Dulu Dikira Gajah Ternyata Paus – 70 Tahun Baru Ketahuan

2 months ago  ·  2 min read
By Linda Miller - dailynesia.com
kerangka-mammuthus-meridionalis-jantan-setinggi-4-meter-yang-langka-mammoth-selatan-dipajang-di-kastil-spanyol-abad-ke-16-laqu-3_169

Dulu Dikira Gajah, Ternyata Paus, 70 Tahun Baru Ketahuan

Dailynesia.com – Dalam sebuah eksplorasi di pedalaman Alaska pada tahun 1951, arkeolog Otto Geist menemukan sejumlah tulang yang awalnya dianggap berasal dari Mammoth purba. Namun, hingga 70 tahun kemudian, hasil analisis membuktikan kesalahan dalam kesimpulan awal tersebut.

Tulang belulang yang ditemukan oleh Geist terletak di Beringia, wilayah geografis bersejarah yang kini menjadi bagian dari Alaska. Berdasarkan penampakan dan lokasi, ia langsung memperkirakan bahwa benda tersebut berasal dari Mammoth berbulu. Analisis yang dilakukan memiliki dasar logis mengingat lokasi penemuan serta ukuran tulang belakang yang mirip dengan Mammoth.

Hasil Penelitian Mengubah Pandangan Awal

Tulang-tulang itu disimpan di Museum of the North, Universitas Alaska, hingga kemudian dianalisis menggunakan teknik penanggalan radiokarbon. Setelah beberapa dekade, para ilmuwan menemukan bahwa isotop karbon dalam tulang tersebut memiliki usia sekitar 2.000 hingga 3.000 tahun. Ini menunjukkan bahwa hewan tersebut hidup jauh lebih baru dibandingkan Mammoth yang punah sekitar 13 ribu tahun lalu.

“Ini jadi petunjuk pertama kami bahwa spesimen tersebut berasal dari lingkungan laut,” kata ahli biogeokimia dari Universitas Alaska Fairbanks, Mathhews Wooler, sebagaimana dilaporkan Science Alert, Jumat (29/5/2026).

Analisis lebih lanjut menunjukkan kadar isotop nitrogen-15 dan karbon-13 yang lebih tinggi, sesuatu yang umum ditemukan pada hewan laut. Meskipun demikian, kemungkinan tulang tersebut berasal dari hewan darat tetap ada, namun bukti isotop memperkuat dugaan bahwa benda tersebut berasosiasi dengan spesies bermuka tiga.

Untuk memastikan, para peneliti melakukan ekstraksi DNA mitokondria. Mereka membandingkannya dengan DNA paus sikat Pasifik Utara (Eubalaena japonica) serta paus minke biasa (Balaenoptera acutorostrata). Hasilnya memicu misteri baru: bagaimana sisa paus yang berusia 1.000 tahun bisa ditemukan di pedalaman Alaska, yang jaraknya lebih dari 400 km dari garis pantai terdekat?

Kemungkinan pertama adalah paus melalui penyerbuan ke wilayah daratan melalui teluk atau sungai kuno. Namun, alasan ini bisa ditolak karena ukuran paus yang besar serta badan air lokal yang relatif sempit. Selain itu, para peneliti juga menyebutkan bahwa tulang-tulang tersebut bisa saja diangkut oleh manusia purba dari garis pantai. Masih ada kemungkinan kesalahan dalam proses analisis ilmiah.

MORE FROM THIS CATEGORY