Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

FBI Bongkar Markas Teknologi Milik Korea Utara di AS

Published October 16, 2026 · Updated October 16, 2026 · By William Moore - dailynesia.com

Foto : William Moore - dailynesia.com

FBI Bongkar Markas Teknologi Milik Korea Utara di Texas

Dailynesia.com – FBI Bongkar Markas Teknologi Milik Korea Utara di Amerika Serikat yang diduga dipakai untuk membantu pekerja teknologi informasi Korea Utara menyusup ke perusahaan-perusahaan AS. Jaringan tersebut berbentuk laptop farm atau ladang laptop di Texas, yaitu lokasi yang menampung perangkat milik perusahaan agar para pekerja dapat terlihat seolah-olah bekerja dari wilayah Amerika Serikat.

Dalam operasi bertajuk Operation Lonestar Roundup, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat menggeledah lebih dari 40 rumah di Texas. Dari operasi itu, aparat menyita 187 laptop serta perangkat KVM atau keyboard, video, mouse. Sekitar 100 perangkat di antaranya diamankan dari wilayah Texas Utara.

Pengungkapan kasus FBI Bongkar Markas Teknologi Milik ini menyoroti pola operasi yang memanfaatkan pekerjaan jarak jauh. Berdasarkan penyelidikan, pekerja IT Korea Utara diduga menggunakan identitas warga Amerika Serikat yang dicuri atau dipalsukan untuk melamar pekerjaan. Dengan identitas tersebut, mereka dapat memperoleh akses ke perusahaan korban tanpa langsung mengungkapkan lokasi maupun identitas sebenarnya.

Modus Penyusupan Melalui Laptop Farm

Para pekerja tersebut diduga memakai dokumen identitas palsu, VPN, dan jaringan proxy untuk menyamarkan aktivitas digital mereka. Penggunaan sarana ini membuat koneksi mereka terlihat berasal dari Amerika Serikat. Laptop yang diterima dan dikelola oleh fasilitator lokal kemudian menjadi bagian penting dari skema penyamaran tersebut.

Fasilitator di AS diduga menerima laptop dari perusahaan korban, mengatur perangkat itu, dan memasang perangkat lunak akses jarak jauh. Dengan cara tersebut, pekerja yang berada di luar negeri dapat mengendalikan laptop perusahaan dari jarak jauh. Fasilitator juga diduga membantu memindahkan penghasilan para pekerja ke rekening yang dikendalikan Korea Utara.

Model operasi semacam ini berisiko bagi perusahaan karena perangkat kerja yang tampak digunakan oleh pegawai di AS sebenarnya dapat diakses dari lokasi lain. Selain persoalan identitas palsu, perusahaan berpotensi menghadapi risiko keamanan data, akses ke sistem internal, serta penyalahgunaan perangkat dan akun kerja yang telah diberikan kepada pekerja kontrak atau karyawan jarak jauh.

"Setiap laptop yang disita berpotensi mewakili satu perusahaan yang telah mempekerjakan pekerja IT Korea Utara," kata Kepala Kantor Lapangan FBI Dallas R. Joseph Rothrock, dikutip dari keterangan resmi Departemen Kehakiman AS, Jumat (16/10/2026).

Dugaan Pendanaan Rezim Korea Utara

Otoritas AS menyatakan skema itu diduga menghasilkan dana bagi rezim Korea Utara. Uang yang diperoleh dari pekerjaan teknologi informasi tersebut disebut dapat mendukung program persenjataan Korea Utara yang terkena sanksi internasional. Karena itu, kasus FBI Bongkar Markas Teknologi Milik Korea Utara tidak hanya dipandang sebagai masalah penipuan ketenagakerjaan, melainkan juga berkaitan dengan penegakan sanksi dan keamanan nasional.

Perusahaan keamanan siber CrowdStrike mengidentifikasi kelompok pekerja IT Korea Utara beserta pihak yang membantu aktivitas mereka dengan sebutan “Famous Chollima”. Penyelidik juga menemukan dugaan penggunaan jaringan akun Google palsu untuk mendukung kegiatan ilegal tersebut. Akun palsu dapat digunakan untuk membangun identitas digital yang terlihat meyakinkan selama proses melamar pekerjaan dan berkomunikasi dengan calon pemberi kerja.

Kasus ini menjadi pengingat bagi perusahaan yang merekrut tenaga kerja jarak jauh untuk memperketat pemeriksaan identitas, proses penerimaan perangkat, dan pengawasan akses akun. Verifikasi yang konsisten atas data pekerja, alamat pengiriman perangkat, serta pola akses sistem dapat membantu perusahaan mendeteksi ketidaksesuaian sebelum risiko berkembang lebih jauh.

FAQ FBI Bongkar Markas Teknologi Milik Korea Utara

Apa yang dimaksud laptop farm?

Laptop farm adalah lokasi yang menampung banyak laptop atau perangkat kerja dan memungkinkan perangkat itu diakses dari jarak jauh. Dalam kasus ini, laptop farm diduga digunakan agar pekerja IT Korea Utara terlihat bekerja dari Amerika Serikat.

Mengapa identitas palsu digunakan dalam skema ini?

Identitas warga AS yang dicuri atau dipalsukan diduga digunakan untuk membantu pekerja mendapatkan pekerjaan di perusahaan Amerika tanpa mengungkapkan identitas dan lokasi sebenarnya.

Apa langkah praktis yang bisa dilakukan perusahaan?

Perusahaan dapat memverifikasi identitas pekerja secara lebih ketat, memantau lokasi serta pola akses akun, dan memastikan perangkat kerja dikirim serta digunakan oleh pihak yang benar. Pemeriksaan terhadap penggunaan VPN, proxy, atau akses jarak jauh yang tidak sesuai kebijakan juga penting dilakukan.

Related Reading