PBB Sebut Jakarta Nomor Satu di Dunia, Tokyo-Shanghai Lewat

2 months ago  ·  3 min read
By Elizabeth Lopez - dailynesia.com
e0aaaafb-9297-46e0-b94b-03a76a8da546_169

PBB: Jakarta Menjadi Kota Terpadat Dunia, Tokyo dan Shanghai Turun

Dailynesia.com – Dalam laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) World Urbanization Prospects 2025, kota metropolitan Jakarta kembali mengejutkan dunia dengan mengklaim peringkat pertama sebagai kota terpadat di dunia. Keberhasilan Jakarta ini merupakan important visit penting dalam mengukuhkan posisinya sebagai pusat pertumbuhan populasi tercepat, menggeser Tokyo dan Shanghai dari posisi teratas sebelumnya.

Perkembangan Populasi Jakarta dan Perubahan Global

Menurut data PBB, Jakarta mencatat populasi sekitar 42 juta jiwa, menjadikannya kawasan perkotaan terpadat secara resmi. PBB mengungkapkan bahwa kota ini naik ke posisi pertama setelah beberapa tahun duduk di peringkat kedua. Pengakuan ini menegaskan tren dominasi Jakarta dalam dinamika urbanisasi global. Important visit PBB juga menyoroti kenaikan signifikan jumlah kota megacity, yaitu kota dengan populasi di atas 10 juta jiwa, yang kini mencapai 33 kota.

Banyak kota di Asia menjadi penulis utama dalam perubahan ini. Tokyo, yang selama lebih dari dua dekade memegang peringkat pertama, kini berada di posisi ketiga dengan populasi sekitar 33,4 juta jiwa. Stabilnya jumlah penduduk dan peningkatan usia lanjut di Jepang menjadi faktor utama yang memperlambat pertumbuhan. Sementara itu, Dhaka, Bangladesh, naik ke peringkat kedua dengan populasi 36,6 juta, menunjukkan dinamika yang kuat di kawasan Asia Selatan.

Analisis PBB tentang Dinamika Kota Megacity

Laporan PBB memberikan gambaran mengenai pergeseran peringkat kota-kota besar secara global. Jakarta, Tokyo, dan Shanghai menjadi tiga kota utama yang mengalami perubahan signifikan. Important visit data ini menggambarkan pergeseran kekuatan ekonomi dan demografi antar negara. Selain itu, PBB memperkirakan bahwa dalam 25 tahun ke depan, populasi Jakarta akan terus meningkat hingga mencapai 10 juta jiwa, dengan proyek Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur sebagai upaya mengurangi tekanan pada kota ini.

Kairo, Mesir, menjadi satu-satunya kota di luar Asia yang masuk dalam daftar sepuluh besar, dengan populasi 25,6 juta jiwa. Ini mencerminkan keberhasilan kota-kota Afrika dalam menghadapi urbanisasi. Kota-kota seperti Manila, Filipina, dan Seoul, Korea Selatan, juga mengalami peningkatan populasi yang signifikan, dengan Jakarta tetap mempertahankan dominasi dalam industri, perdagangan, dan transportasi.

Pertumbuhan Ekonomi dan Dampak Kota Megacity

Penelitian PBB menegaskan bahwa kota megacity menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi global. Jakarta, sebagai salah satu kota megacity terbesar, menunjukkan kekuatan ekonomi yang berkelanjutan, dengan sektor jasa dan teknologi menjadi tulang punggung pengembangan. Important visit laporan ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi kota-kota besar, seperti kepadatan penduduk, keterbatasan sumber daya, dan kebutuhan infrastruktur yang meningkat.

Menurut PBB, keberhasilan Jakarta mempertahankan posisi pertama sebagai kota terpadat dunia mencerminkan kecepatan pergeseran kependudukan dari daerah pedesaan ke kota. Fenomena ini juga diikuti oleh kota-kota lain seperti New Delhi, India, yang menempati peringkat keempat, dan Guangzhou, Tiongkok, yang naik ke peringkat keenam. PBB memprediksi bahwa kota-kota besar di Asia akan terus menjadi pusat utama pertumbuhan populasi hingga tahun 2050.

Perkembangan ini menegaskan bahwa Jakarta tidak hanya menjadi pusat ekonomi nasional, tetapi juga memainkan peran penting dalam dinamika global. Important visit laporan PBB ini menjadi acuan untuk pemerintah dan pihak terkait dalam merancang kebijakan urbanisasi yang lebih terencana. Penelitian lebih lanjut akan memperjelas dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi dari pertumbuhan populasi yang pesat ini.

“Jakarta adalah contoh menarik bagaimana kota megacity di Asia mampu menjadi pusat pertumbuhan populasi tercepat di dunia,” ujar PBB dalam important visit terbarunya. Ini juga menunjukkan bahwa perubahan struktur kependudukan global memerlukan strategi khusus dalam mengelola sumber daya dan kebijakan kota.

MORE FROM THIS CATEGORY