Visit Agenda: Israel Memaksa Keluarga Palestina Bongkar Kuburan Ayah, PBB Kesal
Dailynesia.com – Sebuah insiden penuh kontroversi terjadi di wilayah Tepi Barat, ketika keluarga Palestina di desa Asasa, dekat Jenin, terpaksa membongkar kembali makam ayah mereka yang dimakamkan di pemukiman Israel. Tindakan ini dikritik tajam oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menyebutnya sebagai contoh kekejaman terhadap hak-hak warga Palestina. Kebijakan Israel untuk memaksa pemindahan kuburan keluarga dianggap sebagai bagian dari upaya sistematis menghapus jejak budaya dan sejarah warga setempat.
Konteks Insiden dan Ancaman terhadap Keluarga
Keluarga Asasa mengalami kesulitan besar setelah mendapat informasi bahwa tanah pemakaman ayah mereka akan digunakan untuk keperluan pemukiman Israel. Jasad Hussein Asasa, yang berusia 80 tahun, dimakamkan di lokasi yang sebelumnya menjadi tempat istirahat para anggota keluarga. Namun, setelah upacara pemakaman selesai, sekelompok pemukim mengancam untuk memindahkan jenazah ke tempat lain, dengan alasan bahwa lahan tersebut termasuk dalam wilayah yang diperuntukkan untuk kolonisasi.
“Kami tidak pernah mengharapkan ini terjadi. Kuburan ayah kami adalah bagian dari tradisi dan identitas kami, dan mereka memaksa kami menguburkan ulang jenazah secara paksa,” ungkap putra Hussein, Mohammed Asasa, seperti dikutip pada hari Minggu (10/5/2026) oleh organisasi berita Palestina, Wafa.
Keluarga Asasa memperjuangkan hak mereka untuk menguburkan jenazah di tanah asal, tetapi ancaman menggunakan buldoser membuat mereka terpaksa menuruti permintaan pemukim. PBB menilai tindakan ini sebagai manifestasi kekuasaan dan kezaliman terhadap warga Palestina, yang selama ini mengalami tekanan dari kebijakan Israel dalam memperluas wilayah pemukiman.
Respons Militer Israel dan Konflik Latar Belakang
Menurut pihak militer Israel, upaya pemindahan jenazah hanya dilakukan setelah menerima laporan bentrok antara warga Palestina dan pemukim. Mereka mengklaim bahwa pasukan diterjunkan untuk mencegah eskalasi konflik, bukan sebagai tindakan pengusiran terhadap keluarga. Namun, keluarga Asasa menyanggah bahwa kebijakan ini bertujuan memperkuat dominasi Israel atas tanah Palestina.
“Kami tidak menolak bentrok, tetapi memindahkan jenazah adalah bentuk penindasan terhadap rasa martabat kami. Ini bukan hanya tentang tanah, tetapi juga tentang penghormatan terhadap jenazah,” tambah Mohammed Asasa.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan oleh pemukim Israel di Tepi Barat, terutama setelah perang Gaza dimulai Oktober 2023. Serangan-serangan terhadap warga Palestina, seperti pembunuhan, pembakaran rumah, dan kerusakan infrastruktur, telah memicu kecaman internasional. PBB juga menyoroti bahwa perang Gaza mempercepat rencana aneksasi Israel terhadap wilayah yang diperdebatkan.
Kecaman PBB dan Impak terhadap Hak Asasi Manusia
Kepala Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB untuk Wilayah Palestina, Ajith Sunghay, mengecam tindakan Israel dalam insiden ini. Ia menyebut bahwa pemindahan jenazah adalah simbol dari penyeragaman kekuasaan dan penindasan terhadap warga Palestina. Sunghay menambahkan bahwa upaya ini mencerminkan sikap dehumanisasi yang terus meningkat di Tepi Barat.
“Tindakan ini menunjukkan bahwa warga Palestina dianggap sebagai hambu. Mereka tidak memiliki kebebasan untuk menghormati jenazah keluarga mereka, bahkan setelah ayah mereka meninggal,” tegas Sunghay.
Dalam rangkaian Visit Agenda, PBB juga menyoroti bahwa kebijakan Israel terhadap warga Palestina memperkuat sikap tak peduli terhadap hak-hak asasi manusia. Penyangkalan pihak militer Israel terhadap tindakan mereka tidak mampu meredakan kekecewaan keluarga yang merasa terluka oleh keputusan yang dianggap tidak adil.
Upaya Internasional untuk Menindaklanjuti Isu ini
PBB menyerukan kepada Israel untuk mempercepat investigasi atas insiden pemaksaan membongkar kuburan ayah Asasa. Organisasi tersebut menekankan bahwa penghormatan terhadap jenazah adalah bagian dari hak dasar manusia yang tidak boleh dipertahankan oleh tindakan kekerasan. Kecaman ini juga terkait dengan pernyataan sebelumnya PBB mengenai meningkatnya kekerasan oleh pemukim Israel di wilayah Tepi Barat.
“Kami mengharapkan keadilan dan perlindungan bagi warga Palestina, terutama dalam hal kemanusiaan. Ini adalah bagian dari rangkaian Visit Agenda kami untuk menyoroti kondisi yang tidak adil di kawasan ini,” jelas Sunghay.
Amnesty International menambahkan bahwa kebijakan ini mencerminkan kebijakan penindasan yang terus dilakukan Israel terhadap Palestina. Upaya pemukiman secara sistematis mengurangi ruang kehidupan warga Palestina, sehingga insiden seperti ini menjadi contoh nyata dari politik aneksasi yang bertujuan mengakuisisi tanah secara paksa.
Implikasi untuk Hubungan Internasional dan Visit Agenda
Insiden ini semakin memperkuat kecaman internasional terhadap kebijakan Israel. Beberapa negara anggota PBB mengecam tindakan pemaksaan tersebut, sementara organisasi hak asasi manusia terus memantau situasi di Tepi Barat. Visit Agenda PBB menjadi alat untuk membangun kesadaran global terhadap perang berkepanjangan Palestina-Israel.
“Visit Agenda kami bertujuan menyampaikan kebenaran dan menyatukan dukungan internasional. Kuburan ayah Asasa adalah simbol dari rasa sakit yang dialami rakyat Palestina,” kata Sunghay.
Dengan tindakan ini, Israel mencoba menunjukkan dominasi mereka atas wilayah Palestina, tetapi keputusan mereka tidak mampu menghilangkan keluhan warga Palestina terhadap penjajahan. Visit Agenda PBB akan terus berlanjut untuk mengungkapkan fenomena ini kepada publik internasional, serta mendorong negara-negara untuk berperan aktif dalam menyelesaikan konflik tersebut.

