Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Huawei Disebut Organisasi Kriminal, Perwakilan dari China Hadir di AS

Published October 2, 2026 · Updated October 2, 2026 · By Linda Miller - dailynesia.com

Foto : Linda Miller - dailynesia.com

Huawei Jalani Persidangan Federal di New York atas Tuduhan Kejahatan Korporasi

Dailynesia.com – Huawei menghadapi proses hukum besar di pengadilan federal Brooklyn, New York, setelah jaksa Amerika Serikat menuduh raksasa teknologi China itu menjalankan praktik ilegal dalam periode yang panjang. Perkara ini mencakup dugaan pencurian teknologi, penipuan, pelanggaran sanksi, hingga aktivitas yang dikaitkan dengan penggunaan peralatan pengawasan di Iran.

Persidangan dimulai pada 9 September 2026 dan diproyeksikan berjalan sekitar tiga bulan. Perwakilan dari kantor pusat Huawei di China hadir langsung untuk mengikuti jalannya sidang di Brooklyn, menandakan pentingnya perkara tersebut bagi perusahaan.

Huawei menolak seluruh dakwaan yang diajukan. Perusahaan berpendapat bahwa kasus ini dibangun untuk menekan kemampuannya bersaing di industri teknologi global, khususnya ketika rivalitas antara Amerika Serikat dan China semakin menguat.

Jaksa Soroti Dugaan Pelanggaran Sejak 1999

Pihak penuntut menyebut rangkaian dugaan pelanggaran berlangsung dari sekitar 1999 sampai 2020. Dalam dakwaan, Huawei dituduh mengambil rahasia dagang dari lima perusahaan teknologi asal Amerika Serikat.

Materi yang menjadi sorotan mencakup kode sumber perangkat perantara jaringan milik Cisco serta lengan robot yang digunakan T-Mobile untuk menguji ponsel. Jaksa menggambarkan dugaan tindakan tersebut sebagai bagian dari pola yang lebih luas, bukan kejadian terpisah.

“Pencurian, kebohongan, penutupan,” ujar jaksa Taylor Stout dalam pembukaan sidang.

Selain isu kekayaan intelektual, jaksa menuduh Huawei menutupi kegiatan bisnisnya di Iran. Tuduhan itu berkaitan dengan dugaan upaya mempertahankan akses ke sistem finansial Amerika Serikat, meski terdapat sanksi yang membatasi hubungan bisnis dengan Iran.

Penuntut juga mengaitkan Huawei dengan penyediaan peralatan yang disebut digunakan untuk memantau warga Iran saat demonstrasi pada 2009. Dugaan tersebut menjadi salah satu unsur yang memperluas cakupan perkara dari persoalan persaingan teknologi menjadi isu kepatuhan terhadap sanksi dan hak warga sipil.

Pembelaan Huawei: Persaingan Bukan Konspirasi

Tim hukum Huawei membantah bahwa perusahaan menjalankan konspirasi kriminal. Pengacara Huawei, Brian Heberlig, menegaskan bahwa berbagai peristiwa yang dipersoalkan seharusnya dipandang sebagai dinamika persaingan usaha, bukan tindakan pidana terorganisasi.

“Ini soal persaingan, bukan persekongkolan. Inovasi, bukan pencurian. Urusan bisnis wajar, bukan tindak pidana,” ujarnya.

Heberlig juga menyampaikan bahwa beberapa insiden yang diangkat oleh penuntut berkaitan dengan tindakan individu karyawan. Huawei menilai persoalan semacam itu telah ditangani secara internal dan tidak mencerminkan kebijakan atau arahan perusahaan.

Bagi Huawei, kasus tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah Amerika Serikat membentuk gambaran yang merugikan reputasi perusahaan. Tuduhan itu dibantah secara konsisten, termasuk tudingan bahwa teknologi Huawei digunakan untuk aktivitas pengintaian.

Persaingan Teknologi AS-China Menjadi Latar Penting

Persidangan ini berlangsung ketika hubungan teknologi antara Washington dan Beijing tetap sensitif. Pada 2019, pemerintahan Amerika Serikat memasukkan Huawei ke daftar hitam perdagangan dan mendorong negara-negara sekutunya agar tidak memakai perangkat perusahaan tersebut dalam pembangunan jaringan 5G.

Langkah itu dilakukan atas alasan risiko keamanan. Huawei berulang kali membantah bahwa produk dan infrastrukturnya dipakai untuk kepentingan mata-mata. Perdebatan tentang Huawei kemudian tidak hanya berkaitan dengan produk telekomunikasi, tetapi juga dengan kendali atas teknologi jaringan, keamanan data, rantai pasok, dan pengaruh industri global.

Pemerintah China mengecam proses hukum terhadap Huawei sebagai tindakan penindasan terhadap perusahaan asal negaranya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan Beijing mendukung Huawei dalam mempertahankan hak-hak sahnya.

Isu ini turut beririsan dengan agenda kunjungan pejabat senior China ke Amerika Serikat pada akhir September 2026. Perdagangan dan teknologi diperkirakan menjadi dua topik utama, sehingga perkara Huawei berpotensi menambah tekanan dalam pembicaraan bilateral.

Pemeriksaan di Negara Lain dan Kasus Meng Wanzhou

Tekanan hukum terhadap Huawei tidak hanya muncul di Amerika Serikat. Pada 2025, penyelidik di Belgia memeriksa dugaan suap yang melibatkan Parlemen Eropa. Huawei menyatakan tidak mentoleransi korupsi serta akan bekerja sama dengan pihak berwenang dalam proses yang berjalan.

Rangkaian perkara Huawei juga masih terkait dengan kasus Meng Wanzhou, direktur keuangan perusahaan yang pernah ditahan di Kanada pada 2018. Pengakuan yang dibuat Meng dalam perjanjian penangguhan penuntutan dapat dipakai sebagai bukti dalam persidangan federal saat ini.

Bagi pembaca dan pelaku industri, sidang di Brooklyn penting untuk dicermati karena hasilnya dapat memengaruhi persepsi terhadap perusahaan teknologi China di pasar internasional. Perkara ini juga memperlihatkan bahwa perebutan posisi dalam teknologi canggih kini kerap berjalan bersamaan dengan sengketa hukum, kebijakan perdagangan, serta isu keamanan nasional.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Huawei Disebut Organisasi Kriminal Perwakilan?

Huawei Disebut Organisasi Kriminal Perwakilan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Huawei Disebut Organisasi Kriminal Perwakilan matter?

Huawei Disebut Organisasi Kriminal Perwakilan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.