Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Sejarah Berbicara! Perebutan di Sleat Hormuz Hanya Sementara & Fana

Published September 26, 2026 · Updated September 26, 2026 · By James Lopez - dailynesia.com

Foto : James Lopez - dailynesia.com

Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb: Perebutan Jalur Laut yang Tak Pernah Abadi

Dailynesia.com – Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb kembali menjadi pusat perhatian karena keduanya merupakan dua jalur sempit yang menentukan kelancaran pelayaran di kawasan Teluk, Laut Merah, Laut Arab, dan Samudra Hindia. Ketika keamanan di salah satu titik ini terganggu, dampaknya dapat menjalar ke perdagangan, biaya pengiriman, serta harga energi di berbagai negara.

Namun, riwayat kedua chokepoint tersebut menunjukkan satu pola yang berulang: kekuatan besar dapat membangun pengaruh laut yang luas, tetapi sulit mempertahankannya tanpa batas waktu. Pergeseran teknologi, perubahan kepentingan dalam negeri, dan kemampuan aktor lokal terus mengubah keseimbangan di kawasan.

“Perseteruan antara AS dan Iran terkait titik-titik strategis ini hanyalah babak terbaru dalam sejarah panjang-yang telah berlangsung berabad-abad-di mana kekuatan dari luar kawasan berupaya memengaruhi atau mendominasi Timur Tengah melalui jalur laut”

Ibrahim Al-Marashi menekankan bahwa persaingan saat ini bukanlah peristiwa terpisah dari masa lalu. Sejak perdagangan maritim berkembang, selat-selat di sekitar Timur Tengah selalu menarik perhatian kekuatan dari luar kawasan karena nilainya bagi arus barang, kapal dagang, dan akses menuju pelabuhan-pelabuhan penting.

Dominasi laut selalu menghadapi batas

“Pelajaran sejarahnya adalah bahwa meskipun hegemoni maritim dari kekuatan luar kawasan itu mungkin terjadi, sifatnya hanyalah sementara dan fana, tak ubahnya seperti ombak yang membawanya.”

Gagasan itu tercermin dalam pengalaman sejumlah kekuatan besar. Tiongkok pernah menghentikan ekspansi armada lautnya, Portugal akhirnya kehilangan pengaruh atas Hormuz, Belanda mengalihkan perhatian ke Jawa, sementara Inggris meninggalkan Aden. Pergantian tersebut tidak terjadi hanya karena kekuatan militer melemah, melainkan juga karena biaya mempertahankan pengaruh menjadi besar, prioritas politik berubah, dan jaringan aliansi lokal bergeser.

Mengendalikan laut tidak otomatis berarti mampu mengatur kehidupan politik di pesisirnya. Setiap kekuatan yang berupaya menguasai titik sempit pelayaran tetap harus berhadapan dengan masyarakat, pemerintahan, kelompok bersenjata, serta kepentingan ekonomi yang tumbuh di sekeliling jalur tersebut.

Dari Zheng He hingga dinamika modern

Salah satu contoh awal proyeksi kekuatan maritim dari luar kawasan muncul pada era Dinasti Ming. Pada 1405, Zheng He, laksamana Muslim Tiongkok yang juga dikenal sebagai penjelajah dan diplomat, memulai perjalanan pertama dari tujuh ekspedisinya melintasi Samudra Hindia.

Armada Zheng He berisi lebih dari 300 kapal. Sekitar 1414, pelayaran itu mencapai Hormuz, lalu bergerak ke Aden di Yaman dan melewati Bab el-Mandeb menuju Laut Merah. Kehadiran tersebut kerap digambarkan sebagai “Pax Sincia”, tetapi tujuannya bukan membangun penjajahan langsung atas selat-selat strategis itu.

