5 Tahun Taliban Kuasai Afghanistan: Aman, Tapi Rakyat Makin Miskin

5 days ago  ·  3 min read
By Linda Davis - dailynesia.com
tentara-taliban-memuat-peluncur-roket-ke-dalam-kendaraan-setelah-terjadi-baku-tembak-antara-pasukan-pakistan-dan-afghanistan-d-1772190100401_169

Lima Tahun Pemerintahan Taliban: Ketenangan dengan Harga Mahal

Dailynesia.com – Jakarta — Afghanistan mengalami transformasi signifikan sejak Taliban merebut kembali ibu kota Kabul pada 15 Agustus 2021. Setelah dua dekade konflik berkepanjangan melawan pasukan pemerintah Afghanistan beserta sekutunya, termasuk Amerika Serikat, kelompok tersebut kini telah mengonsolidasikan kekuasaannya. Bendera berwarna hitam dengan tulisan putih kini berkibar di berbagai wilayah, mulai dari pusat kota hingga pedesaan, termasuk di gedung-gedung pemerintahan dan institusi pendidikan.

Stabilitas Keamanan yang Terbangun

Salah satu pencapaian paling nyata selama lima tahun terakhir adalah penurunan drastis kekerasan. Kota-kota yang sebelumnya sering menjadi sasaran serangan bom kini terasa jauh lebih tenang. Masyarakat merasakan dampak positif langsung dari kondisi ini. Para petani dapat mengangkut hasil pertanian mereka ke pasar tanpa khawatir, sementara perjalanan antarprovinsi menjadi lebih lancar dan aman.

Anak-anak Afghanistan kini lebih bebas bersekolah, meskipun akses pendidikan untuk perempuan tetap mengalami pembatasan serius. Data menunjukkan bahwa korban jiwa di kalangan warga sipil akibat serangan teror turun menjadi di bawah 100 orang dalam satu tahun terakhir. Taliban juga berhasil menekan kehadiran kelompok ISIS-K dan Al-Qaeda di wilayah tersebut.

Namun, ketenangan ini tidak lepas dari tindakan represif. Aparat keamanan merespons keras setiap bentuk perlawanan. Pada demonstrasi perempuan di Herat bulan Juni lalu, beberapa peserta dipukuli dan seorang gadis remaja dilaporkan tewas akibat tembakan.

Perubahan Fiskal dan Anjloknya Bantuan

Dari sisi keuangan, pemerintah Taliban mencatatkan peningkatan penerimaan negara. Menurut perkiraan Bank Dunia, pendapatan tahunan kini mencapai sekitar US$4 miliar atau setara Rp 72 triliun (dengan kurs US$1 = Rp 18.000), naik hampir 60 persen dibandingkan tahun 2020. Namun, kenaikan ini tidak mampu menutupi penurunan bantuan internasional yang signifikan.

Bantuan kemanusiaan dan pembangunan yang sebelumnya mencapai US$4 miliar pada 2020, menyusut menjadi US$1,2 miliar pada 2025, dan diproyeksikan akan terus menurun pada 2026. Dampaknya terasa di sektor kesehatan, di mana rumah sakit dan klinik mengalami kekurangan dana. Pemerintah mengalokasikan hampir separuh anggarannya untuk keamanan, sementara belanja kesehatan dan kesejahteraan dipangkas.

Ekonomi yang Belum Bangkit

Di balik stabilitas keamanan, kesejahteraan ekonomi masih tertinggal. Produk domestik bruto per kapita berdasarkan paritas daya beli saat ini hanya sekitar US$2.300, kembali ke level pertengahan tahun 2000-an. Kemiskinan tetap menjadi tantangan utama, diperparah oleh kekeringan panjang yang membatasi pasokan pangan. Banyak keluarga harus menanggung utang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kami punya perdamaian, tetapi kantong kami kosong,”

Ungkapan seorang tetua desa yang dikutip dari The Economist menggambarkan realitas masyarakat saat ini. Selain itu, Afghanistan menghadapi beban tambahan dari sekitar 6 juta warga yang dipulangkan secara paksa dari Pakistan dan Iran. Sebagian besar kembali tanpa tabungan maupun pekerjaan, menambah tekanan pada sumber daya negara.

Pendidikan Perempuan di Bawah Sorotan

Kebijakan Taliban yang paling menuai kritik adalah larangan pendidikan menengah bagi anak perempuan. Sebelum berkuasa kembali, angka partisipasi sekolah telah meningkat selama dua puluh tahun. Sejak 2021, perempuan berusia di atas 12 tahun tidak diizinkan mengikuti pendidikan menengah secara resmi. Sebagai alternatif, beberapa madrasah agama dibuka untuk perempuan yang ingin melanjutkan studi.

Di salah satu sekolah di Kabul, sekitar 600 siswi dilaporkan menerima pendidikan yang mencakup matematika, sains, geografi, dan bahasa Inggris. Namun, ketidakpastian masa depan masih menghantui mereka.

“Kami tidak ingin hanya tinggal di rumah dan membesarkan anak atau menjadi guru di sekolah Islam. Itu bukan impian kami,”

Seorang siswi menyampaikan harapannya dengan tegas.

Investasi Infrastruktur di Tengah Isolasi

Meskipun terisolasi dari komunitas internasional, pemerintah Taliban terus berupaya membangun ekonomi domestik. Proyek pembangunan jalan terus digalakkan, bersamaan dengan investasi pada kanal irigasi, jaringan pipa gas, dan pembangkit listrik tenaga surya. Izin pertambangan juga diberikan untuk komoditas berharga seperti emas, tembaga, dan litium.

Di Kabul, pelebaran jalan dan pembangunan perumahan mengalami peningkatan. Sebagian proyek perumahan didanai oleh sektor swasta lokal, menunjukkan upaya diversifikasi sumber pendanaan di tengah keterbatasan bantuan asing.

Frequently Asked Questions

What is 5 Tahun Taliban Kuasai Afghanistan?

5 Tahun Taliban Kuasai Afghanistan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does 5 Tahun Taliban Kuasai Afghanistan matter?

5 Tahun Taliban Kuasai Afghanistan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category