Pergerakan Valuta Asia Beragam Pasca Data Inflasi AS
Dailynesia.com – Beda Nasib Mata Uang Asia – Pagi ini, pasar valuta Asia menunjukkan dinamika yang bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat. Pengumuman data inflasi terbaru dari AS berhasil meredakan kekhawatiran investor mengenai potensi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve dalam waktu dekat. Berdasarkan data Refinitiv yang tercatat pada Kamis (13/8/2026) pukul 09.12 WIB, dari sepuluh mata uang Asia yang diamati, empat di antaranya berhasil menguat. Sebaliknya, tiga mata uang mengalami pelemahan, sementara sisanya bergerak stagnan.
Won Korea Pimpin Penguatan, Rupiah Tertekan
Won Korea Selatan tampil sebagai mata uang dengan performa terbaik di kawasan Asia pagi ini. Nilai tukar Won menguat sebesar 0,22 persen, menyentuh level KRW 1.415 per US$. Di posisi kedua, dolar Taiwan mencatat kenaikan 0,17 persen menuju TWD 32,162/US$. Penguatan juga terlihat pada dong Vietnam yang naik tipis 0,06 persen ke VND 26.034/US$, serta yen Jepang yang menguat 0,02 persen ke JPY 159,39/US$.
Sementara itu, rupiah menjadi mata uang dengan tekanan jual terkuat di Asia. Mata uang Garuda melemah 0,08 persen ke posisi Rp17.880/US$. Kondisi ini melanjutkan tren negatif setelah perdagangan sebelumnya rupiah ditutup melemah 0,20 persen, menandai penurunan dalam dua sesi berturut-turut. Ringgit Malaysia juga mengalami koreksi sebesar 0,02 persen ke MYR 4,084/US$, sedangkan dolar Singapura turun 0,01 persen.
Yuan, Baht, dan Peso Tetap Stagnan
Tiga mata uang lainnya menunjukkan pergerakan yang relatif datar. Yuan China bertahan di level CNY 6,743/US$, baht Thailand di THB 33,09/US$, dan peso Filipina di PHP 61,210/US$. Pergerakan terbatas ini sejalan dengan tren dolar AS yang masih bergerak dalam kisaran sempit. Indeks dolar AS (DXY) pada periode yang sama mencatat kenaikan tipis 0,04 persen ke posisi 99,974.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Menurun
Meski DXY menguat sedikit, tekanan terhadap dolar AS muncul setelah data inflasi konsumen AS periode Juli sesuai dengan perkiraan ekonom. Angka ini meredakan kekhawatiran bahwa inflasi tinggi dapat kembali memicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Dalam kurun 12 bulan hingga Juli, indeks harga konsumen (CPI) AS naik 3,4 persen, lebih rendah dibandingkan kenaikan 3,5 persen pada bulan Juni. Sementara itu, CPI inti meningkat 2,5 persen secara tahunan, melambat dari 2,6 persen di bulan sebelumnya.
Data inflasi yang lebih terkendali membuat pasar kembali menurunkan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September. Futures Fed funds kini memperhitungkan peluang kenaikan sebesar 40 persen pada rapat 15-16 September, turun dari 44 persen sebelum data CPI dirilis dan 55 persen pada pekan sebelumnya.
“Kita mendapatkan sedikit pelemahan dolar setelah CPI. Tampaknya pasar sedikit menurunkan peluang kenaikan suku bunga pada September,” ujar Marc Chandler, chief market strategist Bannockburn Global Forex, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Faktor Pendukung Lainnya
Sebelumnya, tekanan terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga juga datang dari data ketenagakerjaan AS. Laporan pekerjaan menunjukkan melemahnya pasar tenaga kerja, sehingga pelaku pasar mulai meragukan peluang The Fed menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Di sisi lain, harga minyak menjadi perhatian utama. Harga minyak naik dalam perdagangan yang volatil setelah serangan terhadap dua kapal kembali memperkuat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. Pembicaraan untuk mengakhiri perang Iran juga dilaporkan masih menemui jalan buntu.
Kenaikan harga minyak membuat risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Karena itu, meski data CPI meredakan kekhawatiran pasar, arah dolar AS dan mata uang Asia masih akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, harga energi, dan ekspektasi kebijakan The Fed kedepan.
FAQ: Pertanyaan Umum Tentang Valuta Asia
Apa yang menyebabkan perbedaan pergerakan mata uang Asia hari ini? Perbedaan pergerakan mata uang Asia disebabkan oleh respons berbeda terhadap data inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi, serta sentimen pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September.
Mengapa rupiah mengalami pelemahan sementara Won menguat? Rupiah tertekan oleh tekanan jual domestik dan global, sementara Won Korea Selatan menguat karena sentimen positif dari data ekonomi domestik dan aliran modal asing yang masuk ke pasar Korea.
Berapa peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September? Berdasarkan data futures Fed funds terbaru, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada rapat 15-16 September diperkirakan sebesar 40 persen, turun dari 44 persen sebelum data CPI dirilis.
CNBC INDONESIA RESEARCH [email protected]

