Awas! Sampah Langit—Potongan Badan Roket Bisa Jatuh Hantam Jakarta
Dailynesia.com – Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah sampah antariksa yang jatuh ke Bumi meningkat secara signifikan akibat peningkatan frekuensi peluncuran satelit dan roket. Sebagai salah satu kota yang berada di wilayah lintang selatan, Jakarta kini menjadi sasaran potensi jatuhnya potongan badan roket yang terlempar ke atmosfer. Fenomena ini menimbulkan peringatan serius dari para ahli, karena kejadian sampah langit bisa berdampak langsung pada kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.
Perkembangan Sampah Langit di Indonesia
Dari data yang diperoleh NASA, rata-rata satu objek sampah antariksa mencapai permukaan Bumi setiap hari selama 50 tahun terakhir. Angka ini tidak hanya menggambarkan tingkat kepadatan sampah di orbit, tetapi juga menunjukkan bahwa jumlah potongan badan roket yang ditinggalkan semakin meluas. Indonesia, sebagai negara dengan aktivitas luar angkasa yang semakin berkembang, perlu memperhatikan dampak dari sampah langit ini.
Menurut laporan terbaru dari Badan Antariksa Indonesia (BAKIN), sekitar 80% dari sampah antariksa yang jatuh di Indonesia berasal dari peluncuran roket di kawasan Pasifik dan Atlantik. Wilayah seperti Jakarta, yang berada di dekat jalur peluncuran roket, memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan kota-kota lain. Bahkan, penelitian pada 2022 memproyeksikan kemungkinan 10% dari sampah antariksa tidak terkendali dapat mengenai permukaan Bumi dan menyebabkan kecelakaan dalam satu dekade ke depan.
Mekanisme dan Dampak Sampah Langit
Sampah langit terdiri dari berbagai objek, mulai dari potongan badan roket hingga satelit yang tidak berfungsi lagi. Ketika objek-objek ini mencapai orbit Bumi, mereka bergerak pada kecepatan hingga 28.000 km/jam. Jika tidak dihancurkan oleh gesekan udara, mereka bisa jatuh ke Bumi dan mengenai daerah-daerah yang berada di bawah jalur orbit mereka.
Salah satu contoh nyata adalah jatuhnya potongan badan roket SpaceX di daerah Jawa Barat pada 2023. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran karena beberapa fragmen tersebut mengenai permukaan tanah dengan kecepatan tinggi. Meski hingga kini belum ada laporan korban serius, risiko ini bisa meningkat jika tidak dikelola dengan baik. Karena itu, perlu dilakukan pemantauan terus-menerus terhadap orbit satelit dan roket.
“Sampah langit yang terlempar dari peluncuran roket bisa menjadi ancaman serius bagi kota-kota besar seperti Jakarta, terutama jika terjadi kecelakaan besar,” kata Dr. Rina Suryadi, ahli antariksa dari Institut Teknologi Bandung, melalui wawancara eksklusif.
Peluncuran roket sekali pakai seperti yang dilakukan oleh SpaceX dan Roscosmos menjadi salah satu penyumbang utama sampah antariksa. Sebagian besar komponen roket tersebut dilepas saat mencapai lapisan atmosfer dan mengalami gesekan udara. Namun, bahan bakar roket modern yang lebih tahan panas memperpanjang usia potongan badan tersebut, sehingga berisiko tidak terbakar sepenuhnya sebelum jatuh.
Menurut riset dari Badan Penerbangan Antariksa (NASA), jumlah objek berukuran lebih dari 10 sentimeter di orbit Bumi mencapai 25 ribu. Dari jumlah ini, sekitar 15 ribu objek bisa bergerak dalam orbit rendah, dan risiko jatuhnya sampah langit lebih tinggi. Jakarta, dengan posisinya di bawah jalur orbit yang sering dilewati roket, menjadi daerah yang perlu lebih diwaspadai.
Untuk mengurangi risiko jatuhnya potongan badan roket, pemerintah Indonesia berencana mengembangkan sistem pemantauan lebih canggih. Selain itu, kebijakan mengenai peluncuran roket juga diperketat agar pelaku mengikuti protokol pengelolaan sampah antariksa. Konsensus para ilmuwan sepakat bahwa keberhasilan mitigasi sampah langit bergantung pada kolaborasi internasional dan teknologi pengurangan limbah luar angkasa.

