Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Harga Emas Susah Melonjak Lagi, Level US$4.100 Jadi Taruhan

Published October 22, 2026 · Updated October 22, 2026 · By Elizabeth Lopez - dailynesia.com

Foto : Elizabeth Lopez - dailynesia.com

Emas Bergerak Terbatas, Pasar Menunggu Sinyal The Fed

Dailynesia.com – Harga emas mencoba pulih setelah mengalami tekanan selama tiga hari perdagangan berturut-turut, tetapi ruang kenaikannya masih terlihat sempit. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat memberikan dukungan sementara bagi logam mulia, ketika pelaku pasar menanti keputusan kebijakan moneter Federal Reserve pada pekan depan.

Pada perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026, emas ditutup di US$4.140,38 per troy ons, naik 0,39%. Kenaikan tersebut menghentikan rangkaian pelemahan sebelumnya dan memberi sinyal bahwa minat investor belum sepenuhnya hilang di tengah ketidakpastian arah suku bunga AS.

Namun, penguatan itu belum berlanjut pada sesi berikutnya. Hingga Kamis, 22 Oktober 2026 pukul 06.27 WIB, harga emas turun 0,34% menjadi US$4.126,46 per troy ons. Pergerakan ini memperlihatkan pasar masih berhati-hati dan belum menemukan alasan kuat untuk mendorong harga kembali naik secara signifikan.

Imbal Hasil Obligasi Memberi Dukungan

Penurunan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang berlangsung untuk dua sesi beruntun menjadi salah satu faktor yang membantu emas. Ketika imbal hasil surat utang melemah, biaya peluang untuk menyimpan emas ikut berkurang. Emas tidak menawarkan bunga atau kupon, sehingga biasanya kurang menarik saat instrumen pendapatan tetap memberikan return yang tinggi.

Meski begitu, dukungan dari yield yang lebih rendah belum cukup untuk mengubah pandangan pasar secara menyeluruh. Investor masih fokus pada rapat The Fed pada 27-28 Oktober 2026 serta rilis indeks Personal Consumption Expenditures atau PCE AS pada pekan depan. Dua agenda tersebut dinilai penting untuk membaca langkah bank sentral AS setelah ini.

"Saya pikir pasar saat ini memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, tetapi kemungkinan baru terjadi pada Desember. Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober telah turun cukup signifikan," kata Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals.

Ekspektasi pasar menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai 88%, seperti tercermin dalam CME FedWatch Tool. Hampir seluruh ekonom dalam survei Reuters juga memperkirakan suku bunga akan dipertahankan pada Oktober sebelum potensi kenaikan pada Desember.

Sikap hati-hati pembuat kebijakan menjadi perhatian utama, terutama karena inflasi masih bertahan. Dalam situasi normal, inflasi yang sulit mereda dapat mendorong pengetatan moneter. Bagi emas, prospek suku bunga lebih tinggi merupakan tantangan karena investor dapat mengalihkan dana ke aset berbunga yang menawarkan imbal hasil lebih pasti.

US$4.100 Menjadi Area Penting

Di tengah tekanan tersebut, level US$4.100 per troy ons dipandang sebagai area yang perlu dicermati. Level ini berpotensi menjadi titik tempat minat beli kembali muncul ketika harga emas terkoreksi. Namun, keberadaan pembeli di area tersebut belum otomatis menjamin reli baru, karena sentimen suku bunga tetap menjadi penentu utama.

"Saya pikir harga emas akan bergerak dalam kisaran terbatas untuk sementara waktu. Namun, kecenderungannya masih mengarah ke penurunan," ujarnya.

Pergerakan terbatas atau konsolidasi umumnya menggambarkan kondisi ketika pasar menunggu katalis baru. Harga dapat berulang kali bergerak naik dan turun dalam rentang tertentu tanpa membentuk arah yang tegas. Dalam kondisi seperti ini, respons investor terhadap data inflasi, pernyataan pejabat The Fed, dan perubahan yield obligasi menjadi lebih sensitif.

"Saya masih meyakini bahwa dalam jangka pendek, emas berada dalam fase konsolidasi. Jadi, setiap kali harga turun di bawah US$4.100, ada kecenderungan harga menemukan titik dasar karena muncul minat beli. Namun, potensi kenaikannya masih terbatas selama konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian," kata Giovanni Staunovo, analis UBS.

Emas secara tradisional kerap dipakai sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Akan tetapi, karakter tersebut tidak selalu membuat harganya naik ketika inflasi tinggi. Jika tekanan inflasi membuat bank sentral menahan atau menaikkan suku bunga, emas justru dapat kehilangan sebagian daya tariknya dibandingkan aset yang menghasilkan pendapatan.

Perhatian terhadap konflik di Timur Tengah juga tetap relevan bagi pasar komoditas. Ketegangan geopolitik dapat meningkatkan kebutuhan akan aset aman, tetapi dampaknya terhadap emas tidak berdiri sendiri. Arah kebijakan The Fed, kondisi dolar AS, dan imbal hasil obligasi masih berperan besar dalam menentukan apakah permintaan aset aman dapat berubah menjadi kenaikan harga yang berkelanjutan.

Minyak Stabil, Perak Melanjutkan Koreksi

Di pasar energi, harga minyak bergerak relatif stabil. Investor mempertimbangkan peluang kemajuan menuju perundingan Rusia-Ukraina, penurunan persediaan minyak AS, serta belum terjadinya dialog antara Amerika Serikat dan Iran. Kombinasi faktor tersebut membuat pasar minyak menghadapi sinyal yang saling berlawanan.

Perak justru belum mengikuti pemulihan tipis pada emas. Pada Rabu, 21 Oktober 2026, harga perak berakhir di US$57,97 per troy ons atau turun 0,02%. Penurunan kecil tersebut mengakhiri reli yang telah berlangsung selama dua hari sebelumnya.

Tekanan pada perak berlanjut pada Kamis pagi. Hingga pukul 06.37 WIB, harganya melemah 0,65% menjadi US$57,59 per troy ons. Kondisi ini menunjukkan investor masih melakukan penyesuaian posisi menjelang agenda kebijakan penting di AS.

Untuk saat ini, pasar logam mulia tampak berada dalam fase menunggu. Emas memperoleh penopang dari turunnya yield obligasi, tetapi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember membatasi optimisme. Perhatian pasar akan tertuju pada keputusan The Fed, data PCE, dan kemampuan harga emas bertahan di sekitar US$4.100 per troy ons.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Harga Emas Susah Melonjak Lagi Level?

Harga Emas Susah Melonjak Lagi Level is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Harga Emas Susah Melonjak Lagi Level matter?

Harga Emas Susah Melonjak Lagi Level matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.