Tiongkok pada masa itu memperkuat posisi perdagangannya melalui kekuatan angkatan laut, hubungan diplomatik, dan pertukaran hadiah bernilai tinggi. Zheng He tidak mendirikan koloni di Hormuz ataupun sepanjang pesisir Arab. Sebaliknya, armadanya masuk ke dalam jaringan niaga yang telah lama dibangun oleh pedagang Arab, Persia, India, dan Afrika Timur.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan mahalnya biaya mempertahankan jangkauan maritim jauh dari pusat kekuasaan. Sesudah pelayaran terakhir Zheng He pada dekade 1430-an, Dinasti Ming mengubah prioritasnya. Negara tidak lagi melanjutkan investasi besar untuk armada dan pemeliharaannya.

Di masa kini, Beijing kembali mengaitkan pelayaran Zheng He dengan hubungan Tiongkok dan Timur Tengah. Investasi pada infrastruktur, energi, serta pelabuhan modern, termasuk Gwadar di Pakistan, menjadi bagian dari upaya memperluas hubungan ekonomi dan konektivitas kawasan. Meski demikian, pengalaman sejarah memperlihatkan bahwa pengaruh maritim tidak selalu identik dengan penguasaan politik permanen.

Peran Amerika Serikat setelah Perang Dunia II

Setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat mengambil posisi yang sebelumnya banyak dipegang Inggris di kawasan Teluk. Kehadirannya ditopang pangkalan militer, kelompok tempur kapal induk, serta penjualan persenjataan yang berkaitan dengan akses terhadap minyak Teluk.

Pada 1980, Presiden Jimmy Carter menyatakan upaya Uni Soviet untuk menguasai wilayah Teluk akan dipandang sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan Amerika Serikat dan akan dihadapi dengan kekuatan militer. Pernyataan itu kemudian dikenal sebagai Doktrin Carter, yang menjadi salah satu fondasi keterlibatan keamanan Washington di kawasan.

Empat puluh lima tahun kemudian, perang yang dikobarkan Donald Trump pada Februari 2026 dinilai telah mengguncang logika doktrin tersebut. Kapal perang Amerika Serikat memang berada di Selat Hormuz dengan alasan menjaga kebebasan navigasi. Namun, konflik itu justru memicu Iran mengganggu perdagangan di Teluk sebagai bentuk balasan, sehingga pelayaran yang hendak diamankan kembali menghadapi risiko.

Rudal, ranjau, drone, dan biaya pelayaran

Perebutan pengaruh di laut kini tidak hanya ditentukan oleh jumlah kapal induk atau ukuran armada. Iran dan kelompok Houthi, yang baru-baru ini merebut Mokha, menunjukkan bahwa rudal, ranjau, serta pesawat nirawak dapat menciptakan tekanan besar tanpa memerlukan armada besar.

Ancaman terhadap kapal dagang dapat meningkatkan premi asuransi maritim. Dalam kondisi seperti itu, biaya perlindungan pelayaran berubah menjadi instrumen tekanan ekonomi. Jalur laut mungkin tetap terbuka secara formal, tetapi risiko yang meningkat dapat memengaruhi keputusan perusahaan pelayaran dan perdagangan.

Bagi negara-negara yang bergantung pada arus barang dan energi internasional, pelajaran utamanya terletak pada rapuhnya titik sempit pelayaran. Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb dapat menjadi arena unjuk kekuatan, tetapi sejarah menunjukkan tidak ada kekuasaan eksternal yang sepenuhnya mampu menghapus peran aktor lokal.

Persaingan di dua selat tersebut kemungkinan akan terus berubah seiring perkembangan konflik, teknologi, dan kepentingan ekonomi. Yang tampak dominan pada satu masa belum tentu bertahan pada masa berikutnya. Di perairan strategis Timur Tengah, kekuatan besar datang dan pergi, sementara dinamika lokal tetap menjadi penentu yang tidak dapat diabaikan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Sejarah Berbicara Perebutan di Sleat Hormuz?

Sejarah Berbicara Perebutan di Sleat Hormuz is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sejarah Berbicara Perebutan di Sleat Hormuz matter?

Sejarah Berbicara Perebutan di Sleat Hormuz matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.