Ada Jejak Sesar Aktif Purba Gunung Ciremai, Wilayah Kuningan Waspada
Dailynesia.com – Penelitian terbaru mengungkap adanya jejak sesar aktif purba di sekitar Gunung Ciremai yang menimbulkan peringatan bagi wilayah Kuningan. Tim ahli dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bukti fisik mengenai kejadian tektonik dan vulkanisme purba melalui analisis geokronologi serta pemetaan LiDAR presisi tinggi. Hasil riset ini menyoroti bahwa daerah Lingkar Timur Kuningan, yang merupakan wilayah penting di Pulau Jawa, memiliki sejarah aktivitas bumi yang kompleks. Adanya jejak sesar aktif purba Gunung Ciremai memicu pertanyaan serius tentang potensi risiko bencana di masa depan, terutama gempa dan erupsi.
Bukti Unik dari Umur Endapan
“Keterbatasan data usia endapan gunungapi di Jawa menjadi alasan kami melakukan riset ini. Endapan yang terganggu oleh patahan bisa menjadi saksi sejarah kejadian gempa dan vulkanisme masa lalu,” kata Sonny Aribowo, peneliti ahli muda PRKG yang memimpin tim, dikutip pada Kamis (14/5/2026).
Temuan utama dalam penelitian ini adalah adanya deformasi tanah yang menunjukkan aktivitas sesar naik (thrusting) sejak 22.000 tahun lalu. Melalui metode radiokarbon, tim berhasil mengetahui bahwa endapan vulkanik yang berusia lebih tua ditemukan di atas endapan lebih baru, membuktikan adanya pergeseran tektonik yang berkelanjutan. Sonny menjelaskan bahwa sesar normal yang terdeteksi pada endapan berusia 16.000 tahun juga menandakan fase penyeimbangan sedimentasi setelah tekanan tektonik besar. Ini menjadi petunjuk bahwa wilayah Kuningan masih memiliki potensi kejadian gempa yang signifikan.
Keterlibatan sesar purba dalam aktivitas vulkanik Gunung Ciremai menarik perhatian karena kejadian tersebut bisa memengaruhi distribusi material endapan. Endapan jauh (distal) menunjukkan ciri-ciri sedimen vulkanik basaltik sub-alkalin dengan kadar besi tinggi dan silika rendah, sementara endapan dekat (proximal) dominasi batuan andesit basaltik. Pemetaan ini menambah pemahaman tentang dinamika magma dan peran sesar dalam proses vulkanisme. Adanya jejak sesar aktif purba Gunung Ciremai juga menjadi bahan pertimbangan untuk memperbarui model risiko bencana.
Komposisi Material dan Proses Vulkanisme
Analisis unsur jejak dan diagram TAS menunjukkan bahwa endapan vulkanik di daerah Kuningan memiliki komposisi geokimia yang berbeda dari endapan lainnya. Endapan distal menunjukkan adanya letusan pada masa 15.000 tahun lalu, sementara endapan proximal menandakan penyeimbangan magma yang berlangsung secara kontinu. Teknologi LiDAR memainkan peran penting dalam mengidentifikasi lapisan tanah yang terbentuk secara tidak teratur akibat aktivitas sesar, karena teknik ini memungkinkan pengambilan data tanpa hambatan dari vegetasi. “Hasil riset ini membantu kita memahami kemiringan lapisan dan keberadaan patahan yang menjadi bagian dari sejarah vulkanisme Ciremai,” terang Sonny.
Dengan menemukan adanya jejak sesar aktif purba Gunung Ciremai, tim peneliti bisa mengungkap pola distribusi material vulkanik yang terkait dengan pergeseran tektonik. Analisis ini mengungkap bahwa endapan vulkanik yang terbentuk pada era Kuarter memiliki karakteristik spesifik yang berbeda dari endapan di masa sebelumnya. Perbedaan ini memperkuat teori bahwa Gunung Ciremai memiliki siklus erupsi yang dipengaruhi oleh aktivitas sesar yang terus berlangsung. Data ini menjadi dasar untuk memprediksi kejadian seismik yang mungkin terjadi di masa depan.
Manfaat untuk Perencanaan Wilayah
Wilayah Kuningan, yang sebagian besar berada di zona pergeseran tektonik, perlu diperhatikan dalam penyusunan tata ruang dan pengelolaan bencana. Integrasi data erupsi eksplosif (sejak 40.800 tahun lalu hingga era sejarah) dengan identifikasi sesar aktif purba memberikan wawasan lebih akurat tentang siklus gempa dan vulkanisme. Dengan adanya jejak sesar aktif purba Gunung Ciremai, pemerintah daerah dan instansi terkait bisa menyusun strategi mitigasi yang lebih baik, terutama untuk mengelola risiko bencana gempa dan letusan yang berpotensi mengancam kawasan tersebut.
Keterlibatan sesar purba dalam aktivitas vulkanik Gunung Ciremai juga memiliki dampak signifikan pada sistem peringatan dini. Penelitian ini membuka kemungkinan untuk mengembangkan model risiko berbasis data geologi yang lebih lengkap. Sonny berharap temuan ini bisa diterapkan dalam kebijakan pemerintah untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana alam. “Dengan menambah data usia batuan yang terganggu oleh sesar, kita bisa menghitung periode ulang gempa dan sejarah erupsi secara lebih tepat. Ini penting untuk mengelola risiko bencana di masa depan,” tuturnya.
Implications for Future Risk Assessment
Hasil riset ini tidak hanya menambah wawasan tentang sejarah vulkanisme Gunung Ciremai, tetapi juga menjadi fondasi untuk memperkirakan dampak masa depan. Tekanan tektonik yang berlangsung secara terus-menerus di wilayah Kuningan memperbesar kemungkinan adanya kejadian seismik besar. Sonny menambahkan bahwa pola deformasi yang terdeteksi dari endapan distal dan proximal menunjukkan bahwa sesar aktif purba tetap aktif, meskipun dengan intensitas yang berbeda. Dengan memahami adanya jejak sesar aktif purba Gunung Ciremai, para ahli bisa memperbarui skenario risiko bencana untuk memastikan perlindungan wilayah tersebut.
Perkembangan teknologi pemetaan seperti LiDAR dan geokronologi juga mempercepat identifikasi ancaman geologi di Jawa. Kuningan, sebagai salah satu kawasan paling rawan, perlu menjadi fokus utama dalam penelitian lanjutan. Selain itu, temuan ini memperkuat pentingnya melibatkan komunitas dalam kebijakan mitigasi bencana. “Data ini bisa digunakan untuk memperjelas pola aliran magma dan aktivitas sesar yang terkait dengan kejadian gempa di masa lalu. Dengan demikian, kita bisa membuat prediksi yang lebih realistis untuk wilayah yang terkena dampak dari Gunung Ciremai,” jelas Sonny.

