Eropa Catat Rekor Terendah Konsumsi Batu Bara, Harga Global Bergerak Lembut
Dailynesia.com – Uni Eropa berhasil mencatatkan angka terendah sepanjang sejarah untuk penggunaan batu bara dalam produksi listrik. Pada tahun 2025, batu bara keras menyumbang 3,7 persen atau setara 105.601 GWh dari total output listrik bruto kawasan tersebut. Sementara itu, batu bara lignit atau cokelat memberikan kontribusi sebesar 5,5 persen atau 154.186 GWh.
Peristiwa ini menandai momen penting karena pada tahun sebelumnya, 2024, porsi gabungan kedua jenis batu bara tersebut untuk pertama kalinya berhasil turun di bawah level 10 persen dari total produksi.
China dan India Turunkan Konsumsi Batu Bara Secara Bersamaan
Analisis terbaru dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mengungkap tren penurunan yang signifikan di Asia. Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di China mengalami kontraksi sebesar 1,6 persen, sementara India mencatat penurunan 3 persen pada tahun sebelumnya.
Ini merupakan kali pertama sejak tahun 1973 kedua negara raksasa tersebut mengalami penurunan konsumsi batu bara secara bersamaan. Lonjakan kapasitas energi terbarukan menjadi pendorong utama perubahan ini, yang mampu menyerap kenaikan permintaan listrik di kedua wilayah.
China berhasil menambahkan lebih dari 300 gigawatt (GW) kapasitas tenaga surya serta 100 GW tenaga angin, mencetak rekor baru dalam sejarah energi mereka. Di sisi lain, India juga berkontribusi besar dengan penambahan sekitar 35 GW surya, 6 GW angin, dan 3,5 GW tenaga air.
Di India, pertumbuhan sektor energi bersih bertanggung jawab atas sekitar 44 persen penurunan pembangkit batu bara dan gas dibandingkan tren lima tahun sebelumnya. Faktor cuaca yang lebih sejuk menyumbang 36 persen, sedangkan perlambatan permintaan listrik berkontribusi 20 persen.
Perkembangan ini sangat krusial mengingat China dan India menyumbang lebih dari 90 persen kenaikan emisi karbon global antara tahun 2015 hingga 2024. Jika tren penurunan ini berlanjut, kedua negara berpotensi menjadi penentu utama kapan konsumsi batu bara dan emisi global mencapai puncaknya.
Harga Batu Bara Global Mengalami Penurunan Tipis
Di pasar komoditas, harga batu bara menunjukkan pelemahan tipis namun tetap bertahan di kisaran US$ 134 per ton. Merujuk data Refinitiv, penutupan perdagangan pada Kamis (13/8/2026) mencatatkan harga US$ 133,9 per ton, turun 0,15 persen.
Penurunan ini sejalan dengan melemahnya harga minyak mentah. Kontrak berjangka Brent turun lebih dari 2 persen ke level US$ 87,07 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga merosot lebih dari 2 persen menjadi US$ 81,25 per barel.
Sebagai komoditas yang saling menggantikan, pergerakan harga minyak langsung memengaruhi batu bara. Namun, di pasar China, batu bara kokas justru mengalami penguatan. Pembeli bersaing ketat mendapatkan kargo dalam waktu dekat yang jumlahnya terbatas, terutama untuk jenis berkualitas tertentu.
Permintaan spekulatif yang meningkat mendorong penjual menaikkan harga penawaran. Ketersediaan kargo untuk pengiriman cepat yang terbatas membuat pembeli bersedia membayar premi kelangkaan. Indeks batu bara kokas rendah sulfur Shanxi mencapai CNY 2.037 per ton, naik CNY 53 dalam sehari dan CNY 66 dalam seminggu.
Persediaan batu bara kokas tercatat sekitar 1,019 juta ton pada 12 Agustus, meningkat 16,5 persen secara mingguan dan 101,5 persen secara tahunan. Meskipun stok total meningkat, jenis dan kualitas tertentu tetap langka untuk kebutuhan segera.
Sebaliknya, harga batu bara termal di pelabuhan utara China mulai tertahan setelah aktivitas pembelian melemah. Aksi ambil untung dari penjual meningkat, namun tekanan biaya dan pasokan ketat memberikan batas bawah bagi harga, sehingga penurunan lebih dalam masih tertahan.
Risiko Cuaca dan Gejolak Pasar Energi
Setelah harga naik, pembeli menjadi lebih hati-hati dan menunggu perkembangan harga lebih lanjut. Ini membuat transaksi di pelabuhan utara China mulai melambat. Kenaikan harga sebelumnya telah mendorong sebagian pedagang melepas stok untuk mengunci keuntungan, menciptakan tekanan terhadap harga.
Pasokan yang masih ketat dan tingginya biaya pengadaan batu bara membuat penjual tidak leluasa menurunkan harga. Karena itu, harga cenderung bergerak sideways ketimbang jatuh tajam. Di satu sisi, permintaan melemah. Di sisi lain, pasokan yang ketat menopang harga.
Akibatnya, momentum kenaikan batu bara termal di pelabuhan utara China mulai kehilangan tenaga. Namun, analis mengingatkan bahwa faktor cuaca tetap menjadi risiko. Suhu musim panas yang lebih tinggi dapat meningkatkan penggunaan AC dan kembali mendorong pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.
Prospek penurunan konsumsi batu bara juga bisa berubah akibat gejolak pasar energi. Lonjakan harga gas setelah invasi Rusia ke Ukraina, misalnya, sebelumnya membuat sejumlah negara kembali meningkatkan penggunaan batu bara.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Harganya Mati Suri Listrik Batu Bara?
Harganya Mati Suri Listrik Batu Bara is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Harganya Mati Suri Listrik Batu Bara matter?
Harganya Mati Suri Listrik Batu Bara matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

