Dailynesia News
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Dua Pekan Tertekan, Harga Emas Dunia Kini Kembali Merangkak Naik

Published October 10, 2026 · Updated October 10, 2026 · By Elizabeth Lopez - dailynesia.com

Foto : Elizabeth Lopez - dailynesia.com

Emas Global Pulih Setelah Tekanan Dua Pekan

Dailynesia.com – Harga emas dunia menutup perdagangan akhir pekan dengan kenaikan kuat pada Jumat, 9 Oktober 2026. Logam mulia tersebut kembali menarik minat investor setelah menghadapi tekanan selama dua pekan, ketika sejumlah pelaku pasar memanfaatkan pelemahan harga sebelumnya untuk melakukan pembelian.

Pada akhir perdagangan Jumat, emas berada di US$4.193,83 per troy ons. Posisi ini naik 1,45% dari penutupan sebelumnya di US$4.133,93 per troy ons. Penguatan itu menjadi kenaikan harian kedua secara beruntun, setelah harga emas sempat menyentuh titik terendah dalam dua bulan pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Dalam rentang satu minggu, harga emas bertambah 1,24%. Pergerakan tersebut menjadi pembalikan dari penurunan 3,36% yang terjadi pada pekan sebelumnya sekaligus menghentikan tren pelemahan dua pekan berturut-turut.

Pembelian di Area Harga Rendah Menopang Pemulihan

Pemulihan emas muncul ketika investor melihat penurunan harga sebelumnya sebagai peluang masuk kembali ke pasar. Area US$4.000 per troy ons menjadi salah satu level yang memberi dukungan penting bagi harga, karena minat beli kembali meningkat ketika emas mendekati kisaran tersebut.

Rhona O'Connell, Kepala Analisis Pasar StoneX, menilai ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve telah banyak diperhitungkan dalam harga emas. Artinya, tekanan dari perkiraan kebijakan moneter yang lebih ketat tidak lagi sepenuhnya mengejutkan pasar.

Meski demikian, ruang kenaikan lanjutan tetap dipandang terbatas apabila tidak ada perkembangan besar yang mengubah arah sentimen investor. Emas masih harus menghadapi ketidakpastian mengenai inflasi Amerika Serikat dan langkah berikutnya dari bank sentral negara tersebut.

Bagi investor, pergerakan ini menunjukkan bahwa emas masih sensitif terhadap kombinasi tiga faktor utama: suku bunga, nilai dolar AS, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Ketiganya memengaruhi biaya peluang memegang emas, aset yang tidak memberikan pendapatan bunga secara langsung.

Imbal Hasil Obligasi Memberi Ruang bagi Emas

Tekanan terhadap emas juga mereda seiring perubahan arah imbal hasil surat utang pemerintah AS. Imbal hasil Treasury bertenor 10 tahun sempat menyentuh posisi tertinggi lebih dari dua dekade pada Rabu, 7 Oktober 2026, sebelum bergerak lebih rendah dalam beberapa sesi setelahnya.

Pada Jumat, imbal hasil obligasi 10 tahun kembali bertambah 2,8 basis poin ke 5,261%. Namun secara mingguan, imbal hasil tersebut masih turun 3,5 basis poin. Penurunan mingguan itu menjadi pelemahan terbesar dalam dua bulan dan membantu mengurangi tekanan terhadap harga emas.

Hubungan antara emas dan imbal hasil obligasi penting untuk diperhatikan. Ketika imbal hasil surat utang naik, investor dapat memperoleh pendapatan lebih tinggi dari aset berbunga, sehingga daya tarik emas bisa berkurang. Sebaliknya, pelonggaran imbal hasil dapat membuat emas terlihat lebih kompetitif sebagai instrumen pelindung nilai dan diversifikasi portofolio.

Dolar AS yang sedikit melemah pada perdagangan Jumat turut mendukung pemulihan tersebut. Emas diperdagangkan dalam dolar, sehingga pelemahan mata uang AS membuat harga emas relatif lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini dapat membantu memperluas permintaan dari pasar internasional.

Ancaman Kebijakan The Fed Masih Membayangi

Kenaikan harga emas belum berarti risiko dari arah kebijakan moneter AS telah hilang. Presiden Federal Reserve St. Louis, Alberto Musalem, pada Kamis, 8 Oktober 2026, menyampaikan bahwa bank sentral AS masih perlu menaikkan suku bunga agar inflasi kembali menuju sasaran 2%.

Ekspektasi pasar pun masih mengarah pada kemungkinan pengetatan lanjutan. Perangkat CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober sebesar 19%. Sementara itu, peluang adanya minimal satu kenaikan sebesar 25 basis poin hingga Desember mencapai 84%.

Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi tantangan bagi emas. Saat biaya pinjaman meningkat dan obligasi menawarkan imbal hasil yang lebih besar, sebagian investor dapat mengalihkan dana dari aset tanpa bunga ke instrumen berpendapatan tetap. Karena itu, pemulihan harga emas saat ini tetap sangat bergantung pada perubahan pandangan pasar terhadap inflasi dan kebijakan The Fed.

Harga energi turut memperumit situasi. Minyak Brent ditutup di sekitar US$104 per barel pada Jumat, meski Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan dengan Rusia untuk meningkatkan pasokan diesel ke pasar global. Harga minyak yang masih tinggi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, sehingga memperkuat alasan bagi bank sentral untuk tetap berhati-hati.

Data Inflasi AS Menjadi Fokus Pekan Depan

Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data Consumer Price Index atau CPI Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada pekan depan. Angka inflasi tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum pertemuan kebijakan The Fed pada 27–28 Oktober 2026.

Han Tan, Kepala Analis Pasar Bybit, melihat laporan inflasi mendatang sebagai pemicu penting untuk pergerakan emas berikutnya. Jika inflasi tetap tinggi dan mendorong kenaikan suku bunga yang lebih agresif, harga emas berisiko kembali menguji area psikologis US$4.000 per troy ons.

Di sisi lain, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi kekhawatiran pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter. Skenario tersebut berpotensi membuka peluang bagi emas untuk melanjutkan pemulihannya, terutama bila dolar dan imbal hasil obligasi kembali melemah.

Permintaan emas fisik di Asia juga menjadi faktor yang patut dicermati, meskipun perkembangannya tidak seragam. Di India, minat terhadap emas pada pekan ini cenderung lemah. Perbedaan kondisi permintaan fisik dan arus investasi di pasar keuangan dapat membuat pergerakan harga emas tetap bergejolak dalam waktu dekat.

Dengan demikian, kenaikan pada akhir pekan memberi sinyal pemulihan setelah tekanan yang cukup panjang, tetapi belum sepenuhnya menghapus risiko penurunan. Investor akan mencermati data inflasi, keputusan suku bunga, arah dolar AS, serta perubahan imbal hasil obligasi untuk menilai apakah reli emas dapat bertahan melewati level saat ini.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Dua Pekan Tertekan Harga Emas Dunia?

Dua Pekan Tertekan Harga Emas Dunia is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Dua Pekan Tertekan Harga Emas Dunia matter?

Dua Pekan Tertekan Harga Emas Dunia matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.