Vietnam Kalahkan RI, Siapa Raja Ibu Industri Dunia?
Perkembangan Produksi Baja Vietnam
Dailynesia.com – Vietnam kini menggeser Indonesia sebagai produsen baja terbesar di Asia Tenggara. Pada April 2026, negara ini berada di posisi ke-10 dalam daftar produsen baja mentah terbesar dunia, dengan produksi mencapai 2,1 juta ton. Angka ini naik 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam sektor industri Vietnam.
Dalam dua tahun terakhir, produksi baja Vietnam melonjak dari 20 juta ton pada 2023 menjadi 24,6 juta ton pada 2025. Pertumbuhan ini sekitar 23% dan membuktikan transformasi yang berlangsung di sektor manufaktur. Perusahaan utama seperti Hoa Phat Group turut berperan besar dalam perubahan ini, melalui kompleks baja terpadu Dung Quat yang menciptakan berbagai jenis baja bernilai tambah tinggi.
Peran Hoa Phat Group dalam Penguasaan Industri
Kompleks Hoa Phat Dung Quat memproduksi baja teknik, baja pegas, baja kawat las, hingga baja rel kereta cepat. Pusat produksi ini menjadi tulang punggung bagi industri Vietnam, menghasilkan sekitar 11 juta ton baja mentah pada 2025 atau 44,7% dari total nasional. Perusahaan ini menargetkan produksi lebih dari 14 juta ton tahun ini.
Transformasi Vietnam juga didukung oleh kebutuhan infrastruktur, kawasan industri, dan ekspansi manufaktur yang tinggi. Konsumsi baja domestik naik 12,9% pada 2025, mencapai 24,1 juta ton. Namun, meski capaian ini mengagumkan, Vietnam masih jauh dari menjadi pemain utama global.
Baja dijuluki sebagai “Mother of Industry” atau ibu dari seluruh industri karena menjadi fondasi sektor konstruksi, manufaktur, otomotif, energi, perkapalan, hingga pertahanan.
Dominasi China dalam Industri Baja Global
China tetap memegang posisi sebagai raja “ibu industri” dunia. Produksi baja mentah negara ini mencapai 960,8 juta ton pada 2025, atau 52% dari total produksi global. Perbedaan ini membuat arah industri baja dunia sangat bergantung pada ekonomi Tiongkok.
Dengan produksi 960,8 juta ton, China jauh melampaui negara lain seperti India (164,9 juta ton), Amerika Serikat (82 juta ton), Jepang (80,7 juta ton), Korea Selatan (61,9 juta ton), Vietnam (24,7 juta ton), dan Indonesia (19 juta ton). Dominasi China berdampak langsung pada harga bijih besi dan batu bara kokas global, terutama saat sektor properti negara itu melambat.

