Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Dulu Pilar Timur Tengah, Mesir – Yordania Goyah Dihantam Perang & AS

Published August 13, 2026 · Updated August 13, 2026 · By Linda Miller - dailynesia.com

Foto : Linda Miller - dailynesia.com

Mesir dan Yordania: Dua Sekutu AS dengan Nasib Berbeda di Tengah Perang Timur Tengah

Dailynesia.com – Dua negara sahabat Amerika Serikat di kawasan Arab kini menempuh jalur yang berbeda saat konflik dengan Iran meluas. Yordania berdiri di garis terdepan berkat kedekatan historisnya dengan Washington, sementara Mesir memilih untuk tidak terlalu terlibat. Meski kedua pendekatan itu terdengar logis, masing-masing membawa konsekuensi yang signifikan bagi kedua negara.

Sebelumnya, Raja Yordania Abdullah II pernah menegaskan kepada Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahwa negaranya tidak akan menjadi

"medan perang bagi konflik regional"

. Di sisi lain, Abdel-Fattah al-Sisi saat berkampanye menjadi Presiden Mesir pernah berjanji kepada negara-negara Teluk bahwa jika keamanan mereka terancam, Mesir akan

"satu langkah lagi"

untuk memberikan bantuan.

Kini, situasi telah berbalik. Yordania justru menjadi sasaran serangan, sedangkan Mesir relatif aman dari konflik langsung. Dampaknya pun berbeda: Yordania menanggung beban perang secara langsung, sementara Mesir mulai kehilangan pengaruhnya di kawasan.

Yordania Menjadi Target Utama

Bagi Yordania, hubungan dekat dengan AS bukan sekadar pilihan politik, melainkan bagian penting dari strategi bertahan hidup. Negara yang dikelilingi oleh negara-negara lebih kuat dan memiliki sumber daya alam terbatas ini merupakan salah satu penerima bantuan AS terbesar di dunia.

Ribuan tentara Amerika ditempatkan di pangkalan udara Muwaffaq Salti yang terletak di gurun timur Yordania. Fasilitas ini menjadi salah satu aset strategis dalam perang AS melawan Iran, karena menampung jet tempur, pesawat pengisian bahan bakar, serta berbagai pesawat militer lainnya.

Kedekatan tersebut membuat Yordania ikut menjadi target. Dalam bulan pertama perang, Iran menembakkan setidaknya 262 rudal dan drone ke wilayah Yordania. Di dalam negeri, ratusan politikus, mantan perwira militer, dan tokoh masyarakat menandatangani surat terbuka yang meminta pasukan AS ditarik dari negara tersebut.

Namun, Yordania tidak mudah mengambil keputusan untuk menjauh dari Washington. Pada tahun 2025, negara itu menerima lebih dari US$1,6 miliar bantuan AS, yang setara dengan sekitar 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pada bulan Agustus, Washington juga menjanjikan tambahan US$355 juta untuk infrastruktur, pendidikan, dan berbagai proyek lainnya. Bagi Yordania, menjauh dari AS bukan hanya soal politik, tetapi juga kepentingan ekonomi yang dipertaruhkan.

Perang Menghantam Ekonomi Yordania

Dampak konflik mulai terasa di sektor-sektor yang dekat dengan kehidupan ekonomi sehari-hari. Serangan rudal menyebabkan pembatalan penerbangan dan wisatawan mengurungkan rencana kunjungan. Pendapatan pariwisata Yordania turun hampir 10% pada empat bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, sektor ini sudah lebih dulu terpukul akibat perang di Gaza.

Tekanan juga datang dari sektor energi. Yordania mengandalkan gas dari Israel untuk menghasilkan sekitar separuh kebutuhan listriknya. Ketika perang dimulai, Israel menghentikan sementara ekspor gas karena khawatir fasilitas produksinya menjadi sasaran serangan Iran. Perusahaan listrik milik negara pun harus beralih ke diesel, heavy fuel oil, dan LNG di pasar spot yang harganya lebih mahal.

Ekspor gas kembali berjalan pada bulan April, tetapi IMF memperkirakan tagihan impor energi Yordania pada 2026 akan 36% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Perang regional tidak harus menghancurkan sebuah negara secara langsung. Gangguan pada penerbangan, wisata, dan energi saja sudah cukup untuk membuat ongkos ekonomi membesar.

Mesir Lebih Aman, Tapi Kehilangan Panggung

Kondisi Mesir terlihat berbeda dari Yordania. Ekonominya diperkirakan tumbuh 4,6% tahun ini. IMF juga baru mencairkan tranche terbaru senilai US$1,8 miliar dari kesepakatan pinjaman selama empat tahun. Sektor pariwisata pun masih menunjukkan pertumbuhan positif.

Lebih dari 9 juta wisatawan datang ke Mesir pada semester pertama 2026, naik 3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor ini sendiri menyumbang sekitar 13% lapangan kerja di negara tersebut. Dua sumber devisa lainnya juga masih terlihat kuat.

Pendapatan Terusan Suez naik 30% dari US$1,8 miliar menjadi US$2,4 miliar pada semester pertama 2026, sementara remitansi mencapai rekor tertinggi dalam setahun hingga bulan Juni. Namun, angka-angka ini belum tentu mencerminkan seluruh dampak perang.

Serangan kelompok yang didukung Iran terhadap kapal-kapal di Laut Merah dapat menekan pendapatan Terusan Suez. Sementara itu, sebagian besar remitansi berasal dari warga Mesir yang bekerja di negara-negara Teluk. Jika ekonomi kawasan tersebut melemah dalam waktu lama, jumlah pekerja yang mengirim uang pulang juga bisa berkurang.

Pemerintah Mesir juga telah menaikkan sebagian tarif listrik hingga 12%. Masalah terbesar Mesir saat ini bukan terutama soal kemampuan menghadapi serangan langsung, melainkan bagaimana menjaga stabilitas ekonomi dan pengaruh regional di tengah ketidakpastian yang meluas.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Dulu Pilar Timur Tengah Mesir?

Dulu Pilar Timur Tengah Mesir is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Dulu Pilar Timur Tengah Mesir matter?

Dulu Pilar Timur Tengah Mesir matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.