalkan drone Shahed, yang dikembangkan Iran. Senjata ini jauh lebih murah dibanding rudal udara atau peluru kendali. Biaya pengoperasian drone Shahed hanya sekitar US$20.000-50.000 (Rp357-894 juta), jauh lebih rendah dari senjata mahal yang mencapai jutaan dolar. Meski demikian, Key Issue ini menunjukkan bahwa investasi besar di sektor pertahanan tetap menjadi kebutuhan untuk menghadapi ancaman yang semakin intens.
Perang Masa Depan Berbasis Sistem Otonom
Menurut Petraeus, perang masa depan akan berkembang menjadi pertarungan antar sistem otonom. Key Issue ini mengubah cara negara-negara berperang, dari operasi manusia ke strategi yang mengandalkan otomatisasi. “Dalam satu tahun ke depan, perang akan berkembang ke tingkat otonom,” katanya. Sistem ini mampu membentuk kawanan untuk menyerang pertahanan musuh, bahkan tanpa intervensi langsung.
“Otonomi akan menjadi kemajuan menakjubkan di masa depan,” ungkap Petraeus. Ia menekankan bahwa teknologi satelit, seperti Starlink milik SpaceX, akan menjadi katalisator utama dalam menghubungkan berbagai platform tanpa awak.”
Kemajuan ini sebagian besar didorong oleh kesulitan menjaga kontrol di medan perang yang berubah cepat. Jika drone atau senjata otomatis tidak bisa terus berkomunikasi dengan operator manusia, mereka harus beradaptasi sendiri. “Ini berarti perang akan berpindah ke sistem yang sepenuhnya otomatis,” tambahnya. Key Issue ini tidak hanya mengubah cara operasi militer, tetapi juga menciptakan peluang bisnis besar untuk teknologi baru.
Perubahan dalam pertahanan tidak terlepas dari dampak ekonomi. Investasi di bidang drone dan sistem otomatis memerlukan anggaran besar, tetapi hasilnya berpotensi mengubah ekonomi global. Negara-negara yang mampu mengembangkan teknologi ini akan memiliki keunggulan signifikan, sementara negara-negara yang tertinggal mungkin mengalami krisis keamanan. Key Issue ini menegaskan bahwa penggunaan senjata otonom bukan hanya isu teknologi, tetapi juga isu struktural yang memengaruhi hubungan internasional.
Di sisi lain, perang modern membutuhkan koordinasi yang lebih kompleks antar alat. Dengan Key Issue yang menjadi pusat perhatian, para ilmuwan dan militer sedang berusaha menciptakan sistem yang lebih efisien. “Perang sekarang bukan hanya tentang jumlah senjata, tetapi tentang kecerdasan dan adaptasi,” kata Petraeus. Ia menambahkan bahwa perang antara sistem otonom akan mempercepat evolusi teknologi pertahanan dan keterlibatan negara-negara besar dalam konflik bersenjata.
Iran, yang menjadi contoh utama dalam Key Issue ini, telah membuktikan kekuatan senjata otonom. Dengan mengembangkan drone Shahed, negara ini tidak hanya mengurangi biaya operasi, tetapi juga meningkatkan kapasitas serangan. Persaingan dengan negara-negara seperti Ukraina menunjukkan bagaimana perang modern bisa mempercepat transformasi militer. Key Issue ini menjadi

