Disorot Peneliti Dunia, Jakarta Nomor Satu Paling Parah di Bumi
Dailynesia.com – Kota Jakarta kembali menjadi sorotan dalam penelitian terbaru yang memperlihatkan perubahan permukaan tanah yang signifikan di kota-kota pesisir global. Dalam studi yang diterbitkan oleh Earth, Jumat (29/5/2026), Jakarta dinyatakan sebagai wilayah dengan laju penurunan tanah tercepat, bahkan melebihi daerah pesisir lainnya. Penelitian ini, yang dipimpin oleh Julius Oelsmann dari German Geodetic Research Institute (DGFI-TUM), mengungkapkan bahwa perubahan ini memengaruhi sekitar 71 persen populasi pesisir dunia yang tinggal di area yang rentan terhadap ketidakstabilan permukaan tanah.
Mekanisme Perubahan Permukaan Tanah di Jakarta
Para peneliti dari Munich dan New Orleans melakukan analisis pergerakan permukaan laut serta daratan di berbagai kota pesisir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara rata-rata, kota-kota pesisir mengalami kenaikan permukaan laut sekitar 0,64 cm per tahun. Namun, di Jakarta, fenomena ini berbalik arah. Beberapa zona dalam kota mencatatkan penurunan tanah hingga 3,8 cm per tahun, sementara wilayah lain justru mengalami peningkatan. Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan tentang dinamika geologis dan dampak manusia di sekitar kota metropolitan ini.
Dari hasil studi, Jakarta tercatat sebagai kota pesisir yang paling parah dalam penurunan tanah. Fenomena ini terjadi akibat ekstraksi air tanah yang berlebihan, serta kontribusi dari aktivitas industri dan beban infrastruktur.
Kontribusi utama penurunan tanah di Jakarta adalah pengambilan air tanah dari akuifer bawah permukaan yang terus meningkat. Laman Earth menjelaskan bahwa memompa air dari sumber ini menyebabkan lapisan tanah atas memadat, sehingga memicu penurunan permukaan tanah secara tahunan. Selain itu, produksi minyak dan gas juga berperan dalam mengurangi massa tanah, dengan efek yang serupa seperti sumur-sumur yang menarik cairan ke dalam lapisan bumi.
Analisis Detail Penurunan Tanah di Jakarta
Studi ini menggunakan data satelit dan pengukuran GPS untuk memantau perubahan permukaan tanah di seluruh kota. Hasil menunjukkan bahwa laju penurunan tanah tidak merata. Area seperti Kemang dan Cikini mencatatkan penurunan terparah, sementara wilayah seperti Kebayoran Baru dan Tebet mengalami sedikit peningkatan. Perbedaan ini diakibatkan oleh perbedaan kondisi geologis dan kepadatan penggunaan air tanah di berbagai zona.
Pengambilan air tanah yang berlebihan memang menjadi faktor utama. Dalam beberapa dekade terakhir, Jakarta mengandalkan sumber air bawah tanah untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang terus berkembang. Namun, kecepatan penggunaan ini melebihi kemampuan alami pengisian air tanah, sehingga menyebabkan efek yang kumulatif. Fenomena ini disebut sebagai “subsidence,” yang merupakan peristiwa alami tetapi memperparah ancaman dari kenaikan permukaan laut.
Pengaruh Infrastruktur dan Aktivitas Ekonomi
Beban berat dari gedung-gedung tinggi, jalan raya, dan infrastruktur perkotaan juga berkontribusi pada penurunan tanah. Bangunan-bangunan modern dengan berat besar memperkuat tekanan pada tanah, terutama di daerah yang memiliki lapisan tanah kurang padat. Di sisi lain, aktivitas ekonomi seperti produksi minyak dan gas, serta konstruksi terowongan, memicu pengurangan massa tanah secara mekanis.
Bahkan, di kota-kota delta seperti Jakarta, proses alami seperti pengendapan sedimen sungai bisa memadat secara teratur. Namun, dalam kasus Jakarta, kecepatan penurunan tanah melebihi proses alami ini, membuat kota menjadi sorotan. Peneliti menyebutkan bahwa fenomena ini bisa memperparah risiko banjir, pergeseran permukaan air, serta kerusakan infrastruktur di wilayah pesisir.
Contoh Kota Pesisir Lain yang Terdampak
Selain Jakarta, kota-kota pesisir seperti Bangkok, Thailand, dan Tianjin, Tiongkok, juga mengalami penurunan tanah signifikan. Namun, laju penurunan di Jakarta lebih tinggi. Dalam studi ini, hanya kurang dari 10 persen penduduk pesisir yang tinggal di daerah dengan kenaikan permukaan tanah, tetapi sebagian besar mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa Jakarta memiliki kecepatan penurunan yang luar biasa, sehingga menjadi wilayah paling rentan dalam konteks perubahan iklim dan lingkungan.
Berbagai daerah pesisir di Eropa Utara, seperti sebagian Swedia dan Finlandia, justru mengalami peningkatan permukaan tanah karena pulihnya lapisan es yang menghilang ribuan tahun lalu. Fenomena ini membuktikan bahwa perubahan iklim memiliki dampak yang beragam, dan Jakarta menjadi contoh ekstrem dari penurunan tanah akibat faktor manusia dan geologis.

