Dailynesia.com – Amerika Ungkap Alasan Sebenarnya China makin maju dalam bidang teknologi bukan semata soal besaran anggaran riset atau jumlah insinyur yang tersedia. Laporan terbaru dari U.S.-China Economic and Security Review Commission (USCC) menyoroti satu faktor kunci yang selama ini kurang mendapat perhatian publik: cara Beijing memperlakukan data sebagai aset strategis nasional. Dokumen yang dirilis badan penasihat Kongres AS pada Selasa (18/8/2026) itu menguraikan bagaimana Tiongkok secara sistematis mengomersialkan dan memonetisasi data untuk mendorong inovasi kecerdasan buatan, meningkatkan produktivitas industri, hingga memperkuat kapasitas intelijen dan militer.
Data sebagai Fondasi Keunggulan AI Tiongkok
Perusahaan AI besar di Amerika Serikat umumnya mengandalkan data dari internet terbuka untuk melatih model bahasa mereka. Pendekatan Tiongkok jauh berbeda. Beijing mengumpulkan data domestik secara terstruktur—mulai dari data operasional perusahaan, data sensor di lini produksi, hingga data dari dunia fisik yang tidak dapat diperoleh hanya dengan scraping halaman web. Kumpulan data semacam itu menjadi bahan baku utama untuk melatih AI yang diterapkan dalam kendaraan otonom, robot humanoid, dan sistem bisnis kompleks. Ekosistem manufaktur maju serta robotika industri China menghasilkan volume data berkualitas tinggi yang sulit ditandingi oleh negara lain.
Data tersebut juga menjadi landasan pengembangan embodied AI, yaitu sistem kecerdasan buatan yang mampu beroperasi langsung di dunia fisik, misalnya melalui robot. Kondisi ini berpotensi memberi Tiongkok keunggulan struktural atas AS dalam pengembangan perangkat lunak robotika, baik untuk kepentingan komersial maupun militer.
“Selama setengah dekade terakhir, China telah mampu mengonsolidasikan data, menemukan cara untuk melabelinya dan menyempurnakannya, mengumpulkan data baru, serta memastikan data tersebut dengan cepat tersedia bagi berbagai entitas,” kata Wakil Ketua Komisi, Mike Kuiken, dikutip dari Reuters, Rabu (19/8/2026).
Kuiken menambahkan bahwa strategi tersebut memberikan dua keuntungan sekaligus bagi Beijing: mempercepat inovasi di dalam ekosistem teknologinya sendiri, sekaligus memperkuat kendali Partai Komunis China atas infrastruktur digital nasional.
Risiko bagi Perusahaan AS dan Desakan Kebijakan
Amerika Ungkap Alasan Sebenarnya China makin sulit ditandingi bukan hanya dari sisi akuisisi data, tetapi juga dari sisi regulasi. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing memperketat pengawasan terhadap transfer data lintas batas. Kebijakan itu memicu persoalan kepatuhan bagi perusahaan multinasional asing yang beroperasi di Tiongkok. Sejumlah korporasi terpaksa memperkuat lokalisasi operasional anak perusahaan mereka dan memisahkan data pelanggan China dari sistem global. Meskipun demikian, pemerintah Tiongkok kemudian memberikan pengecualian terbatas bagi perusahaan tertentu yang memenuhi syarat.
Laporan USCC memperingatkan bahwa perusahaan AS yang beroperasi di China menghadapi risiko melanggar aturan ketat terkait tata kelola data dan keamanan siber. Pada 2023, Beijing membentuk National Data Administration yang bertugas mengawasi standardisasi dan klasifikasi data secara nasional, sekaligus membangun pasar terpadu untuk perdagangan data. Lembaga ini juga mendorong komersialisasi data dalam ekonomi digital, sejalan dengan ambisi penerapan AI lintas sektor industri.
China kini menargetkan standardisasi aset data di sektor-sektor vital seperti manufaktur, transportasi, keuangan, dan kesehatan. Beberapa perusahaan Tiongkok bahkan mulai mencatatkan dataset milik mereka di bursa data regional di Shanghai, Shenzhen, dan Beijing. Menanggapi dinamika tersebut, Kuiken mendesak Kongres AS menyusun strategi nasional terkait data.
“Kami merekomendasikan agar Kongres AS memikirkan strategi data nasional dan bagaimana pemerintah AS dapat memperlakukan data sebagai aset ekonomi sebagai rekomendasi nomor satu kami,” ujar Kuiken.
FAQ: Pertanyaan Umum
Apakah laporan USCC ini bersifat mengikat secara hukum? Tidak. USCC adalah badan penasihat Kongres AS yang memberikan rekomendasi kebijakan, bukan lembaga pembuat regulasi. Rekomendasi dalam laporan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui proses legislasi atau eksekutif agar menjadi kebijakan resmi.
Bagaimana perbedaan utama antara pendekatan data Tiongkok dan Amerika? Tiongkok mengumpulkan data secara sistematis dari dunia fisik dan operasional industri, sementara perusahaan AS lebih banyak mengandalkan data dari internet terbuka. Perbedaan sumber ini berdampak langsung pada kemampuan melatih AI untuk aplikasi seperti robotika dan kendaraan otonom.
Apa implikasinya bagi perusahaan multinasional yang beroperasi di China? Perusahaan tersebut wajib mematuhi aturan transfer data lintas batas yang semakin ketat, termasuk kemungkinan memisahkan data pelanggan Tiongkok dari infrastruktur global dan memperkuat lokalisasi operasional di dalam negeri.

